Sabtu, 12Oktober 2013, 10:00 Wib
Ada sesuatu yang aneh di balik celana dalamku. Ada apa? Rasa penasaran membuatku ingin segera ke kamar mandi. Ternyata ada gumpalan bening menyerupai agar-agar, kental. "Ibuuukkkk...!!!", teriakku. Tergopoh-gopoh Ibuku menghampiri ke kamar mandi. "Ya Allah, itu mungkin air ketuban!" Pak, bawa ker rumah sakit saja!".
Sabtu, 12 Oktober 2013, 13:00 Wib
"Masih pembukaan satu Mbak. Tapi memang harus opname", ujar bidan yang memeriksaku setiba dirumah sakit. Tanpa banyak tanya, aku segera menurut saat didorong di atas kursi roda menuju ruang bersalin. "Dokternya baru datang jam 3. Diinfus dulu ya Mbak", aku menurut, lagi.
Sabtu, 12 Oktober 2013, 15:00 Wib
"Masih satu Mbak!". "Tapi airnya merembes terus Dok!", jawabku cepat. "Mau dirangsang? Biar anaknya cepat keluar", tawarnya. "Boleh!", jawabku cepat, lagi. Kenapa aku begitu cepat menjawab? Karena Bapak pesan , 'nurut aja apa kata dokter atau bidannya. Semua yang terbaik demi Mbak tentunya'.
"Saya masukin perangsangnya ya Mbak?", senyum ramah bidan kala itu menentramkan. "Boleh. Tapi sakit gak Sus?", tanyaku. Tak ada jawaban, cuma senyuman saja dari bidan cantik.
Beberapa menit berlalu, tak ada reaksi. "Kok gak ada reaksinya Mbak? Emang gak sakit ya?", tanyaku, lagi. Jawaban yang kuterima hanya senyuman, lagi. Oke, aku sabaaarrr!!!
Sabtu, 12 Oktober 2013, 16:00 Wib
Ada sesuatu yang aneh di bagian pinggul. Semacam nyeri atau apa ya, aku sulit menjelaskan. Tapi bisa dikategorikan sebagai 'sakit'. Semakin kesini, semakin nyeri. Masih bisa ditahan memang. Menuju ke arah jarum jam berikutnya, aku merasakan nyeri hebat di bagian pinggul menuju -maaf- anus. Luar biasa! Sakit ini seperti mulas dan dipukul pakai martil. Kugigit bibir, masih bisa kutahan. Setelahnya aku merasa lelap dan seperti mimpi.
Sampai pukul lima sore, bidan mengatakan, "Masih buka tiga. Sabar ya Mbak!". "Sakit..", jawabku merintih.
Sabtu, 12 Oktober 2013, 19:00 Wib
Nyeri semakin hebat! Setelahnya, kantuk juga semakin merayap. Nyeeeng....., nyeri itu datang lagi! "Sabar, memang gitu orang mau melahirkan!", Ibuku setia menemani. Aku tidak tahan. Pengen pindah menghadap timur, jongkok, balik ke barat, duduk, miring kiri, balik kanan, njenthit, tiduran lagi! Ibu dengan sabarnya mengikuti arah tanganku yang diinfus. Ada keinginan lebih baik caesar saja! Masih bukaan limaaaaa...ooohh!
Sabtu, 12 Oktober 2013, 20:30 Wib
"Buka enam-tujuh Mbak!". Ooh, masih belum sepuluh. Kapan Ya Allahhh...??? Nyerinya luar biasaaaa!!!
"Mbak...ayoo..saya sudah gak kuaaaattt!!!", teriakku. "Kalau belum terlalu mulas, sabar dulu Mbak. Tarik nafas panjang!". Ah..nasihat yang sudah kudengar berulang-ulang sejak aku bukaan tiga tadi. "Sekarang aja Mbak.....!!!!", teriakku, lagi. Setelahnya kulihat beberapa bidan yang bertugas mulai melakukan persiapan.
"Oke Mbak, kita mulai. Kalau mulas, baru mengejan diawali tarik nafas melalui hidung dibuang melalui mulut!", arahan pertama.
"Ayo Mbak, keluarkan tenaganya!", arahan kedua.
"Semangat Mbak!", arahan dari bidan lain.
"Ayo mengejan Mbak, kasian anaknya!".
"Itu sudah kelihatan rambutnya!". Huft..huft..huft.. Aku sudah tidak kuat. Tidak ada rasa kalau akan keluar jabang bayi dari jalan lahirku.
"Ayo Mbak saya bantu dorong!", didorongnya perutku dari samping. "Yang kuat Mbak! Kasian bayinya!".Ah, dikiranya hanya seperti meludah saja. Kalian tidak kasian aku yang sudah kehabisan tenaga ini, pekikku dalam hati yang tak bisa keluar dari mulut.
"Ayo Mbak, kepalanya terlihat!". Serta merta kulihat ada bidan lain naik ke kasurku dan langsung mendorong perutku. "Ayoooo,,aku mulas!", teriakku tak kalah semangat.
Setelah perjuangan panjang, akhirnya... Aaargghhhh.....!!!!
Sabtu, 12 Oktober 2013, 22:05 Wib
Bbrrullll,, keluar sesuatu dari jalan lahirku. Anakku! Ya Allah, akhirnya! Seneng, capek, terharu, letih, bangga, lemas, semua ngumpul jadi satu. Tapi...kudengar Ibukku berteriak 'Ya Allah, ayo bangun Dek! Nangis Dek! Nafas Dek!'. Ada apa ini? Apa yang terjadi? kusempatkan melongok di sela pahaku. Ya Allah anakku biru, pucat. Ditepuk kaki dan pantatnya berulang-ulang oleh bidan secara bergantian dibantu oleh Ibukku yang terus menangis. Adikku yang menemani persalinanku juga tak kalah banyak mengeluarkan air mata. Tuhaaan...ada apa ini? Hanya aku yang terlihat tidak panik, tapi pahaku bergetar. Mata kering dan tidak ada sisa untuk sedih apalagi menangis. Aku lupa semua doa, yang kuingat hanya 'Ya Allah, kenapa?'.
Bidan memasukkan dua selang ke mulut anakku, memasukkan selang oksigen ke hidungnya. Semua berdoa, berwajah cemas, dan khawatir. Hanya aku yang kaku, masih dengan paha bergetar!
Beberapa menit kemudian terdengar bunyi 'huuek' dilanjutkan dengan percakapan, "Kok keluar darah Mbak?", "Iya Buk, darahnya harus keluar", dan 'hhhooooaaa,,hmm..hmm..hoooeeekkkk', suara tangisan Ya Allah. Legaaa, menyelimuti semua wajah yang berada di ruangan itu. Tak ada lagi tegang.
"Harus diobservasi dokter dulu Mbak. Adzannya nanti dulu ya!", senyum bidan yang lagi-lagi menyejukkan.
Selang sekitar sepuluh menit kemudian, muncul dokter dan bidan menggendong bayi laki-laki ganteng, sehat, dan luar biasa dari ruang observasi.
Ya Allah, anugerah itu ada! Dari segala bentuk perjuanganku, kesabaran Ibukku, ketabahan Ayahku, tangisan Adikku, doa suamiku, kekhawatiran mertuaku, tidak peduli duapuluh jahitan, infus dua ampul, maka lahirlah Si Coy!
Lof My Athaya Davana Vigili
Rabu, 09 April 2014
Kamis, 27 Maret 2014
4 Tan Malaka
Bulan Mei 2014 nanti, genap 1 (satu) tahun saya mengajar di SDS Harapan Sejahtera. Awalnya saya mengajar SBK sembari menunggu tahun ajaran baru. Nah, per Juli tahun kemarin saya mengajar kelas 4 Tan Malaka. Siswanya tergolong anak yang bisa diatur. Walaupun ada beberapa yang butuh perhatian ekstra dari saya. Tapi kalau dibandingkan dengan kelas 4 lainnya, anak-anak saya ini termasuk level normal.
Waktu saya cuti melahirkan tahun lalu, ada rasa berat untuk meninggalkan mereka. Tapi saya percaya kalau mereka akan baik-baik saja bersama guru sementara. Benar saja, pas saya cuti ada tiga diantara mereka menelpon saya, kangen katanya. Hihihi, anak kelas 4 sudah mulai merasa kehilangan induknya.
Setelah saya masuk, ada kejutan yang mereka berikan kepada saya. Mereka sudah menunggu saya dan saya dipaksa masuk kelas. Aroma kelas yang saya tinggalkan beberapa bulan lalu masih lekat dan sama. Saya disuruh membuka papan tulis yang ditutup tirai. Ah,,,ada tulisan "Selamat Datang Bu Vika Di Kelas 4 TM". Haruuuuu,,anak-anak saya luar biasa!
Di kelas, kadang-kadang saya marah-marah karena mereka pernah sekali dua kali membuat kacau. Dari yang tidak bisa diam, tidak paham kalau dijelaskan pelajaran, ribet, buat kotor kelas dan lainnya. Tapi setelahnya saya pasti menyesal kalau habis marah-marah ke mereka. Saya merasa kalau saya ini terlalu jahat dan tidak bisa menjadi contoh yang baik.
Tapi saya sebisa mungkin berusaha dekat dengan mereka. Saya mempunyai beberapa panggilan sayang ke mereka. Saya kasih guyonan mereka, saya traktir kalau pas saya ada uang, saya poto bersama mereka, memberikan semangat saat ada kompetisi, membela mereka kalau diganggu kelas lain, saya buat permainan saat pembelajaran dan sebisa mungkin tidak marah -lebih tepatnya menahan marah- ke mereka.
Well, menjelang kenaikan kelas bulan Juli mendatang, ada perasaan berat di hati. Saya berat melepas mereka. Bukan karena saya tidak mau mereka naik kelas. Tapi saya merasa belum maksimal memberikan ilmu saya ke mereka. Saya merasa masih belum mampu menjadi guru yang baik. Ditengah keterbatasan saya, yang saya berikan kepada mereka selalu terselip kesalahan dan kekurangan.
4 Tan Malaka.....Agus, Arul, Ali, Arif, Bajoe, Anjor, Dwi, Emil, Fahma, Fendi, Ika, Lupi, Afid (pindah ke Jawa), Alan Gajah, Maya, Udin Kebo, Randika (pindah ke Kumpai Batu Atas), Resti, Rosimen, Kucing, Sephia, Siti, Sunarti (pindah ke Desa), Ipul, Amel, Wahyu, Wanda, Wili, Doni (pindah kelas 4 Wachid Hasyim), Kharisun, Juminten, Sawidi (saya bertemu cuma 3 kali)....apa pun kalian, siapa pun kalian, sampai kapan pun akan tetap ada! Maafkan kalau Ibu belum bisa menjadi guru yang baik. Maaf kalau selama ini banyak marah. Maaf kalau ilmu yang Ibu berikan masih kurang.
Semoga kalian menjadi manusia yang bermanfaat sukses dan tetap apa adanya! Walaupun menjadi sesuatu, ingat, tetaplah menginjak bumi!
Salam Manis, Bu Vika yang cantik! :)
Jumat, 10 Januari 2014
Baby Blues ???
Ternyata Ada Sisa Ketakutan
Hay… saya kembali datang dengan
membawa perkembangan terbaru tentang si Coy! Memasuki usia tiga bulan, dia
sedang asyik-asyiknya bermain ludah sembari menautkan jemarinya. Disemburnya
ludah sampai membuat gelembung yang memenuhi bibir atasnya. Maklum, bibir
atasnya seksi. Hehehe…
Sebelumnya, ada kejutan lain. Di
usia dua bulan, Coy sudah sudah ingin miring membalik tubuhnya. Sayang bokong
dan kakinya belum mendukung gerakan kepala dan badan yang hampir sembilan puluh
derajat.
Beberapa hari terakhir, Coy
sering –maaf- buang air besar. Tiap buang angin, selalu ada ampas yang ikut
keluar. Bikin khawatir saya dan suami. Kami berinisiatif kalau sampai BAB lebih
dari tiga atau empat kali, akan dibuatkan parutan daun jambu. Ternyata sampai
dua hari yang lalu, terus saja keluar ampas dan akhirnya menjelang malam kami
minumi air parutan daun jambu ditambah gula sedikit. Alhamdulillah sampai
tengah malam agak baikkan. Tapi….besoknyaaa….si Coy seharian tidak BAB!!!
Khawatirlah kita. Sepasang orang tua muda yang belum mengerti apa-apa mencoba
mencari solusi demi kebaikan putranya. Tapi akhirnya malah membuat anak kami
tidak BAB seharian. Ah..kacau!
Itu sekedar alternatif kami dalam
menjalani sebuah perjalanan keluarga kecil disamping kami juga harus berbagi
peran dalam berbagai hal. Mulai ganti popok, pasang gurita, pilih baju dan kaos
kaki, sampai bagaimana caranya mengatur waktu kapan saya masak, kapan kami
makan, bilamana kami bergantian mandi, siapa yang menata kasur, apa yang kami lakukan
saat dia nangis ngantuk, siapa yang buatin susu saat dia nangis lapar, kamar
mana yang akan kami tempati untuk tidur nanti malam dan sebagainya.
Pernak-pernik yang kami alami
tidak serta merta sampai disini. Sebelumnya, saat si Coy masih bayi merah
banyak kebelumsiapan yang kami alami, terutama saya. Saya belum siap begadang,
belum siap punya badan melar, belum siap bangun malam, belum siap kalau dia
nangis, belum siap cepat-cepat mandi-karena saya mandinya lama sekali, belum
siap makan terburu-buru, belum siap cekatan untuk gantiin popok, belum siap
untuk seret pegangin saat Coy mandi, dan belum siap endesbre-endesbre lainnya.
Tapi itulah, dari belum siap
akhirnya kami belajar untuk siap bahkan siaga. Jadi sebelum ada kejadian yang
berkaitan dengan segala hal tentang si Coy, kami sudah jaga-jaga. Tapi
sebenarnya kami masih takut kalau apa yang kami lakukan itu salah. Kami takut
kalau solusi yang kami jalani ternyata keliru. Kami takut kalau alternatif yang
kami berikan ternyata tidak benar. Kami takut kalau yang kami suguhkan ternyata
berdampak buruk bagi si Coy nanti. Kami takut kalau kami tidak bisa menjadi
orang tua yang baik. Kami takut ini, takut itu, takut sana, takut sini, dan
takut lainnya.
Inilah kami, orang tua baru yang
tengah menikmati setiap tahap perkembangan si Coy-walau kami harus meninggalkan
dia bersama Budhe selama kami bekerja- tapi minimal kami selalu berusaha ada
untuk si Coy. Semoga perjuangan kami ini membawa manfaat untuk si Coy
kedepannya. Mungkin beberapa pasangan muda pernah mengalami atau tengah
menjalani segala kebelumsiapan yang berkaitan dengan si kecil. Tapi yakinlah,
kalau kita melakukan dengan hati, si kecil juga akan merasakan energi positif
dari kita. Selamat berusaha untuk menjadi orang tua yang kompak, serempak, dan
bahagia bersama si kecil.
Rabu, 19 September 2012
Setelah,Setelah,dan Setelah!
“Aku gak iso lak putus karo dhek’e. Aku wes janji bakal setia, padahal wong tuwoku yo ra setuju. Aku asline ora oleh restu lho!”
Ini pertemuan saya dengan teman lama. Saya dengan cermat mendengarkan ceritanya dengan heran. Mengapa saya heran? Karena mereka pacaran sudah cukup lama dan saya tahu sekali perbedaan mereka. Tetapi kenapa baru sekarang sadar? Itu saja yang membuat saya mengerutkan kening.
“Trus, kamu bakal lanjut?” tanya saya kala itu.
*
“Aku wes putus. Doakan aku, semoga dapat yg lebih baik!Tengs, Fuk…!”
Bunyi sms yang saya terima dari teman saya. Lega! Itu yang saya rasakan. Karena saya tahu, begitu tersiksanya teman saya itu saat terjadi konflik bathin dan harus bersikap wajar di depan khalayak.
*
“Opo sek ono arek sing gelem karo aku yo?” tanyanya pas kita ketemu lagi.
“Yo ono lah!” Saya dengan cueknya menjawab.
“Tapi koen ngerti kan Fuk, aku iki koyok piye?”
“Ngerti."
“Aku gak yakin iso bahagia koyok liyane!”
“Berdoa ae, pasti oleh kok!Tuhan selalu memberikan yang terbaik, Santai ae fuk!” Saya mengakhiri pembicaraan edisi curhat kita kala itu.
*
Curhat galau masih terus berlangsung pada saat dia dekat (lagi) dengan beberapa orang, yang nyatanya berujung pada keadaan yang bikin nyesek buat dia. Saya ikut prihatin tapi terus mencoba membuat dia keep fight. Artinya, saya tidak mau membuat teman saya itu merasa menjadi orang yang paling sial di dunia. Walau saya tidak bisa memberikan solusi, minimal saya ada untuk mendengarkan dia.
Setelah lama tidak bertemu, saya dapat kabar kalau dia sudah menemukan tambatan hati yang cocok dan pas buat dia. Alhamdulillah! Lega lagi rasanya! Saya ikut merasakan bagaimana teman saya itu sedang masa terkenyong-kenyong dengan keadaanya saat ini! Proud of you darl…!
**
Memang benar, apa yang akan terjadi besok, nanti, satu jam lagi, satu menit kemudian, dan satu detik setelah ini, tidak akan ada yang tahu. Masa lalu adalah sejarah, dan lagi-lagi itu benar. Kata banyak orang (dan ini termasuk wejangan yang kita terima dalam kepercayaan dan keyakinan apa pun), bahwa hidup, rezeki, jodoh, dan mati itu adalah urusan Tuhan dan kita tidak pernah tahu.
Seperti yang dirasakan teman saya itu (dan mungkin sebagian besar orang). Saat bicara tentang hidup, dia sudah melalui proses sedemikian rupa. Melalui proses wajar, normal, dan apa adanya sama seperti lainnya. Pada saat berbicara tentang rezeki, dia (dan kita semua) patut bersyukur kepada Tuhan karena memang dia sudah melalui tahap yang cukup dan harus disyukuri. Bicara tentang jodoh dan mati, dia (dan kita) memang harus memasrahkan diri dengan segala kerendahan hati kepadaNya.
Temans, teman saya ini adalah seseorang yang hebat dan luar biasa dalam menyikapi hidup. Pernah terjatuh, terguling, merangkak, bangkit, terbentur, putus asa, ingin mati, mati, dan mati saja. Tapi dia luar biasa temans!
Setelah ditempa dengan segala permasalahan pelik, ditipu oleh segala bentuk pria, menjajaki beberapa karakter lelaki, berjibaku dengan segala konflik dan sempat tidak percaya dengan kaum adam, akhirnya sekarang dia bangkit!
Perjalanan panjang yang dia lalui dan cukup menyita banyak waktu dengan percuma, menaruh kepercayaan pada sebuah hubungan yang tidak jelas alur dan endingnya, mencoba bertahan dengan keadaan yang membohongi diri sendiri, dan berusaha menampakkan keadaan sewajar mungkin, ternyata tidak berlangsung lama dan mengharuskan dia untuk kembali ke bumi, menginjak tanah. Dia bisa buktikan itu!
Setelah, setelah, dan setelah melalui berbagai tahap, proses, dan alur yang luar biasa, sekarang dia sudah menemukan sosok yang bisa membawa dia tetap berada di bumi. Tidak lagi mengawang, melayang, atau terbang. Semua wajar!
Teman yang istimewa, semoga ini pilihan terakhir dan kamu akan bisa memulai, melalui, dan mengakhiri (?) segala proses ini dengan sewajar-wajarnya!
Tulisan ini saya dedikasikan untuk teman (teman-teman) yang sudah menemukan Mr. Right-nya!:)
Rabu, 08 Agustus 2012
Kang Mas Tuxedo Bertopeng featuring Sailor Mercury KW Abal-abal
Kang Mas Tuxedo Bertopeng featuring Sailor Mercury KW Abal-abal
Apa jadinya kalau kita terpesona pada orang yang tidak pernah kita tahu bentuk wajahnya? Tapi dia udah buat kita jadi susah tidur, gregetan pengen cepet malem dan pengen denger suaranya lagi, salting sendiri pas hape bergetar dan berharap dia yang telepon atau sms, semua lagu seolah mewakili perasaan dan penyanyinya seakan memang sengaja menyanyikan lagu cinta khusus untuk kita, dan beberapa bentuk ketidakberesan tingkah laku orang pada saat jatuh cinta –no, just terpesona!- lainnya.
Kalau kamu belum pernah merasakan hal itu, mari aku bagikan rasa membuncah kasmaran terpesona terkenyong-kenyong itu pada kalian. Karena aku sudah -sedang- merasakannya!
Berawal dari situs jejaring sosial, facebook, kita ketemu karena ternyata dia adalah saudara dari teman kantorku. Padahal, dia juga dulunya kuliah di tempat yang sama tapi beda jurusan dengan aku. Wisuda juga pada periode yang sama. Tapi anehnya, selama dia menghabiskan waktu kurang lebih lima tahun kuliah, kita tidak pernah sekalipun bertemu.
Bahkan parahnya, dia juga sering main ke kantor sekedar jemput atau nganter temenku ngantor! Aneh bukan? Memang aneh, seaneh perasaanku sekarang. Jatuh cinta (yeeahh! Simpati deh rasanya ciinn!) untuk kesekian kali, salahkah? Kata temanku, sah saja asal dengan orang yang sama. Tapi apa jadinya kalau jatuh cinta pada new comer? Nah, ini juga yang membuat dilema karena memang semuanya datang disaat yang tidak tepat. Terlalu terlambat memang! Karena hati kita sudah dikavling orang lain.
Tapi kadang ragu juga, apakah ini murni jatuh cinta (terpesona beibeh!) atau sekedar kagum -karena kita berdua sering dilanda penyakit galau-. :)
Terlalu cepat untuk men-judge kalau ini cinta atau sebuah rasa simpati saja? Berarti pertanyaan dan pernyataan diawal tadi perlu diralat dan diklarifikasi kebenarannya! :D
Menghabiskan tengah malam dengan candaan khas remaja -padahal umur kita sudah diambang batas menuju hari tua dan segera meninggalkan masa remaja-. Ngobrol kesana-kemari tentang banyak hal. Mulai diskusi serius tentang novel, guyon yang gak jelas ujungnya, curhat masa lampau, sampai cerita tentang masa kejayaan saat kuliah dan periode keemasan pada saat kita -ternyata- merupakan penggemar serial kartun Sailormoon.
Dia yang mengidolakan Tuxedo Bertopeng a.k.a Mamoru dan aku dengan bangganya lebih memilih menjadi Sailor Mercury a.k.a Ami Mitshuno. Pasti kalian heran, mengerutkan kening, alis, hidung, bulu mata, dsb... dan berakhir dengan pertanyaan, "kok gak milih jadi Sailormoon-nya? Kan pasangan Mamoru itu Usagi Tsukino?".
Aku kurang begitu suka dengan Usagi yang cengeng dan hanya bisa kedip-kedipin mata aja tiap ada Mamoru dan berubah menjadi tolol super duper pada saat diajak ngobrol Mamoru. Aku tidak ingin seperti itu. Aku ingin menjadi sosok dewasa yang tenang dan menghanyutkan pada saat marah seperti air -kekuatan dari sailor Mercury-.
Endingnya, aku malah suka menyebutnya sebagai Tuxedo bertopeng. Walau sebenarnya aku juga tidak pernah tahu apakah dia kerap mengenakan jubah hitam dan memakai topeng pas di kantor.
Jika dilakukan tes tingkat ke-akurat-an model perhitungan statistik macam apa pun dan bila dihitung menggunakan sempoa atau kalkulator tercanggih, hasilnya akan NOL BESAR kalau ia akan memakai jubah kebesaran Mamoru! Ho diterima Ha ditolak! Ketidakmungkinan diterima, pemakaian jubah ditolak!
Back to Tuxedo Bertopeng ala pribumi! Aku merasa nyaman ngorol apa pun dengan dia, tanpa harus menjadi orang lain yang sok jaim dan mencoba mengatur tenggorokan sedemikain rupa demi menghasilkan nada suara yang merdu! Tidak beibeh! Bukan aku banget! Begitu membahagiakan bukan kalau kita bisa menjadi our self dan bertemu dengan orang yang nyambung dengan topik yang akan kita bahas?
Aku bebas mengeluarkan suara cempreng pas teriak dan suara kodok pas serius. Sampai kadang suara menjadi bernada tidak jelas akibat timbul tenggelam, karena memang kita ngobrolnya cuma lewat telepon dan kita mau tidak mau harus tunduk pada kekuatan sinyal dan harus sesering mungkin mengubah posisi kita pas teleponan.
Capek dengan posisi telentang, aku merubahnya menjadi posisi miring. Capek miring, sekarang beralih ke duduk tegak. Bosan tegak, bantal lapis tiga dibuat sandaran. Bantal melorot, punggung kembali mengambil alih peran posisi yang lainnya -telentang lagi, miring lagi, duduk lagi, tegak lagi, dan capek –tapi asyik!-.:D Hal ini dilakukan karena hanya ingin mencapai PW -posisi wuuenak- tingkat ubun-ubun.
Back to perasaan yang aneh ini! Apakah ini selingkuh? Menurut sebuah situs yang di dalamnya juga membahas tentang 'perasaan', dikatakan bahwa -aku menangkapnya kurang lebih seperti ini- "selingkuh, tidak harus melakukan hubungan fisik. Membagi cerita yang membuat kita jadi berbunga-bunga juga merupakan tindakan perselingkuhan. Hal ini dikarenakan ada sebuah bentuk penghianatan terhadap pasangan". Hubungan fisik? Penghianatan? Wow, terdengar begitu menyeramkan pemirsa! Padahal, membagi cerita dengan orang lain dengan perasaan berbunga-bunga sebenarnya --lagi-lagi menurutku-- hal yang wajar saja. Bisa jadi pacar kita tidak terlalu ‘ngeh atau kurang paham tentang Sailormoon dsb, dll, dst kan? Jadi apa salah kalau kita membahas topik tertentu dengan orang tertentu juga? Toh, selama kita ngobro juga tidak ada kata 'cinta','sayang','beibeh',’honey’,’sweety’ atau nickname of love lainnya. Apalagi bicara tentang masa depan, next or future? Tidak sampai sejauh itu kawan!
Kita biasa saja, bahkan saling menghormati satu sama lain. Aku merasa kalau mungkin aku lebih cocok dijadikan teman dibanding pacar, apalagi dia sempat bilang, "kamu itu rame, lucu juga!". Ya memang, karena setiap kali ngobrol, aku yang mendominasi! :D Dia hanya urun atau numpang 'Ehm, owh, iya, he-eh, hehehe', atau kadang dia menyelipkan 'Huuatssiii' -tanda bersin, atau 'uhuuk grreeekk' -tanda batuk yang agak menyiksa tenggorokan, atau kadang juga ada suara 'hhhuft' -mungkin ini mendesah ya?-.
Nah, sekarang aku mau melanjutkan membayangkan wajah pacarku yang melekat di hati dan kemudian dikomparasikan dengan wajahnya yang nempel di pikiran . Bebas kan? Karena mimpi, melamun, dan membayangkan sesuatu adalah hak asasi kita, selama tidak menganggu kepentingan orang lain. Menurut kalian?
:)
Apatis
Baik, mungkin kalian akan pusing dengan keluhan-keluhan ini. Tapi ada baiknya kalau kalian dengarkan penjelasanku terlebih dahulu! Tapi aku ingin teriak dulu ya! Boleh kan? Kalian harus jawab BOLEH. Baik, satu…dua…tiga…AAARRKKKKGGGGGGHHHHH!!!! Huft, oke aku mula cerita!
Kalau kalian bicara tentang cinta, pacaran, atau pernikahan, baik…aku akan tutup kuping dengan segera! Kalian tahu, tingkat kepercayaanku terhadap tiga kata itu sudah berada pada titik terendah, nol derajat celcius –atau bahkan sudah melewati, minus!-. Kalian pasti bertanya, sebegitu bencikah aku terhadap ketiganya? Aku jawab, -untuk saat ini- IYA.
Sebelumnya, aku akan bertanya terlebih dulu pada kalian. Bagaimana perasaan kalian, jika pacarmu, kekasihmu, tunanganmu, atau calon istrimu yang berada di luar kota, ternyata membagi hati dengan orang lain? Berarti aku 50, lelaki itu juga dapat 50 kan? Impas! Tapi kalau dibagi untuk tiga orang? Masing-masing mendapatkan 1/3 bagian. Jatah tiap orang semakin sedikit. Berarti porsiku juga menipis. Betul kan? Kemudian aku tanya lagi, apa yang akan kalian lakukan untuk mengatasinya? Menghabisi lelaki itu, menampar pacarmu, atau tinggalkan saja semua? &^%$@#$()*/
Baik, mungkin kesalahan bukan murni dari pacarku, kekasihku, tunanganku, atau calon istriku –sehingga dia memutuskan untuk membagi hati-. Aku juga turut andil terhadap ‘ulah’ pacarku, kekasihku, tunanganku, atau calon istriku itu. Aku akui kalau kami memang jarang berbagi karena terpisah jarak. Selain itu, aku juga bukan tipe pria romantis (aku tidak bisa menulis puisi seperti Khalil Gibran, tidak pernah berlutut memberi bunga, mengatakan ‘I love u’ setiap saat, atau merayu ala Shah Rukh Khan dalam film Indianya!). Aku adalah jenis pria yang termasuk dalam komunitas pria cuek.
Tapi tolonglah pacarku, kekasihku, tunanganku, atau calon istriku, aku sebenarnya bisa menunjukkan dan membuktikan kalau hubungan kita baik-baik saja, tetapi dengan cara yang berbeda. Caranya adalah, aku tidak membagi hati ini dengan wanita lain. Tapi pacarku, kekasihku, tunanganku, atau calon istriku, ternyata kamu memiliki prinsip yang berbeda. Menurutku, kamu berprinsip “Kalau kamu cuek, jangan salahkan aku kalau aku lebih suka mencari perhatian orang lain”.
Tapi itu semua tidak perlu dibahas lagi pacarku, kekasihku, tunanganku, atau calon istriku. Sekarang kita sudah berpisah. Kamu tahu, apa yang aku lakukan setelahnya? Merokok berpak-pak, ternyata belum bisa mengurangi stress ini. Aku coba yang sedikit lebih berat. Aku habiskan berbotol-botol minuman keras, dari mulai harga yang sedikit mahal, standar, sampai oplosan (yang ternyata rasanya seperti rendaman bangkai, cuuih!). Cara ini ternyata belum sepenuhnya ampuh. Selanjutnya aku memilih untuk menghabiskan waktuku berteman dengan beberapa pil, obat, serbuk, dan jarum suntik. Aku juga kerap menyimpan beberapa helai daun di dompet. Takut sewaktu-waktu kalau lagi butuh!
Coba kalian beri solusi, pantaskah kalau mengalihkan rasa stress dengan hal seperti itu? Pasti kalian akan serempak menjawab TIDAK. Iya kan? Menurut kalian aku harus lari kemana? Pasti kalian juga serempak –lagi- akan menjawab TUHAN. Iya kan?
Wah,,,jangan bicara tentang Tuhan! Aku takut –eh, lebih tepatnya malu-. Aku belum pernah mencoba dekat dengan-Nya. Coba kalian pikir, bagaimana mungkin kalau aku mendekati Dia, pada saat aku lagi stress? Doa apa yang harus aku rapalkan? Menjalankan lima waktu saja nol. Seminggu sekali beribadah, kalau ingat dan sempat. Setahun sekali pun, kebetulan menghormati lingkungan sekitar pas lebaran. Nah, betapa menjijikkannya aku, kalau aku dengan PD-nya menghadap Dia saat keadaan kacau begini. Aku malu!
Sampai suatu saat aku mencoba bangkit. Kata anak gaul zaman sekarang move on –eh, bener kan tulisannya?-. Tapi aku pakai Bahasa Indonesia saja, pakai bahasa asing malah berantakan jadinya, hehe. Baik, aku lanjutkan! Aku mencoba berpacaran lagi, setelah terpuruk. Nah, tahukan kalian, pacarku yang sekarang BERJILBAB! Bayangain men, preman dapat muslimah! Namanya juga rezeki, iya kan? Setelah berjalan beberapa waktu, endingnya putus lagi! Orang tuanya kagak setuju men! Ya jelaslah, anaknya beriman, malah dapat cowok bedigasan!
Karena banyak teman yang kasihan melihat aku yang semakin amburadul, mereka berlomba-lomba mencarikan tambatan hati yang baru buat aku. Mulai mempromosikan adiknya, saudaranya, sepupunya, adik tingkatnya, tetangganya, teman sekolahnya, teman kantornya sampai ada yang nawarin mantan pacarnya! Busyet! Mereka melakukan ini semua, pastinya telah memastikan bahwa keadaanku sudah pulih dan steril dari minuman keras, obat-obatan, serta barang haram lainnya. Alhamdulillah, aku sudah mulai ingat Tuhan dan dengan rasa malu yang mendaging menyumsum pada saat menghadapNya!
Sekarang temans, aku hanya minta doa dari kalian. Biarkan aku memilih untuk sendiri dulu. Karena menurutku, untuk saat ini, hal itu merupakan pilihan yang terbaik. Sebelum aku berkarat kemudian membusuk, biarkan aku menikmati masa jombloku! Terimakasih temans, kalian sudah meluangkan waktu mendengar curhatanku! Memang terkesan alay bin lebay, tapi preman juga manusia kan? :)
*Tulisan ini saya dedikasikan kepada teman saya yang Apatis
Phy
Kamis, 21 Juni 2012
Mengenal "dia" dari hati
Saya menulis ini, beberapa saat setelah saya menerima kabar/sms dari teman lama. Orang yang kadang tidak pernah terpikir sebelumnya akan datang kembali, sekarang muncul lagi. Ternyata, orang yang pernah menjadi teman atau yang mewarnai hidup kita, tidak akan lepas atau hilang begitu saja ya? Saya baru sadar setelah beberapa kali sharing dengan teman kantor saya, Umy Masita. Dia juga kadang-kadang bercerita tentang teman masa lalunya yang sekarang muncul lagi, bukan membawa kenangan, justru yang ada malah membawa masalah baru.
Ada yang minta dibantuin CLBK dengan teman SMAnya dulu lah, ada yang ternyata mantan teman kantornya ternyata berselingkuh dengan suami teman SMAnya lah, ada yang menjadikan warungnya sebagai tempat kencan teman lama lah, bahkan dia sering sekali disamperin oleh manusia pengganggu masa lalunya. Tapi, saya menanggapi dan menyarankan bahwa apa pun yang "mereka" lakukan, kita harus biasa saja. Dalam artian, mereka datang dengan berbagai masalah dan kita tidak layak untuk turut andil masuk dalam masalah itu. Namun dilema juga, dibantu malah dosa, gak dibantu ya ada embel-embel "temen". Susah kan?
Orang lama yang datang kembali ke kita, menurut saya ada 2 hal yang mempengaruhi. Pertama, dalam keadaan suka/bahagia mereka tanya kabar ke kita karena kangen ke kita. Hal ini wajar, apalagi sudah lama tidak bertemu atau bisa kita beri gelar TLBK (Teman Lama Bersemi Kembali). Kedua, dalam keadaan ruwet/kacau/balau/duka/nelangsa mereka datang karena merasa ada perlu (Awalnya basa-basi, endingya malah ada butuhnya), dan hanya kita yang bisa membantu atau bisa diberi gelar WSIK (Waktu Susah Ingat Kita). Boleh bangga dong kalau kita dianggap sebagai manusia berpredikat problem solving, tetapi kalau buntutnya malah bikin repot, rasa bangga itu akan menguap.
Nah, ternyata kita harus mengenal seseorang itu dengan hati kita dan kita juga sebisa mungkin melihat hati mereka. Kita bisa melihat mereka dari gelagat, body-language, gesture, dan bahasa lisan atau tulisan lain yang mereka sampaikan. Berteman tulus atau tidak dengan kita, karena ternyata, orang lama yang hadir kembali itu, tidak selalu membawa efek positif, tapi (menurut saya) justru bisa jadi membawa dampak yang membuat kita dilema.
Langganan:
Postingan (Atom)





