Kamis, 19 November 2015

Karena Cinta Nggak Ada Di Piring (New Version)



Karena Cinta Nggak Ada Di Piring
"Umur berapa Mbak?", "Kapan nyusul nih?", "Calonnya orang mana?", "Target umur berapa nikahnya?", "Pacaran udah lama, gak takut karatan nih?", "2012, keburu kiamat lho!", dan masih banyak lagi pertanyaan dan pernyataan lain tentang MENIKAH!
Sebenarnya saya agak risih dengan pertanyaan yang itu-itu saja. Maklum,saya tinggal di kampung. Sebagian perempuan muda, saya sudah dianggap tua, sudah menikah. Bahkan sejak baru lulus SD. Beberap teman SD saya saja rata-rata sudah memiliki dua anak, bahkan ada yang sudah sekolah Taman Kanan-Kanak. Ah, saya benar-benar ‘tertinggal’.
Ya, saya sudah 25 tahun, nyusul nanti kalau sudah waktunya, calon saya sementara orang Lumajang, target umur 25 ini, gak kok -kami selalu merefresh hubungan kami-, 2012 belum tentu kiamat! Itu jawaban saya yang disertai nada jengkel, wajah merengut tapi diakali dengan nada guyon. Walau saya tersenyum saat menjawab pertanyaan itu, namun saya juga merasa ada yang sakit di dalam hati saya. Jelas saya merasa kalah pamor atau bisa dibilang kurang laku di pasaran. Sebab, diumur yang sudah kepala dua, saya masih ‘terlihat’ enjoy dengan kesendirian.
Saya juga ingin menikah!!! Menikah kan memang sunnah (bisa wajib juga!), karena saya juga ingin melihat bagaimana bentuk rupa dan wajah cucu dari orang tua saya dan (calon) mertua saya. Tetapi saya tidak serta - merta memutuskan menikah dengan hanya mengedipkan mata dan langsung cling saya menikah! Banyak yang harus saya siapkan, pikirkan, dan hadapi. Gemas juga kalau terus-terusan mikirin kata orang. Tapi apa mau dikata, omongan itu terdengar juga.
Persiapan mental dan ekonomi menjadi alasan pertama yang harus membuat saya menunda (belum terpikirkan) untuk menikah. Saya (dan pacar saya) harus punya persiapan finansial agar sebelum, menikah, dan setelahnya, kami tidak merepotkan orang tua. Mental juga perlu sekali disiapkan agar pada saat sebelum, menikah dan setelahnya kita bisa menjadi lebih bijak dalam menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan relationship.
Saya ambil contoh kecil, tetangga saya menikah sekitar umur 16 tahun. Waktu pacaran mereka nampak bahagia. Si cewek selalu dibelikan baju, ditraktir makan, dan kebutuhan lain terpenuhi. Sampai akhirnya pasangan ini memutuskan menikah muda. Mereka nampak bahagia. Saya tahu itu, karena saya datang di acara pernikahan mereka. Buah hati pun tak lama muncul di kehidupan rumah tangga mereka.
Selang beberapa waktu kemudian, entah karena alasan apa, si cowok berhenti dari pekerjaannya dan sekarang hanya nongkrong bareng teman-teman seusianya. Sering saya lihat, si cowok hanya duduk-duduk di teras sembari merokok dan gossipnya dia suka nyamperin tempat billiard. Padahal pasangan muda ini sudah punya anak yang harus diperhatikan! Ah, kasihan sekali sebenarnya. Bisa jadi karena kurang puas menikmati masa muda, si cowok belum merasa memiliki tanggung jawab ekstra sebagai seorang suami dan sebagai ayah untuk anaknya. Endingnya, si cewek malah curhat ke saya kalau menikah dan punya anak itu ruwet!
Duh, piye iki Mbak, Mas Agus sudah nggak kerja?”. Curhatnya kala itu.
“Trus?”, jawab saya.
“Ya itu, anak juga sudah mulai besar. Harga susu mahal juga Mbak. Ah, pusing!”, gerutunya.
Saya bisa menangkap apa maksud dari pernyataannya itu. Dia bukan menyesali keadaannya yang sudah menikah dan mempunyai anak yang lucu, tetapi dia menyesali keputusannya menikah pada saat ia dan (calon) suaminya dulu belum memiliki pondasi yang kuat untuk membangun sebuah keluarga. Salah satu masalahnya sudah barang tentu berkaitan dengan keadaan ekonomi (masalah uang).
Beberapa saat saya terdiam. Mencoba berpikir dan mencari jawaban yang tepat atas keluhannya. Belum sempat saya menjawab, dia nyambung,
“Ah, tahu gini aku dulu nggak mau nikah Mbak!”. Wajah tetangga saya itu masih nampak kesal. Kontan saja saya kaget dan reflek melotot akan ucapannya. Gimana nggak kaget? Lha wong belum genap dua tahun menikah, dia sudah merasa menyesal.
“Lah kamu kenapa dulu kok mau diajak menikah?”, tanya saya tidak sabar setelah mendengar pernyataan yang mencengangkan dari penyesalan seorang istri yang merasa capek menghadapi kehidupan rumah tangga.
“Lah dulu Mas Agus kan uangnya banyak pas kami pacaran. Gaji bulanan selalu masuk, walau tidak seberapa juga. Maklum, Mas Agus kan buruh Mbak”. Dia terdiam sejenak, menghela napas. Saya masih menunggu kalimat selanjutnya.
“Aku dulu selalu diberi uang saat gajian, beli baju tiap kencan malam mingguan. Sering juga makan di warung gitu Mbak”. Saya masih menunggu gong-nya. Mungkin ada lagi yang akan dia keluhkan. Namun beberapa menit saya tunggu, kami malah saling diam.
“Trus kenapa sekarang kok nggak kerja lagi? Berhenti sendiri?”, tanya saya penasaran.
Perempuan polos berambut keriting di depan saya itu mengangkat bahunya, tanda bingung dan sulit menemukan jawaban.
“Dipecat?”, Tanya saya lagi. Dia menggeleng.
“Lha terus?!”, saya ngotot sekarang.
“Katanya capek. Kerjanya berat!”, jawabnya polos.
Yaelah manusia! Dimana-mana yang namanya kerja itu ya capek. Kalau nggak mau capek ya nggak usah kerja. Saya sempat heran dengan alasan suaminya berhenti kerja. Capek? Kerja berat? Kerja yang ringan itu gimana? Saya hanya geleng-geleng, nggak habis pikir.
“Kamu sebagai istri apa nggak coba ngasih solusi? Misalnya mencoba merayu dia untuk nyari kerja lainnya yang nggak berat gitu?”. Saya sok tahu, mencoba mengusulkan sesuatu yang padahal waktu itu saya juga belum menikah.
“Katanya sih mau merantau saja. Di luar Jawa katanya uangnya lebih gedhe Mbak!”. Percakapan itu berakhir seperti jemuran. Menggantung. Kami terdiam dengan pikiran masing-masing.
Akhirnya, di penghujung 2012 saya menikah. Inilah titik balik kesendirian saya. Apa yang saya pikirkan dengan matang, ternyata sudah menemui titik terang. Saya harus berjibaku dengan kegiatan mengatur keuangan rumah tangga.
Memang benar adanya, saya harus pintar-pintar mengatur hati dan pikiran. Hati. Ya saya yang temperamental masih harus belajar menata hati saat selisih pendapat dengan suami. Pikiran. Saya yang selalu meutuskan sesuatu tanpa pikir panjang, mulai sekarang harus berpikir mengatur ini-itu.
Berat tapi ringan. Ringan tapi berat. Itulah rumah tangga. Sampai suatu ketika, saya kembali mendapatkan teman-teman lama melalui media. Beberapa teman saya dengar kabarnya membahagiakan. Hamil, punya anak, dan memiliki beberapa usaha. Namun tidak sedikit saya mendapati teman saya yang harus berurusan dengan Pengadilan Agama.
Salah satu teman baim saya memutuskan berpisah dengan suaminya setelah dua tahun pernikahan. Amat disayangkan, karena saya adalah tim sukses di pernikahan mereka. Saya ikut bahagia dan terharu saat ijab qabul itu berlangsung. Saya merasa kalau pernikahan mereka sempurna, menurut kacamata awam saya waktu itu. Pesta mewah, banyak tamu yang datang, dan kedua mempelai tertawa bahagia selama acara berlangsung.
Nyatanya, tanpa sepengetahuan saya, teman saya melayangkan gugatan dengan alasan KDRT dan faktor ekonomi.Ah,lagi-lagi masalah klasik. Saya sempat merasa prihatin. Namun saya belum bisa memberi komentar, usulan, atau solusi. Saya masih shock dengan kabar tersebut. Akhirnya saya memutuskan untuk menjadi pendengar yang baik sembari terus menerus menguatkan hati teman saya itu. Masih jelas di ingatan saat dia mencurahkan isi hatinya.
“Bayangkan, dia nggak kerja sama sekali setelah menikah!”. Suara teman saya sedikit parau. Saya lihat, suara itu merupakan kombinasi antara nyesek, jengkel, gemas, dan malu. Saya diam.
“Dibikinin usaha toko, malah habis uang. Modal nggak kembali. Malah barang-barangnya ikut habis”.
“Tabunganku juga ludes!”, lanjutnya dengan nada sedikit tinggi.
“Perasaan dulu dia kerja di leassing kan?”. Akhirnya saya angkat bicara. Teman saya mengangguk.
“Trus?”, tanya saya lagi.
“Ya gitu. Ternyata dia kerjanya nggak serius. Main PS di rental tiap hari. Kalau nggak, ya nongkrong di warung kopi. Atasannya ya nggak mau punya anak buah yang males gitu!”.
“Buat makan aja, kami masih dibantu orang tua lho! Malu juga sebenarnya. Lha wong kami sama-sama sarjana. Setelah menikah kok kayak gini!”, gerutunya lagi.
“Lah kamu dulu kok bisa memutuskan menikah? Nggak dipikir dulu apa?”, tanya saya. Saya sebenarnya tahu betul riwayat perjalanan asmara mereka. Si cowok kakak kelas saya saat SMA dan merupakan anak Kepala Sekolah, mempunyai toko dan beberapa asset. Si cewek teman baik saya saat kuliah. Selama pacaran, memang gaya hidup mereka sedikit berlebihan. Namun kala itu saya pikir kalau mereka benar-benar ada uang. Nyatanya sekarang mereka berpisah karena masalah uang.
Sudah banyak contoh yang ada di depan mata saya, bahwa untuk memutuskan hal yang bersifat ekstrim (menikah) dalam hidup haruslah dengan pemikiran yang sangat, sangat, dan sangat matang! Bukannya saya tipe perempuan yang pilih-pilih, bukan! Tapi banyak kasus menunjukkan kalau kita sudah menikah, kadar cinta hanya tinggal beberapa persen saja. Prosentase terbesar dalam rumah tangga adalah memikirkan kebutuhan dan mencapai kesejahteraan. Secara kasarnya, setelah menikah kita tidak akan bicara tentang cinta. Tidak akan kenyang makan cinta. KARENA CINTA GAK ADA DI PIRING!
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com dan Nulisbuku.com

Minggu, 18 Oktober 2015

Kado Kedua di Pernikahan Kami

Desember 2014 merupakan tahun kedua pernikahan kami. Saya dan suami sudah berencana harus ada gol setiap tahunnya. Di tahun pertama, kami sudah mendapat kado sangat istimewa. jagoan kami melengkapi hidup kami. Nah, untuk tahun ini kami juga harus mempunyai gol.

Sebenarnya, kami sudah merencanakan membeli sesuatu dari hasil uang yang kami tabung. Pikir sana-sini, tengok kanan-kiri, lihat depan-belakang, apa yang harus kami jadikan investasi di tahun ini. Setelah kami pertimbangkan banyak hal dengan masak, akhirnya kami memutuskan untuk membeli armada yang bisa memfasilitasi kami selama di rantau. Ada beberapa alasan kenapa kami akhirnya memilih investasi mobil. Salah satunya karena kami tinggal di kebun sawit, jauh dari pasar atau keramaian dan karena kami yang mobile, merasa bekerja di sebuah perusahaan memiliki tingkat stress yang tinggi. Akibatnya setiap akhir pekan jenuh kalau hanya stay di rumah. Kami juga ingin melepaskan penat dengan jalan-jalan.

Alasan kedua adalah kondisi di kebun yang aaah...ekstrim. Sekali hujan, berarti akan becek dan licin. Sekali kemarau, debu tidak bisa bersahabat dengan kami. Kasihan si kecil kalau jalan-jalan harus pakai motor. 

Saya dan suami termasuk kategori keluarga yang tidak bisa lepas satu dengan lainnya. Artinya, jika Ayah sedang bepergian, saya dan si kecil dijakanya serta. Begitu juga sebaliknya, saat saya ada kebutuhan belanja, saya lebih senang ditemani mereka berdua. Akibatnya kalau naik motor, pasti si kecil juga kasihan.

Setelah kami putuskan apa bentuk investasi kami, kami mencoba menghubungi orang tua. Apakah keputusan kami benar adanya. Sedikit banyak harus melalui pertimbangan dari orang tua.

Ayah saya kebetulan mempunyai kenalan salah satu marketing di AUTO 2000. Setelah bertanya banyak hal, akhirnya Ayah saya datang ke sebuah pameran mobil di salah satu pusat perbelanjaan.

Namanya juga rezeki, pasti Tuhan tidak akan salah membaginya. Dengan uang tabungan yang tidak seberapa namun cukup untuk uang muka, akhirnya kami bisa juga memiliki sebuah unit mobil TOYOTA AVANZA-G-vvt.i dengan warna grey metalic. 

Ah, setelah kami menahan untuk tidak terlalu boros selama setahun, kami bisa memiliki kendaraan untuk keluarga. Tanpa proses yang rumit, pelayanannya juga maksimal dan memuaskan. Ini kado di tahun kedua pernikahan kami. Terima kasih TOYOTA. :)

Minggu, 01 Maret 2015

Pengalaman, guru tak berwujud!

Pada saat saya menulis ini, langsung saja terlintas beberapa kejadian yang membuat saya mengenal banyak hal. Bukan karena ingin pamer atau apa. Tujuan saya menulis kali ini adalah sekedar mengurai pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan.

Saya, yang suka sekali bicara, akhirnya bisa menemukan tempat semestinya. Iya. Melalui radio, kemampuan bicara saya bermuara. Bahkan dilegalkan. Dapat honor pula.

Dulu, saya beberapa kali diminta sebagai pembawa acara di setiap kegiatan 17-an di desa saya. Saya dipercaya untuk membawakan acara resmi. So, saya harus tampil maksimal dong! Berbekal kebaya dan dandanan ala Ibu Kita Kartini, saya sukses membawakan acara tersebut dari tingkat dusun sampai tingkat desa. Akhirnya masyarakat mengakui kemampuan saya. Semakin kesini, saya juga ingin ada pengganti saya sebagai pembawa acara di kegiatan Agustusan. Regenerasi lah. Mengingat waktu itu, saya banyak menghabiskan waktu saya di luar kota (Jember maksudnya!).

Nah, selanjutnya saya akan menulis tentang pengalaman berbicara saya yang legal. Saya bersiaran di Soka Radio mulai 1 April 2009. Beberapa minggu kemudian, saya diajak untuk ngemsi di sebuah acara besar. Awalnya tidak terbayangkan acara besar itu seperti apa. Yang jelas waktu itu saya mengikuti beberapa pertemuan, briefing ini-itu, rapat sana-sini, konsep yang dicoret-coret di atas kertas, sampai dibagikan kaos yang bertuliskan salah satu merek motor terkenal (yang jargonnya 'Semakin Di Depan').
Saya yang bermodalkan sepatu dengan heels 3cm, jeans, dan make-up seadanya (maklum, saya masih pemula), berangkatlah ke lokasi di luar kota. Sampai sana....eng ing eng..., panggungya megah banget. Partner saya dengan kostum boots heboh dengan dandanan gothic macam rocker, sukses membuat saya mengkeret dengan apa yang saya pakai. Nasi sudah menjadi bubur. Saya tidak mungkin mencari kostum lain. Apa mau dikata, untuk membesarkan hati saya yang sudah terlanjut ciut, saya berdoa dan bertekad dalam hati, bahwa saya harus melakukan pekerjaan ini dengan maksimal.
Dari pengalaman di atas, pelan-pelan saya mulai mengoleksi beberapa baju, assesoris, sepatu, tas, dan macam-macam peralatan make-up. Saya juga belajar mengatur suara. Karena kalau acara outdoor, membutuhkan suara yang bulat dan tenaga yang ekstra juga. Kembali saya lakukan senam vokal setiap bangun tidur.
Semakin lama, saya akhirnya mendapat banyak sekali tawaran ngemsi. Dari acara formal di kampus, gathering di gedung/restoran mewan, sampai acara outdoor yang butuh kerja keras. Saya sempat menulis beberapa event dimana saya bertugas sebagai MC-nya. Berikut ya,,, (setidaknya sebagai rekam jejak dan torehan 'prestasi' saya), hehehe..

Yamaha Integreted 2009 di Alun-alun Banyuwangi
Yamaha Fun Game, di Bondowoso, Brigif Secaba Jember, Ambulu, dan Kencong.
Honda Launching Mega Pro di Lapangan Patokan Situbondo
Honda Gathering Customer With MPM Jember
Grebeg Pasar Inzana Jember (Kalisat, Ambulu, Jenggawah, Bangsalsari)
Grebeg Pasar Konidin Jember (Kalisat, Balung, Ambulu)




Seminar Nasional Pendidikan 2007, FKIP Universitas Jember di Bina Graha
Seminar Kesehatan “Aborsi” bersama dr. Fahmi dan Psikolog Bpk. Erdi Istiaji, S.Psi, FKM Unej
Gathering Garuda Food 2011
Reuni FISIP Angkatan 1996 di Rumah Makan Terapung Mangli 2011
Wisuda Angkatan Pertama Akbid Bina Husada Jember
Seminar Nasional 2007 di KAUJE Universitas Jember
Pro Mild with Community Jember 2012
Launching Blackberry Gemini with Telkomsel
Jumbo Oil di Alun-alun Jember
Launching Phillips di Roxy Mandiri Land Jember
SKJ Rexona di Citarum Alun-alun Jember
Launching hape Fren di Alun-alun Jember

Launching Top TV
Rookie DJ Award 2011

Ada beberapa lagi yang ternyata saya lupa. Minimal acara diatas sudah mewaili beberepa event yang kelupaan.
Sebelumnya, selain MC, saya juga pernah terlibat dalam beberapa acara seperti :

Narator boneka tangan produksi Jepang
Figuran dalam Film Dokumenter untuk Thesis salah satu mahasiswa Jepang.
Beberapa iklan di radio maupun televisi swasta.

Setelah saya masuk kebun, awalnya saya pesimis. Saya tidak yakin kalau bakat saya akan terpakai disini. Secara saya orang baru dan belum ada koneksi. Ternyata Tuhan tidak pernah tidur temans. Beberapa minggu saya di kebun, saya diminta untuk membatu sebuah acara sekolah. Dengan sennag hati saya menerima. Walau tidak ada honor, cuma dikasih nasi kotak, saya sudah sangat senang.

Nah, beberapa waktu kemudian, saya diminta bantuan untuk ngemsi di acara PT. Acara berlangsung di Hotel Swiss BellIn Pangkalan Bun.Acara gathering PT dengan mitra setempat. Wah, acara besar tuh! Partner saya waktu Itu P. Juli, yang ternyata baik banget. Suka kasih masukan dan ngasih tahu ini-itu tentang perusahaan. Akahirnya, saya dapat honor juga temans. Lima ratus ribu di awal 2013. Alhamdulillah.
Setelahnya, saya mengisi beberapa acara seperti acara Kick Off, QCC-SS, Yasau, dan yang terakhir kemarin acara Kick Off Area 2015.

Nah, sekelumit pengalaman itu membuat saya menjadi manusia yang sangat bersyukur. Karena tidak semua orang pernah merasakan hal yang sama seperti saya. Terimakasih Tuhan, alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah.

Selasa, 24 Februari 2015

Proud Of Dewi Lestari -dee-

Saya -merasa- termasuk orang yang ketinggalan zaman mengikuti rentetan novel karya Dewi Lestari. Novel pertama yang kira-kira rilis tahun 2001, baru saya baca 9 tahun kemudian. Iya, Supernova :1, Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh sebenarnya sudah ingin saya baca sejak tahun 2004. Awalnya saya tanya-tanya ke teman tentang hebohnya novel itu. Namun, tahukah Anda apa jawaban teman saya itu? 
"Udah deh Vik, nggak usah baca. Ceritanya ruwet. Kamu mah nggak bakal nyanthol. Itu karya sastra tingkat tinggi. Otak macam kita nggak nyampe!". Lemahlah keinginan saya. Semakin lama, novel itu tidak masuk list novel yang saya beli setiap bulan. Setiap masuk toko buku, novel itu tetap dicetak ulang dan ada di rak toko, tapi juga selalu saya lewati.
Akhirnya, kejadian saat saya benar-benar tidak punya uang buat beli buku baru. Salah satu jalan untuk bisa baca buku/novel ya nyewa. Saya memutuskan menyewa novel di dekat kos saya. Sebelumnya saya menyewa novel yang lain. Entah kenapa waktu itu, tangan saya berhenti di novel yang berjudul PETIR. Saya lihat penulisnya, aha Dee. Sempet mengkeret kalau ingat ocehan teman saya di tahun 2004 itu. Tapi, saya maksa juga buat nyewa. Saya buka, baca, dan akhirnya jatuh cinta.
Kejadian kedua, saya memutuskan untuk menyewa AKAR. saya makin jatuh cinta. Tapi sayangnya di tempat saya menyewa, nggak ada logi-logi dari Supernova. Waktu itu mereka menyewakan PERAHU KERTAS. Tanpa pikir panjang, saya sabet aja.
Rezeki dan jodoh saya memang harus ketemu karya Dee. Adik kos saya malah dapat pinjeman FILOSOFI KOPI.
Memang rezeki dan jodoh saya lagi dengan karya Dee. Sewaktu saya menikah, teman saya ada yang ngado KSATRIA, PUTRI & BINTANG JATUH, PARTIKEL, dan MADRE. Gimana nggak seneng banget coba?
Selanjutnya, saya beli RECTOVERSO (walau novel ini juga pernah saya baca sebelumnya). Beberapa waktu kemudian (sekitar 1 tahun), saya membeli GELOMBANG.



Nah, inilah akhirnya rentetan bacaan saya yang tidak sesuai alur. Hehe...
1. Saya baca PETIR, seharusnya ini dibaca ketiga
2. Saya baca AKAR, seharusnya ini dibaca kedua
3. Saya baca FILOSOFI KOPI (bukan Supernova)
4. Saya baca PERAHU KERTAS (bukan Supernova) 
5. Saya baca KSATRIA, PUTRI & BINTAH JATUH, seharusnya ini dibaca pertama
6. Saya baca PARTIKEL,seharusnya ini dibaca keempat
7. Saya baca MADRE (bukan Supernova)
8. Saya baca RECTOVERSO (bukan Supernova)
9. Saya baca GELOMBANG, seharusnya ini dibaca kelima.
10. Saya menungu INTELEGENSIA EMBUN PAGI.
Tahukah Anda, walaupun begitu urutannya, saya selalu baca ulang dan tidak pernah bosan! Banyak hal yang bisa saya petik dari karya Dee. Perubahan banyak terjadi di diri saya, termasuk kembali aktif menulis di blog.
Ayo gemar membaca teman-teman..... :)

MengAKUkan

Saya tidak tahu apa penyebabnya, apa pula masalahnya. Yang jelas, saya merasa kurang nyaman beberapa hari terakhir. Entah itu waktu saya yang kurang pas, suasana yang kurang oke, orang sekitar yang garing, atau mungkin badan saya yang enggan menerima keadaan.
Sampai saat ini saya masih belum menemukan jawaban. 
Pertama, saya akan jelaskan perasaan saya. Saya merasa jenuh dan kadang ada ngilu di hati. Saya merasa leingkuangan tidak mendukung saya walau saya juga -merasa- sudah mati-matian untuk melakukan sesuatu. Manusia normal membutuhkan pengAKUan kan? Nah, saya merasa belum mendapatkan itu. Saya -merasa- apa yang saya lakukan, mendapat tanggapan yang lempeng-lempeng aja. bahkan cenderung datar menuju tiarap. Terbukti saya mendapat bukti ketidakadilan di akhir bulan. Mengingat itu semua, ngilu itu datang lagi. Aapa ini yang disebut penyakit hati?
Kedua. Setelah saya berkonsultasi dengan psikolong merangkap psikiater pribadi- suami- saya, saya mendapati kalau saya ini ternyata tergolong manusia yang BELUM siap menerima berbagai macam kondisi. Kita selalu berharap sesuatu yang baik-baik saja kan? Nah, itu yang belum saya temukan klik-nya. Saya yang selalu mengahrap hal yang positif, kenyataannya harus menerima kebalikannya. Dan, saya belum siap itu.
Ketiga. Setelah melakukan perenungan bertaburkan air mata, diam, dan diskusi panjang lebar, saya ternyata termasuk manusia yang KURANG bersyukur. Nah, lho! Sampai saya sadari kalau saya selalu merasa kuuuurrrraaaaanggg aja. Kurang sabar. Kurang menerima. Kurang berusaha. Kurang yakin. Kurang khusyuk. Kurang ikhlas. Kurang. Kurang. Kurang lagi.

Akhirnya. Saya sekarang BERUSAHA menjadi manusia yang sebisa mungkin mengAKUi keberadaan saya sendiri. Eksistensi untuk saya sengaja saya tumbuhkan dari diri saya terlebih dahulu.
Akhirnya. Saya HARUS siap mengahadapi kondisi apa pun. Karena saya yakin kondisi yang digariskan Tuhan adalah yang terbaik untuk saya.
Akhirnya. Saya merasa LEBIH bersyukur atas apa yang sudah saya daptkan selama ini. Karena saya yakin, apa yang saya miliki, nikmati, dan dapatkan, belum tentu diperoleh oleh lainnya.
So, baiklah. Saya akan bisa dan mampu menjadi AKU.

Sabtu, 26 Juli 2014

Saya yang memang tempatnya khilaf!


Haiii, kali ini di Bulan Ramadhan di hari terakhir (memang telat sih..!), saya ingin mengucapkan minal aidzin wal faidzin deh... :)
Sebagai manusia, ternyata saya memng banyak salah ya? Bukan hanya banyak, tapi buuuuannnyaaaak sekaliii. Sampai mungkin kalau dicatat kayak Bang Madid (tokoh di sinetron Islam KTP), amalan saya tidak seberapa tebal dibanding dengan salah dan kekhilafan saya.
Di tulisan ini, saya ingin curhat tentang hal yang membuat saya bisa dicap sebagai manusia yang angkuh dan mungkin banyak yang tidak suka dengan saya.
Entah kenapa, saya termasuk orang yang tempramen dan sifat ini membuat saya sering memberi kesan negatif kepada teman-teman atau orang di lingkungan sekitar. Saya yang selalu ingin tampil perfect, adil-seadilnya, tertib, dan ingin eksis, kadang membuat saya melupakan kepentingan lingkungan saya. Ironi memang, saya yang notabene seorang pendidik, ternyata masih belum bisa mengkondisikan perasaan saya sendiri.
Saya pernah bermasalah dengan beberapa teman kos saya. Kejadian pertama dengan Mbak Kos saya. Saat itu, dia yang selalu pulang malam, minta tolong saya untuk bukain pintu kos. Saya sih oke-oke aja, selama saya masih dalam keadaan bangun dan pas santai. Bahkan pernah dalam keadaan demam saya juga fine aja bukain pintu tengah malam. Nah, pas saya ada acara di luar dan pulang agak telat (saya sudah pesan ke beberapa teman kos untuk tidak mengunci pintu), saya mendapati pintu kos terkunci. Saya bisa masuk karena menghubungi teman kos lain yang ada di dalam. Kejadian seperti ini terulang sampai tiga kali. Nah, usut punya usut, ternyata yang menguci pintu ya Mbak kos yang biasa saya bukain pintu itu. Marah dong saya!Dia yang pulang malam aja,saya mau bukain pintu. Nah, giliran saya yang hanya pulang telat, langsung dikunci sama dia. Daripada mendem, saya langsung samperin "Mbak,mbok ya dilihat siapa aja yang belum dateng. Main kunci-kunci aja!Sudah tua,kok ya gak mikir!". Kasar memang. Tapi saya sudah emosi. Lama kami tidak tegur sapa, sampai dia wisuda dan memiliki kehidupan yang bahagia. :)
Kedua dengan adik kos saya. Dia curhat kalau gak mau diajak pacarya tinggal di luar Jawa (misal nanti mereka menikah). Nah, suatu saat pas kit ngobrol dengan teman kos lain, saya nyeletuk, "Katanya kamu gak mau diajak ke luar Jawa?Namanya istri sih, baiknya ngikut suami". Nah, tiba-tiba dia jawab,"kapan aku bilang gitu Mbak?". "Nah yang pas kita di pusat bahasa itu!", jawab saya. "Sumpah Mbak,aku gak pernah bilang gitu!" sahutnya. Oh Good, pake sumpah segala! Saya yang jengkel dengan jawabannya yang tidak sama, memutuskan keluar kamar dan males sama dia. Sampai saya memutuskan akan keluar kos karena mau menikah, kami masih 'kaku'.Farrewel party di kos saya, akhirnya saya sempatkan minta maaf walau kondisi kami masih terlihat tidak plong. Sampai saat ini pun, kami masih 'kaku'.
Lokasi kedua di tempat kerja saya. Pertama, saya mempunyai sedikit masalah dengan salah satu partner kerja saya. Kami teman baik, suka curhat, dan sering keluar bareng. Sampai suatu ketika pas dia galau, saya nemenin dia. Eist, dia cowok. Nah, pas kita lagi curhat-curhatan, ada satu ucapan saya, "Kalau lagi deket dengan seseorang yang belum pasti, apalagi statusnya abu-abu, ada baiknya gak usah pake perasaan. Ya udah jalani aja!". Tiba-tiba dia jawab,"Jadi, kalaupun kita deket, itu gak pakai perasaan? Kok bisa ya kamu itu?". Ups, padahal maksud saya, kalau hubungan dibawa sampai ke perasaan, apalagi ada simpati dan empati, nanti kalau pas pisah, bakalan susah move on. Tapi tanggapan dia beda. Mungkin dia baru putus dan saya dianggap cocok sebagai teman curhat (yang mungkin menurutnya mengerti apa yang dia rasakan), ternyata mengesampingkan perasaan dalam hal percintaan. Saya akui, saya memang tergolong manusia yang tidak peka dan jarang pakai perasaan. Jadi banyak orang yang menganggap saya jahat dan tidak berperasaan! Kami tidak bertegur sapa walau satu kantor,pernah siaran bareng dengan suasana 'garing' walau saya mencoba mencairkan suasana, saya minta maaf lewat sms, sampai sok becanda seperti biasa, tapi nihil. Hal ini berlangsung sampai satu tahunan bahkan sampai saya risen.
Kedua, dengan pendengar saya. Saya termasuk orang yang males basa-basi.Suatu ketika pas saya siaran, fans saya itu telp berkali-kali.Saya tidak sempat angkat karena ada lagu yang akan diputar, sms yang harus dibaca, dan iklan yang akan tayang. Sampai dia bolak-balik telp, saya belum bisa angkat. Nah, tiba-tiba dia sms ke operator studio yang isinya "Kenapa tlp-ku gak diangkat?Bohong kamu kalau ada iklan.Waktu orang lain telp diangkat,giliran aku kok gak!". Yes, saya dicap BOHONG pemirsa. Sukses dia mendidihkan darah saya sampai naik ke ubun-ubun. Tambah males saya sama beliaunya. Saya langsung lapor ke kabag siar tentang masalah ini. Sampai sekian waktu sebelum saya risen, saya tidak pernah lagi angkat tlp dari nomor dia dan bacain sms-nya.. Males banget. Saya dicap bohong, padahal di box siar ada banyak hal yang harus saya lakukan demi kepuasan pendengar. Sampai dia minta maaf melalui nomor pribadi saya. Pada dasarnya, saya memaafkan, tapi udah terlanjur malas.
Semua kejadian panjang lebar diatas memang sudah lama dan berlalu bersama waktu, hilang ditiup angin, menguap bersama matahari, dan luruh oleh hujan. Namun, saya masih ingat dan membekas.
Saya sadar kalau setiap melangkah selalu ada kesalahan. Yang saya sesali, kenapa saya belum bisa biasa dan berkompromi dengan keadaan hati untuk bisa baik lagi dengan orang yang telah membuat saya jengkel sampai saya terpisah dengan mereka. Ah, saya memang manusia biasa pemirsa. Banyak salah. Dari ini, saya perlahan mencoba untuk berdamai dengan perasaan dan mencoba untuk tidak sekeras dulu. Apalagi saya sudah menjadi istri, menjadi Ibu, menjadi guru, dan berangsur tua. :)
Doakan ya pemirsa. Terimakasiiiihhhhhhhhhhhhh.