Rabu, 02 Agustus 2017

'Diperkosa' Kasih Sayang

Selamat pagi!
Gundah gulana dan sedikit linu mengawali pagi saya kali ini. Sudah dua hari tidak nyaman untuk beristirahat malam. Pasalnya, kondisi perut saya sudah membesar (hamil tua, 8 bulan euy!). Tidur miring kanan-kiri bukan solusi. Apalagi terlentang atau tengkurep? Yang terakhir jelas tak mungkin.
Selain itu, pikiran saya tengah terganggu dengan hal -yang sebenarnya sepele- tapi krusial. Selama bulan puasa kemarin masalah ini sudah muncul. 
Ibu yang momong (mengasuh) anak saya, tiba-tiba mau berhenti. Dulu dia pernah bilang dua kali, sih! Tapi saya tolak karena anak saya tipe anak yang susah berbaur dengan orang lain, apalagi orang baru. Saya minta dengan sangat -baca: memohon- agar dia merelakan waktunya untuk tetap momong si Kakak.
Pusing pala berbie waktu dia terlihat sedikit enggan. Saya dan suami pun putar otak untuk cari ganti. Jam 9 pagi dia minta keluar, jam 12 siang saya muter cari pengasuh baru. Sudah ada pandangan dan menurut saya orang baru itu cocok untuk si Kakak, eh...ternyata dia tidak ada di rumah. Kacaulah saya. Saya pasrah, nangis, dan berpikir belum jodoh.
Demi melihat saya yang terus sesenggukan dan bolak-balik meratapi wajah Kakak yang lugu, suami saya akhirnya mengajak saya jalan-jalan dulu. Refresh otak, katanya. Biar nggak stress. Nyatanya saya tetap stress, kepikiran, dan kasihan dengan Kakak.
Selepas Magrib, kami kembali mendatangi rumah calon pengasuh Kakak yang baru. Oke fix, kami langsung ketemu, to the point (tanpa mukadimah), lanjut deal. Alhamdulillah. Hanya butuh sekitar lima belas menit berbincang dan akhirnya besok mulai kerja. Saya juga pamitan pada pengasuh yang lama dan mengucapkan terimaksih karena sudah hampir empat tahun bersama Kakak. Meski agak mellow, saya harus ikhlas. Apalagi Kakak, dia nempel terus sama pengasuhnya. Iiih...jadi sedih plus geregetan!
Apakah masalah langsung terselesaikan dengan kehadiran pengasuh baru, pemirsa? Oh...ternyata TIDAK!
Saat pengasuh baru -sebut saja Mak A- datang, Kakak melihatnya seperti orang asing. Padahal semalam sudah kami ajak kenalan. Oke, Kakak memang tipe anak yang introvert dalam pergaulan. Dia hanya mau sama teman yang sudah bertahun-tahun dikenal. Di lingkungan perumahan saja, ia hanya mau bermain dengan anak di depan rumah. Selain anak itu, Kakak akan cuek setengah mampus! Aaarrggh!!!
Kembali ke hari pertama Mak A kerja di rumah kami. Sudah saya beritahu tentang ini-itu kepada Mak A, perihal hal yang boleh atau tidak boleh, sesuatu yang bisa dan tidak bisa untuk si Kakak. Setelah jelas, dengan berat hati saya pun berangkat kerja. Tidak tega sebenarnya meninggalkan Kakak begitu saja. Saat di kantor, hati saya ketar-ketir. Kepikiran kondisi Kakak di rumah.
Saat jam istirahat, saya putuskan untuk menjenguk Kakak. Hasilnya? Kakak terlihat baru mandi dan tengah menonton tv. Tapi ada yang beda. Kakak jadi lebih pendiam. Waktu melihat saya masuk rumah, Kakak langusng meneteskan air mata. Kakak tidak menangis yang meraung-raung manja, hanya air matanya yang tiba-tiba mengalir. Bukankah itu pertanda kalau hatinya sangat sedih? Saya jadi ikut nyesek dan langsung peluk si Kakak.
"Are you okay, Boy?" tanya saya saat Kakak sudah ada di dekapan.
Kakak menggeleng pelan. Deg! Hati saya jadi tambah ikut sedih.
"Dari tadi diam aja, Bu! Saya tawari segala macam, nggak mau ngomong. Saya juga bingung," jawab Mak A.
Saya paham dan tidak menyalahkan siapa pun. 
Tahukah Anda, kondisi seperti itu berlangsung selama empat hari! Kakak mogok bicara, hati saya ketar-ketir selama ninggalin Kakak, dan air mata kembali menetes saat saya jenguk Kakak. Tambah sedih hati saya.
Oke, otak kembali berputar. Saya dan suami kembali ke rumah pengasuh yang lama. Dengan amat sangat memohon, saya meminta dia untuk mau momong Kakak lagi. Masalahnya, setiap bangun tidur, Kakak langsung memanggil pengasuhnya dan nangis bombay. Selama empat hari, pagi hari kami selalu diwarnai dengan sedih dan tangis.
Syukurnya, pengasuh yang lama mau menerima tapi saya juga harus cari pengganti sembari dia momong lagi.
Mak A yang bekerja di rumah kami tidak serta merta kami berhentikan. Kami minta untuk bantu bersih-bersih rumah tanpa momong Kakak dan kami siapkan untuk momong Adik nanti. Kondisi seperti itu berjalan selama dua bulan.
Oh ya, saya juga punya Mbak yang bagian nyetrika. Nah, ternyata setelah lebaran kemarin, Mbaknya juga minta berhenti karena dia ada praktik dari sekolahnya. Okelah saya lepas dan saya yang ganti bertugas nyetrika di rumah.
Nah, selama saya cuti ini, saya ingin memanfaatkan waktu saya bersama Kakak. Saya pamitan ke pengasuh Kakak bahwa selama tiga bulan biar Kakak sama saya. Dia pun mau dan nampak senang, saya pun tidak tahu pasti.
Seiring waktu berjalan (cieeee....), Kakak lambat laun kadang mau kadang tidak sama Mak A. Saya pun tidak memaksa. Takut Kakak belum siap dan terluka hati. Saya pun bersikap biasa saja, takut Kakak nanti berubah pikiran.
Tapi ternyata oh ternyata, masalah (yang sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan) justru datang dari luar. Saya mendengar selentingan kalau pengasuh Kakak yang lama ternyata memang niat ingin keluar dengan alasan yang tidak bisa saya sebutkan di sini (tidak etis ya, guys!).
Menangislah saya mendengar gosip itu. Karena selain gunjingan yang tidak jelas, di dalam rumor itu terdapat beberapa fitnah yang sebenarnya saya merasa tidak pernah melakukan. Sakit hati saya!!!
Selain itu, tiba-tiba saja ada beberapa orang yang mau mendaftar bekerja di rumah saya. Saya juga bingung. Apa-apaan ini? Wong yang satu minta keluar, tiba-tiba saya diberondong dengan beberapa orang baru. Ah, tidak saya hiraukan. Saya harus selektif dan menimbang banyak hal agar tidak terjadi fitnah lagi.
Sehari semalam saya dan suami merefleksi diri. Apa salah dan kurang kami, sehingga begitu banyak berita di luaran yang ternyata menyudutkan saya. Jadi pengen mewek lagi kalau ingat fitnah dan omongan nggak jelas itu! Huhuhu
Saya kembali putar otak dan berdiskusi dengan suami. Kebetulan ada Mbak B yang baru keluar kerja dari teman saya (karena alasan yang juga tidak bisa saya sebutkan di sini). Mbak B baik orangnya, tapi masih punya baby. Saya coba pikir ulang. Siapa tahu selama tiga bulan PDKT, Kakak mau sam Mbak B. Karena Kakak sebelumnya sudah pernah tahu dan mengenal Mbak B.
Saya menawari Mbak B untuk nyetrika dulu sembari mengenal lingkungan rumah dan siapa tahu Kakak mau sama Mbak B. Entahlah...
Dari sekian banyak tulisan dan curhatan saya, akhirnya saya menyadari bahwa secara tidak langsung sebagai orang tua kita tidak mau kalau anak kita ditelantarkan, berubah jadi pendiam, hatinya tidak nyaman, dan murung terus menerus. Meskipun juga secara tidak langsung saya juga 'menelantarkan' anak dengan alasan bekerja. Sebenarnya saya yang jahat dan tidak tahu diri. Huhuhu
Selama cuti ini saya benar-benar merasa 'diperkosa' oleh anak saya. Dia 'memaksa' saya untuk tetap ada di sisinya dan selalu memberikan yang terbaik untuknya.
Putar otak cari pengasuh yang cocok dan pas ternyata sangat sulit. Hal itu juga yang ternyata 'memperkosa' pikiran saya. 
Kondisi memaksa, memohon, dan dipaksa tangguh untuk tetap mencurahkan kasih sayang terhadap anak ternyata memang membutuhkan ketegaran hati dan kekuatan jiwa. Kalau tidak, bisa saja saya putar balik, frustasi, dan bunuh diri (Ah, lebay!).
Demi anak saya, saya harus menebalkan telinga, menata hati, koreksi diri, dan mencoba bertahan!

Selasa, 13 Juni 2017

Mewariskan Cita-cita

Beberapa waktu terakhir, sedangan viral-viralnya istilah 'warisan'. Pro kontra dengan satu kata itu, karena sempat booming tulisan dari anak SMA, Afi Nihaya, asal Banyuwangi (satu kota kelahiran dengan saya). Tapi kali ini saya tidak akan membahas 'warisan' yang bersifat sensitif seperti apa yang dilakukan Afi. Saya tidak se-berani dia, saya masih mengalami ketakukan jika akan menulis sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal 'menyentuh', dan saya takut tulisan saya jadi boomerang bagi saya dan keluarga. Jadi, saya memilih tulisan yang ringan dan aman.
Warisan yang saya maksud disini adalah tentang cita-cita kami (trah keluarga saya) secara turun-temurun. Sebenarnya secara inti dan singkat, hal ini pernah saya utarakan saat update status di fesbuk. Tapi sekarang saya memang sedang ingin menulisnya lagi, versi panjang dan ada keterangan. Haha
Begini..., saya sangat bangga pernah menjadi bagian salah satu radio yang cukup terkenal di Jember (SokaRadio) sebagai penyiar radio selama 3,5 tahun. Apa sebab?
1. Saya merasa passion saya ada disana. Saya yang suka ngomong, ngobrol, rumpi, dan cerita ngalor-ngidul, akhirnya punya wadah untuk menampungnya. Selain itu, kesukaan dan kegemaran saya dengan dunia musik (meskipun saya tidak bergelut langsung dengan dunia musik), saya menikmati hari-hari yang penuh dengan lagu-lagu.
2. Saya mendapat pekerjaan yang santai dan tidak ada tekanan. Hanya butuh kreativitas dan banyak baca untuk menambah knowledge. Itu bisa saya lakukan sambil jalan dan dibantu oleh orang-orang yang luar biasa.
3. Saya mendapat gaji dan pengalaman yang luar biasa. Gaji saya dapat dari siaran secara resmi (di box siar), sedangkan pengalaman lain ternyata membawa berkah berupa uang, pertemanan, dan kegiatan yang menakjubkan. Itu yang belum tentu bisa diperoleh oleh orang lain. Atau bahkan belum tentu bisa saya temukan di tempat lain. Saya bisa memenuhi kebutuhan saya sendiri, bahkan bisa memberi sedikit untuk keluarga.
Ternyata oh ternyata, menjadi seorang penyiar radio adalah cita-cita yang sangat diimpikan oleh Ibu saya. Beliau ingin sekali menjadi announcer dan mempunyai banyak fans seperti penyiar kesayangannya. Oleh karena itu, langkah pertama yang dilakukan Ibu saya adalah dengan cara mengirim salam melalui atensi di salah satu radio di Banyuwangi. Dengan seperti itu, beliau jadi banyak kenalan dan punya sahabat pena. Nah, apa yang dilakukan oleh Ibu saya ternyata menular pada saya. Sejak SD kelas 6, saya sudah suka kirim salam by phone ke beberapa radio. Hasilnya sama dengan yang diperoleh oleh Ibu saya, banyak kenalan.
Ternyata lagi, pencapaian Ibu saya hanya sebatas kirim salam saja. Tidak sampai masuk box siar dan jadi penyiar. Beliau akhirnya hanya memendam dan pasrah saja sebagai fans seperti orang kebanyakan. Dan tidak ada yang pernah menyangka, keinginannya ternyata bisa saja wujudkan. Secara tidak langsung cita-cita itu sudah 'diwariskan' ke saya.
Nah, sekarang giliran saya. Selain suka sebagai penyiar, saya sangat ingin menjadi anchor dan penulis terkenal. Tidak tahu mengapa, dua profesi itu sangat menyita sebagian hati dan pikiran saya. Sebab, menjadi anchor dan penulis menjadi terlihat sangat smart. Walaupun untuk menjadi keduanya juga memang harus benar-benar pintar dan tahu banyak hal. Nah, senang sekali bukan kalau orang lain menjadi percaya dengan apa yang kita ucapkan dan bisa terinspirasi dengan apa yang kita tulis? Itu yang ingin saya wujudkan.
Ternyata, saya malah jadi seorang pengajar (seperti yang sudah saya jabarkan di tulisan sebelumnya). Meskipun dimedio 2016-2017 saya sangat beruntung sekali. Saya sudah menghasilkan tulisan-tulisan. Cerpen anak, artikel, puisi, dan novel. Cerpen anak dan novel sudah dibukukan. Artikel sudah diterbitkan. Puisi sedang proses karena memang antologi. Itu adalah kemajuan yang luar biasa bagi saya.
Oke, satu tujuan yang menyelip di hati saya sudah tercapai. Namun saya harus terus banyak belajar dan berjuang. Artinya, saya sangat ingin tulisan saya bisa menginspirasi dan mempengaruhi banyak orang. Itu yang harus saya kejar! Haha
Nah, satu lagi yang belum tercapai. ANCHOR! Usia sudah kepala 3, mana ada lowongan jadi pembaca berita? Lagipula saya tinggal amat jauh dari Ibukota. Aarrgh....

Nampaknya saya harus melakukan apa yang sudah dilakukan oleh Ibu saya. MEWARISKAN CITA-CITA. Doa dan harapan saya, saya ingin anak, penerus, dan generasi saya merealisasikan apa yang belum terwujud dari mimpi saya. Memang terkesan memaksa. Tapi menurut saya, tak apalah 'memaksa' penerus saya untuk menjadi yang lebih baik. Meskipun nantinya, pilihan tergantung di tangan mereka. Saya kan hanya berharap. Semoga saja terwujud dan itu tentu akan membuat saya senang.
Mereka juga boleh memilih sebagai penulis, tentunya dengan nama besar yang harus lebih melesat dari saya. Memaksa lagi? Egois ya saya? Sebagai pembelaan, untuk saat ini saya mengarahkan saja. Terutama menstimulus anak-anak saya dengan pengetahuan melalui bercerita, membaca, menyanyi, bertanya, dan bercanda. Mungkin itu langkah awal.
Daaan....izinkan saya untuk terus berdoa dan berusaha semoga apa yang saya cita-citakan bisa dilanjutkan oleh anak cucu saya. Amin.

Senin, 12 Juni 2017

Terjebak di Dunia Anak


Saat saya masih kecil, saya ingat betul, bahwa saya sangat menyukai hal yang bersifat ramai atau huru-hara. Namun dalam hal positif. Artinya, saya senang dengan suasana yang ceria, banyak orang, dan saya seringkali bertingkah aneh untuk menghidupkan suasana. Itu saya lakukan karena saat itu saya masih anak tunggal. ‘Konser tunggal’ yang saya adakan tiap malam, difasilitasi dengan radio kecil yang menyiarkan lagu-lagu dangdut dan dengan mengundang beberapa teman yang saya paksa untuk menonton atraksi saya. Cara itu ampuh untuk membuat saya ‘terkenal’ kala itu. Banyak yang bilang saya berani, percaya diri, dan pintar. Saya menikmati pujian itu. Hahaha...

Beranjak remaja, tepatnya SMP-SMA, saya mulai mengaktualisasi diri dengan cara menjalin pertemanan dengan banyak orang. Mulai dari supir angkot, teman satu sekolah, kakak kelas, adik kelas, siswa lain sekolah, temannya teman yang beda daerah, bahkan penjaga wartel juga saya ajak berteman. Hasilnya, semakin banyak orang yang mengenal saya. Saya benar-benar menikmati moment itu. Saya banyak pengalaman, banyak tahu, dan banyak belajar.

Saat kuliah, saya melakukan cara yang sama untuk menjaring koneksi. Kakak tingkat, adik tingakt, teman lain jurusan, lain fakultas, temen kos dari temannya teman, bahkan beberapa teman dari teman kerja juga wajib saya kenal. Hasilnya, banyak job yang saya dapat saat saya menjadi penyiar radio dan memudahkan beberapa urusan yang saya temui. Saya ‘terkenal’ waktu itu. Anggaplah ‘artis’ lokal. Ah, saya semakin menikmati masa dimana saya merasa berjaya.

Namun ada satu hal yang tanpa saya sadari dalam hidup saya, sampai Ibu saya berkata, “Mbak, Mbak kan calon guru. Pantes aja open (peduli-Jawa) sama anak kecil. Harus bias jadi contoh juga.”

Ini yang belum saya ceritakan. Saya sangat menyukai anak-anak. Terutama yang usia sekolah. Saat saya masih kelas 5 SD, saya sudah membuka les Bahasa Inggris untuk anak SMP yang saat itu diberi imbalan Rp.50,- per anak di setiap pertemuan. Banyak sekali ‘murid’ saya waktu itu. Saat saya libur kuliah pun, diwaktu senggang saya sempatkan untuk ikut mengajar di SD dan SMP. Sepulang sekolah, saya memberi les gratis pada anak SD. Saya senang bisa berbagi dan mengajari orang dalam banyak hal, terutama tentang pelajaran. Hal ini dikarenakan, saya juga senang berguru pada orang lain saat saya tidak mengerti akan sesuatu.

Setelah saya bekerja, nyatanya saya memang jodoh dengan dunia anak dan dunia pendidikan. Saya mengajar di SD, dimana saya senang sekali memberi mereka sesuatu yang baru, yang belum pernah mereka tahu, dan membuat mereka takjub akan penjelasan yang keluar dari mulut saya. Membahagiakan sekali menjadi pusat perhatian seperti ini.

Lagi-lagi saya tidak bisa jauh dari dunia anak. Rasanya, keberuntungan saya memang tidak lepas dari kata ANAK. Saya mendapat pekerjaan tetap saya, saat hamil 4 bulan anak pertama. Jauh setelahnya, kira-kira tiga tahun kemudian, saya mendapat keberuntungan berangkat ke Bali dalam acara Teacher Supercamp 2016 yang diadakan oleh KPK berkat Cerpen Anak yang saya buat. Beberapa bulan berselang, saya berhasil menjadi juara 3 menulis cerpen anak di salah satu penggiat literasi.

Padahal, sebelum-sebelumnya sering sekali saya menulis artikel yang serius dan dewasa untuk saya ikutkan lomba. Hasilnya, ternyata belum bisa membuat saya menjadi pusat perhatian. Mentok di meja redaksi dan juri tanpa membawa hasil sebagai pemenang. Mungkin dikarenakan artikel atau opini yang saya bahas itu, jauh dari ANAK.

Semakin kesini, saya sadar, mungkin saja saya memang benar-benar tidak bisa lepas dari kata ANAK. Dimulai dari kebiasaan saya yang suka mengajar, hobi saya yang suka menyanyi dan bercerita, hingga keberuntungan saya yang selalu berkaitan dengan anak. Saya merasa nyaman jika berbicara tentang tumbuh kembang mereka, anak-anak.

Saya mencoba banyak belajar mengenai apa dan bagaimana dunia anak sebenarnya. Hal ini juga didukung oleh suami saya yang cenderung lebih concern dan peka terhadap dunia anak. Saya baca banyak buku dan artikel tentang anak, meskipun buku yang saya baca belum sebanyak para pakar yang jauh mendahului saya. Saya akui saya masih banyak sekali kekurangan. Oleh karena itu, saya harus banyak belajar dan cari tahu.

Dari banyak hal yang saya lakukan dan sudah sedikit banyak bersinggungan dengan dunia anak, apakah sudah bisa dijadikan tolak ukur bahwa saya adalah seorang Ibu dan guru yang baik? TIDAK. Saya jawab dengan tegas. Saya belum sesempurna itu.

Saya masih sering marah, jengkel, dan kadang abai terhadap anak saya dan murid saya di sekolah. Apa yang menyebabkan saya emosi? Saya akui, saya manusia biasa dan bahkan kadang kurang kontrol emosi. Tidak jarang cara saya mendisiplinkan mereka (anak saya dan murid saya) masih menggunakan metode ‘kuno’. Seperti apa metode ‘kuno’ itu? Marah, mengancam, dan berkata dengan nada tinggi.

Awalnya saya berpikir cara itu bisa membuat mereka takut dan akhirnya menurut. Ternyata saya sadari bahwa saya salah kaprah dan salah jalan. Saya sudah memutus ‘jembatan’ yang ada di otak mereka dan ternyata membutuhkan waktu lama untuk menyambung 'jembatan' itu lagi.

Ini jadi bahan refleksi bagi saya. Metode yang saya gunakan perlahan saya ubah, disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan zaman. Metode ‘kuno’ pelan-pelan saya tinggalkan. Emosi saya kontrol sedemikian rupa agar mereka mampu membangun jembatan lain di otak mereka. Persaingan di masa depan semakin menantang. Akan menjadi tanggung jawab saya dan menjadikan penyesalan seumur hidup jika mereka tidak mampu bersaing hanya karena saya sudah merusak jembatan di otak mereka. Itu akan membuat saya merasa berdosa sekali.

Kali ini, saya merasa memang saya tidak bisa jauh dari mereka. Hidup dan keberuntungan saya diiringi oleh gelak tawa dan keceriaan mereka. Disini hidup saya, mendedikasikan diri untuk anak-anak yang luar biasa. Harus saya akui, bahwa saya memang terjebak di dunia anak.

Rabu, 11 Januari 2017

Kali Kedua

Pukul 2 dini hari, saya belum bisa tidur dengan lelap. Beberapa hari terakhir, memang saya sedikit gelisah dan merasa ada yang mengganjal di hati. Mau curhat, tapi kok berasa tidak ada yang dikeluhkan. Ingin jalan-jalan, tapi kok ya badan berasa tidak nyaman.
Awalnya saya dan suami sudah curiga kalau saya 'isi' lagi. Namun, kami juga tidak mau kePDan. Memang seharusnya saya datang bulan akhir bulan Desember lalu, tetapi sampai kemarin (11 Januari 2017) saya belum juga 'dapat'.
Beberapa hari yang lalu kami memang sengaja beli testpack. Jaga-jaga kalau beneran saya tidak datang bulan sampai akhir Januari.
Kembali ke adegan dini hari tadi. Saya dan suami sengaja tes. Setelah testpack saya masukkan ke cawan berisi (maaf) pipis, dalam hitungan detik kami tahu bahwa muncul 2 strip merah disana.
Lega dan agak bingung. Alhamdulillahnya, kami kembali mendapat kepercayaan menjaga nyawa yang akan membawa kami menuju surga (InsyaAllah). Bingungnya, kami menatap putra pertama kami yang tengah tidur pulas. Detik itu juga, ia kami ajak untuk menjadi dewasa, mengayomi, dan mulai belajar berbagi.
Terimakasih ya Allah. Ini yang terbaik untuk kami. Berikan jalan yang lurus, jalan penuh berkah, dan limpahkanlah rezeki sehat pada kami semua. Permudah liku kami dan sempurnakanlah yang ada pada kami.
Mulai hari ini, kami sudah waktunya mempersiapkan hati.
Bismillah.
:)

Selasa, 06 Desember 2016

Konvensional? Not Bad!

Arus teknologi dan informasi semakin deras, bukan berarti menjadi penghalang untuk mengikuti kemajuan. Hampir di segala lini, teknologi turut andil di dalamnya. Perkembangan teknologi ini memang memudahkan. 
Akan tetapi perlu diingat, ada dampak yang tidak disadari di dalamnya. Generasi instan terbentuk. Segala sesuatu seakan menjadi mudah dan murah. Usaha? Hanya nomor kesekian. Proses? Kata ini menjadi hal yang langka dan sulit ditemukan. One clik away. Apa saja mudah hanya dengan sekali sentuh.
Paradigma seperti ini, apakah berhubungan dengan dunia pendidikan? Tentu saja! Media digital gencar dipublikasikan agar peserta didik melek teknologi. Apakah semua menguasai? Tentu tidak. Butuh proses untuk belajar, baik guru maupun peserta didik.
Namun sangat disayangkan jika semua pelaku pendidikan, menjadi tidak menikmati proses. Proses yang bagaimana? Proses dimana antara guru dan peserta didik ada ikatan emosional dengan media yang sebenarnya lebih merekatkan.
Salah satu contohnya adalah media buku bacaan sederhana. Seiring dengan banyaknya artikel, buku sekolah elektronik, dan bentuk pembelajaran digital, menjadikan kegiatan belajar mengajar lebih pada produksi instan.
Tidak menyalahkan era teknologi sepenuhnya. Segala sesuatu diciptakan karena memiliki manfaat. Namun, kita juga tidak boleh lupa, ada kegiatan lain yang lebih nikmat tanpa harus menekuri laptop, komputer, atau gadget terlalu lama.
Salah satunya adalah dengan membuka buku. Cukup sulit membangkitkan minat baca anak di zaman serba canggih ini. Buku adalah pilihan kesekian setelah membuka artikel di gadget.
Oleh karenanya, bulan Februari 2016 lalu, Yayasan Astra Agro Lestari- Area Borneo 1, bekerjasama dengan Mantika Education memberikan pelatihan menulis buku sebagai bahan ajar bagi guru. Selama pelatihan, guru diberikan materi tentang bagaimana menulis buku yang baik, menarik, dan bisa memancing rasa ingin tahu peserta didik untuk membaca. 
Buku yang dibuat boleh menggunakan alat bantu komputer atau tulisan tangan. Dengan begitu, teknologi juga memiliki peran, yaitu dapat membantu guru untuk membuat sebuah buku. 
Selain itu, guru juga digugah semangatnya untuk menampilkan sesuatu yang beda pada buku yang akan diterbitkan. Gambar serta desain manual, menjadi lebih menarik karena terlihat lebih natural dan apa adanya.
Kegiatan belajar bersama Mantika Education dapat terselenggara dengan baik dan lancar, berkat dukungan dari  Astra. Dimana Yayasan Astra Agro Lestari di bawah naungan Astra Internasional, selalu memberi dukungan penuh untuk guru agar lebih kreatif dan inovatif. Hal ini dilakukan tentunya untuk meningkatkan kualitas outcome dari peserta didik.
Dari hasil pelatihan selama 3 hari, seluruh guru di SDS Pesona Astra, PT. Gunung Sejahtera Puti Pesona, berlomba-lomba untuk menulis dan menerbitkan buku belajar bagi siswa. Setidaknya setiap guru sudah pernah menerbitkan 2-3 buku. Buku yang sudah terbit ini, digunakan untuk kegiatan belajar mengajar di kelas. 
Buku yang dibuat pun sangat sederhana. Untuk guru kelas bawah (1-3), mereka cenderung membuat buku dengan banyak gambar. Kelas atas lebih ke materi pelajaran yang sedikit kompleks. Namun, isi buku tentunya tidak terlalu 'berat'. Bahkan, ada guru yang membuat buku berdasarkan kegiatan sehari-hari di kelas dengan menggunakan gambar hasil karya dari peserta didik. Luar biasa!
Tanggapan dari peserta didik pun sungguh di luar dugaan. Peserta didik antusias dengan buku baru hasil karya dari guru mereka. Bahkan mereka terlihat saling berebut satu sama lain, agar dapat segera membaca buku baru dari 'tangan dingin' guru mereka.
Terlihat sensasi membuka setiap lembar buku begitu terasa. Tidak sabar untuk membaca setiap halaman.
Sampai saat ini, sudah lebih dari 20 buku yang terbit di SDS Pesona Astra. Semua buku yang sudah terbit, diarsipkan di ruang baca dan bisa digunakan sewaktu-waktu oleh siapa saja.
Akhirnya, kegiatan literasi menjadi lebih linier dan berkesinambungan. Guru aktif menulis buku dan siswa gemar membaca buku. Sangat bermanfaat bukan?
Buku di perpustakaan juga menjadi sasaran karena peserta didik haus akan bacaan. Akhirnya, solusi Books Corner juga menjadi alternatif, guna memenuhi minat baca peserta didik.
Budaya membaca terpenuhi, guru kreatif juga bisa menjadi tradisi. Nah, ternyata media konvensional bukan hal yang ketinggalan zaman, bukan?


Minggu, 06 November 2016

Menjadi Bagian di Teacher Supercamp 2016

Selamat malam semua...
Aih, bisa nulis lagi sekarang. Oke, sekarang saya mau cerita tentang pengalaman selama seminggu terakhir. Tanggal 18 Oktober 2016 lalu, ada yang sms saya. Isinya mengabarkan kalau saya lolos TSC2016. Wah, kaget awalnya. Tapi saya juga takut kalau itu sms penipuan. Maklum lah, zaman sekarang banyak modus begituan. Saya sms balik, no respon. Tapi hati tetep penasaran. Hahaha
Nah, besoknya, ada yang telp dan mengabarkan kalau sya memang dinyatakan lolos pada kegiatan tersebut dan akan berangkat ke Bali tanggal 30. Seneng banget tentunya. Mengingat ternyata tulisan saya akhirnya mendapat apresiasi. Saya cek email, trus cek fesbuk TSC 2016 dan memang nama saya tercantum disana. 
Namun yang namanya perjalanan juga tidak selalu mulus kan? Rencana saya yang akan memboyong suami dan anak ke Bali harus kandas karena jadwal saya disana sangat padat.Itu artinya, sama saja saya tidak memiliki waktu lebih bersama mereka. Oke fix, mereka harus saya tinggal. Sedih juga sebenarnya.
Nah, gangguan dari luar juga ada. Tiba-tiba ada seseorang yang add fesbuk saya, mengucapkan selamat atas keberhasilan saya yang lolos TSC 2016, dan selalu like status saya. Positive thinking awalnya. Saya balas semua komennya, saya jawab chat-nya, dan...taraaaaaaa...tiba-tiba ujung-ujungnya dia minta dikirimi karya saya yang lolos TSC 2016 untuk dialamatkan ke emailnya. My God! Apa-apan ini? Sedikit tersinggung saya waktu itu. Kenapa? Karena seolah-olah dia ingin tahu, seperti apa karya saya sehingga bias lolos. Tapi sudahlah, abaikan. Anjing menggonggong, saya melenggang.
Tanggal 30 subuh saya berangkat ke bandara. Pesawat jam 7 transit Semarang, lanjut jam 9 menuju Surabaya, dan jam 11 menuju Denpasar. Jet lag? Tentu saja. Lemes, capek, ngantuk, dan tidak nafsu makan. Sore hari saya sampai di Hotel Mercure Nusa Dua Bali. Teman sekamar saya dari Jepara, Fita Fatimah, guru IPA di SMP Jepara sana.
Malam harinya ada acara perkenalan dengan 50 peserta lainnya, mentor, tim dari KPK, dan narasumber. Perjalanan masih panjang.
Besoknya kami semua mengikuti seminar "Lebih dekat dengan KPK" dan "Pembentukan Karakter".
Pada sesi seminar "Pembentukan Karakter", narasumber hebat yang menjadi pembicara. Bapak Laode M. Sayrif (Pemimpin KPK), Bapak Tatang (Perwakilan dari Kemedikbud), Bapak Arief Rahman (Pakar Pendidikan), dan Bapak Made Taro (Budayawan Bali). Sedikit banyak semua yang disampaikan hampir sama. Intinya pembentukan karakter harus dimulai sejak kecil. Nilai-nilai moral harus ditekankan dari hal yang sederhana guna membentuk pribadi yang berintegritas.
Malamnya, kami mendapat materi tentang "Nilai-nilai Korupsi dalam Pembentukan Karakter". Pada sesi ini, dijelaskan mengenai bagian otak, 4 aspek karakter (Mengetahui, Merasakan, Melakukan, Penegasan), serta bagaimana proses pengaliran karakter.
Tanggal 1 November 2016, kami mendapat materi dari penulisan terkenal, Mbak Helvy Tiana Rosa (salah satu wanita berpengaruh di dunia dari 500 orang). Keren kan? Sempat poto bersama, seru jadinya. Isi yang disampaikan adalah bagaimana menjadi penulis yang baik, trik cara menulis yang benar, dan bagaimana cara menghadapi tantangan dalam kegiatan tulis menulis. Dilanjut materi dari Bapak Hernowo, penulis terkenal yang namanya pernah saya lihat dalam pengantar bukunya Munif Chatib - Sekolahnya Manusia-.
Selanjutnya, materi yang disampaikan oleh Faza Meonk, komikus yang terkenal dengan karakter Bang Juki. Nah, saat sesi ini, terus terang saja saya tidak nyambung. Sebab, saya tidak mengerti tentang gambar-menggambar. Haha.
Malamnya, kami mendapat materi tentang menulis scenario. Nah, agak seru nih! Pengisinya Mbak Gina S. Noer, penulis scenario film Ayat-ayat Cinta, Perempuan Berkalung Sorban, dan Rudy Habibie.
Sesi selanjutnya, kami dikumpulan per kategori. Saya sendiri di kategori cerpen bersama tujuh orang lainnya. Disini, kami dimentori oleh Bapak Benny Rhamdani, penulis, editor, blogger, dan tentunya guru yang hebat. Sabar sekali. Kritiknya tajam tapi tidak menyakiti, malah membangun untuk kami yang notabene masih awam.
Pagi sekali pukul 5.15 saya sudah turun ke loby, karena tim kami akan bergerak menuju Nusa Gede. Nusa Gede adalah sebuah tempat dengan Water Blow yang kece. Disana tenang sekali. Bersih serta nyaman. Kami diharap bisa segera mendapat inspirasi dari berbagai hal yang kita lihat, sentuh, dengar, dan rasakan. Sejak dikumpulkan sesuai kategori, kami akhirnya lebih fokus sampai tahap final.
Tak terasa, kami sudah sampai hari terakhir. Jumat pagi kami berkumpul untuk outbond. Banyak games yang harus kami selesaikan. Saya dan tim Biru kami akhirnya sukses menjadi juara. Kerja keras, kerja sama, kompak, dan toleransi adalah kunci keberhasilan.
Ah, tiba saatnya kami harus berpisah. Semua bubar barisan, kecuali saya, Pak Suhardin, dan Bu Novi dari Aceh. Saya dan Pak Suhardin (Kendari) harus pindah hotel.
Besok subuh kami berdua menuju bandara I Gst Ngurah Rai untuk kemudian terbang ke Surabaya. Dari Juanda kami berpisah. Beliau menuju Kendari, saya sendiri ke Pangkalan Bun.
Ah...banyak sekali yang saya dapat selama disana. Ilmu dan kebersamaan yang tidak pernah bisa dirupiahkan. Dari sana, saya pribadi merasa ada beban moral yang harus dipertanggungjawabkan. Secara tidak langsung saya harus bia menularkan mosi positif yang sudah saya dapatkan ke semua orang!


Guru Indonesia! Anti Korupsi!

Selasa, 06 September 2016

Temuan saya hari ini.

Selamat pagi dunia....!!!!

Alhamdulillah saya masih diberi waktu dan sempat. Waktu untuk menulis dan sempat untuk berbagi disini.
Saya juga masih nge-blank dan tidak tahu apa yang akan saya tulis. Tapi biarkan yang tertulis disini mengalir natural dari pikiran saya.
Pagi ini, saya mendapat laporan dan temuan bahwa salah satu anak didik saya sudah mulai ada yang "suka-sukaan" dengan lawan jenis. Tanggapan saya pertama kali jelas kaget, namun akhirnya saya tersenyum. Ah, namanya bocah, belum tahu resiko dan arti "suka", pikir saya.
Namun setelah ditelisik dan diinterogasi, mereka memang suka satu sama lain, saling berkirim surat, tukar nomer hape (seperti zaman saya SMA, tetapi mereka melakukannya saat masih SD!-ini gila bukan?), dan bahkan janjian ketemuan. Ah, kalau sudah begini memang sudah kelewatan. Sebagai guru, saya merasa kecolongan. Jelas dong! Karena hampir 8 jam, mereka bersama saya. Saya meleng sedikit, mereka mulai berulah. Ah..ini memang salah saya.
Namun, saya dan kami (para guru yang lain) tentunya tidak mau membiarkan ini berlarut dan bisa mempengaruhi pola pikir serta perkembangan anak secara kognitif maupun psikologi.
Kami berinisiatif untuk wawancara, klarifikasi, dan segera menghentikan ini. Usut punya usut, mereka "tahu" bagaimana cara orang "suka-sukaan" itu ternyata dari sinetron.
Sinetron oh sinetron! Kami 8 jam menghabiskan waktu untuk mendidik mereka, berlaku sesuai dengan norma, mengajak beribadah bersama, menegur bahkan memarahi jika ada yang keliru, ternyata dapat dihapuskan dengan 2 jam pelajaran SINETRON yang mereka lihat.
Sya tidak mau munafik, dulu waktu saya kecil, saya juga pernah menonton sinetron. Era 90an hits sekali yang namanya Tersanjung, Noktah Merah Perkawinan, Abad 21, dan beberapa sinetron lain. Tapi, pengaruhnya tidak seekstrims sinetron sekarang. Saya tidak tahu bentuk sinteron sekarang seperti apa, karena saya bukan konsumennya. Namun kalau melihat efeknya ke anak bisa seperti ini, saya curiga kalau "isi" dari sinetron zaman sekarang sangat tidak mendidik.
Menonton tv boleh, perlu bahkan. Tetapi ya harus difilter dong! Bukan berarti sembarang bisa dilihat dan dikonsumsi oleh anak.
Saya juga sudah pernah menjelaskan kepada anak tentang mereka yang merupakan generasi Z, dimana kehidupan mereka hampir 100% disokong dengan kemajuan teknologi, sebra IT, dan instan. Mulai dari makanan, kegiatan belanja, sampai kegiatan belajar juga menggunakan media teknologi canggih. Boleh, sangat boleh mereka tahu itu, namun mereka cenderung lupa bahwa kegiatan konvensional juga diperlukan. Membaca buku per lembar, melihat tayangan anak/kartun anak, makan masakan rumahan, atau belanja ke pasar. Kegiatan manual lain yang membutuhkan napas ngos-ngosan atau badan lecet karena sibuk lari-larian.
Nyatanya sekarang, mereka sering lupa diri kalau sudah ketemu gadget dan sinetron. Mata menatap ke layar, telinga tertutup, dan pikiran melayang entah kemana. Apalagi kalau ada siswa yang tidak mau mengerjakan PR, meleng saat diterangkan di kelas, ndomblong saat praktik, dan meringis saja saat disuruh mengerjakan soal karena mereka kemalaman tidur disebabkan main gadget dan sibuk nonton tv.
Saya miris melihatnya. Mengelus dada dan kadang marah-marah sendiri. Saya berpikir, apakah saya salah satu orang yang belum berhasil mendidik siswa dan saya yang belum mampu mengolah mereka manjadi "manusia". Artinya, tugas saya semakin berat ke depannya. Bukannya itu menjadi beban, tetapi saya harus berusaha menyiapkan dan mengolah hati, waktu, tenaga dan pikiran saya untuk mereka.
Semoga masih banyak yang mau membantu saya untuk menyelamatkan mereka.