Selamat pagi. Weekend dengan kondisi masih pandemi, jelas tidak bisa kemana-mana.
Okay, pagi ini saya akan bercerita tentang kisah 5 perempuan. Mereka adalah manusia biasa yang mempunyai naluri dan tentu ingin dimanusiakan.
Begini, sekitar 1 minggu ini, saya tiba-tiba saya diberondong dengan begitu banyak cerita tentang kehidupan. Mari kita simak.👇
1. Sebut saja namanya Jeng. Ibu dari dua anak, pekerja, dan memiliki kehidupan bahagia dengan keluarga kecilnya. Tak ada yang kurang dalam kehidupannya. Sampai suatu ketika dia "terjebak" dalam sebuah situasi yang membuatnya akhirnya merasa terperangkap pada hubungan dengan teman kerjanya. Memang situasi yang tidak nyaman. Hubungan dengan kondisi sembunyi-sembunyi, harus atur waktu, membagi perasaan, dan tentu menambah ruang untuk tempat sakit hati. Iyalah, kan harus berbagi. Apalagi 'Si Pacar' juga milik orang lain. Manusiawi kalau ada sifat posesif dan berakhir cemburu. Seolah merasa bahwa KAMU adalah milikku. Kisah ini berjalan 2 tahun lamanya dengan banyak sekali lika-liku dan luka-luka.
Hubungan seperti ini memang tidak pernah bisa berakhir bahagia. Selanjutnya sudah bisa diterka. Mereka berpisah dalam keadaan sama-sama kecewa. Kecewa karena menyesal, menyisakan sakit hati, dan tentu saja tidak ada untungnya sama sekali.
2. Pay yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja, ternyata mampu menarik hati Bejo, pemuda konglomerat, berkat paras manisnya. Tak butuh banyak cingcong, mereka memutuskan menikah di usia masih belia, sekitar 13 dan 15 tahun. Kehidupannya jangan tanya. Glamour! Mewah sekali. Mobil dan rumah tinggal pakai. Uang bulanan lancar dari mertua. Apalagi?
Ternyata, Si Bejo sudah mulai beranjak memperluas pertemanan. Bejo bergaul dengan banyak orang, jaringannya melewati bisnis-bisnis kelas atas. Pay yang polos tentu saja shock dengan pergaulan Bejo yang sekarang. Pay yang yakin jika Bejo dulu sangat mencintai kesederhanaannya, kini punya pandangan yang berbeda. Bejo sekarang lebih menyukai wanita bergincu, rambut warna-warni, dan pakaian sexy. Sementara Pay sudah disibukkan dengan 2 balita, tak sempat untuk mengubah penampilan. Pay kalah langkah mengikuti kehidupan Bejo yang semakin melesat.
Apa yang terjadi? Bejo sering membawa pulang wanita sexy, membuat ruang karaoke di rumah, dan mulai mengumpulkan banyak teman.
Pay tersingkirkan. 2 anak terabaikan.
Bejo dengan dunia barunya, Pay kembali dengan daster dan kedua orang tuanya yang sederhana.
3. Kisah Sasha dan Wiya hampir serupa. Masa pacaran yang tak terkendali, membuat keduanya harus menanggung resiko "menikah" di tengah kondisi hampir menjadi seorang ibu. Semua terpaksa dilakukan agar tidak banyak omongan di luaran. Kondisi suami yang tidak bekerja, tidak siap dalam membina rumah tangga, dan ada bayi yang harus dimanja. Tentu saja mertua tidak mungkin lepas tangan begitu saja. Tapi Sasha dan Wiya sebagai istri pasti menginginkan nafkah langsung dari tangan suami, bukan mertua. Sebagai perempuan, mereka juga ingin kehidupan normal seperti yang lain. Namun apa daya, suami jobless karena memang susah mencari kerja, sementara kebutuhan harian tidak bisa ditunda.
Apa yang terjadi? Pertengkaran terus menerus. Konflik dengan diri sendiri, suami, mertua, dan tentu tak nyaman di lingkungan. Korbannya adalah anak yang tidak tahu apa-apa.
4. Beda lagi dengan Esti. Story di media sosialnya bak sosialita. Pelesir ke luar negeri, makan di restoran berkelas, bergaul dengan mereka berparas cantik, dan kemewahan lainnya yang tentu saja bikin nyengir netizen seperti saya. Hahahaha. Kehidupan Esti tak dapat dijangkau.
Namun apa yang terjadi? Di balik semua story WOWnya, Esti hampir didepak dari keluarga besar suami yang konglomerat karena sikap Esti yang berlebihan, gemar berfoya-foya, dan tak pandai mengelola rumah tangga. Esti nyaris dicoret dari nama daftar warisan. Suami Esti yang terbiasa ongkang-ongkang nyatanya tak bisa mengambil alih keadaan. Wong gak punya peran.
Apa yang terjadi? Esti terus sibuk menunjukkan bahwa dia tetap bahagia dengan segala kemewahannya. Dia masih terus menebar pesona agar aura WOWnya tidak hilang begitu saja. Ia tidak mau kehilangan penggemar dengan cara terus memposting gambar dengan caption yang menarik perhatian.
Ah, cerita dari beberapa orang tentu saja membuat saya berpikir untuk mengkaji lebih lanjut tentang makna kehidupan.
Sejatinya apa sih yang kita cari dalam hidup? Apa sih yang mau kita capai dengan pasangan saat berumah tangga?
Well...
Hasil pemikiran saya dan diskusi dengan beberapa orang tentang kehidupan (rumah tangga) dapat disimpulkan bahwa:
1. Menikah haruslah dalam keadaan SADAR. Sadar di sini bukan berarti tidak mabuk atau tidak pingsan. Bukan! Sadar yang dimaksud adalah bagaimana kita bisa menyadari bahwa akan ada kehidupan selanjutnya yang harus dipertanggungjawabkan, baik untuk diri sendiri, pasangan, anak, dan keluarga besar. Jika menikah hanya karena terburu-buru (nafsu), berarti kalian belum SADAR. Harus segera ke dokter untuk cek kewarasan.
2. Mengimbangi pasangan dengan fondasi yang kuat.
Pernah saya tulis di story dan jadi prinsip saya bahwa,"Carilah pasangan yang cerdas, karena akan menentukan generasimu. Jika pasanganmu lebih cerdas, saatnya kamu banyak belajar dan intropeksi diri agar bisa mengimbangi."
Mengimbangi bisa dari banyak hal. Intelektualitas, kepribadian, finansial, dan menyeimbangkan sistem dalam diri (ego dan pemikiran). Jika salah satu masih ada yang timpang, perbaiki. Saya pernah menulis di blog dengan judul "Karena Cinta Nggak Ada Di Piring" mungkin bisa dibaca lagi.
3. Menciptakan bahagia.
Bahagia itu kita yang ciptakan. Jika hati dan pikiran masih saja sibuk dengan banyak hal remeh-temeh, tentu akan menguras tenaga. Ayolah mulai membenahi diri. Jika point 1 dan 2 merasa sudah ada miss, lebih baik diperbarui dengan cara berbicara dari hati ke hati dengan pasangan. Jika kita dan pasangan bahagia, tentu akan menular pada mereka yang ada di sekitar kita.
Saya tidak ada niat menggurui. 3 point di atas adalah murni dari pemikiran, renungan, serta diskusi dengan suami saya dan beberapa teman . Diikuti monggo, tidak diikuti lebih baik dibaca lagi, deh! Hahahaha
Jumat, 03 Juli 2020
Senin, 29 Juni 2020
Bertempurlah dengan (Minimal) Amunisi yang Sama
Pagi ini saya kembali menulis karena memang sedang terusik oleh suatu hal. Tiba-tiba saya mendapat kabar bahwa salah satu teman yang pernah saya tulis kehidupannya di blog, jadi sorotan negatif. Intinya, karena tulisan saya terdahulu (tahun 2012) 'seolah-olah'membuka aibnya dan dijadikan senjata oleh orang yang tidak menyukainya.
Oke. Saya akui kebanyakan tulisan saya lebih bersifat subjektif. Hal ini dikarenakan banyak sekali teman yang curhat dan kisahnya siap untuk dipublikasikan. Saya menyamarkan nama tokoh juga karena permintaan. Selama yang saya tulis berbentuk hiburan, motivasi, dan kejujuran, biasanya saya tidak pernah pakai inisial atau alias. Saya modelnya terbuka dan terkesan ekstrovert.
Begini, kisah tulisan saya sudah terjadi 8 tahun lalu dan seharusnya tidak perlu diungkit kembali karena kehidupan manusia terus bermutasi, bahkan bisa jadi banyak yang beresolusi dan sudah tidak sama lagi dengan kemarin. Memang, tulisan itu abadi. Seberapa lama rentang waktu, tulisan itu adalah bukti sejarah tak terbantah. Nah, tugas kita sebagai manusia yang sudah melewati banyak hal, ada baiknya bisa melihat sebuah kisah sejarah dari perspektif lain. Bisa dijadikan pelajaran, peringatan, atau bahkan tetap dijadikan hiburan. Baper tentu saja boleh. Tapi kalau diulas hanya untuk saling menyakiti, sepertinya juga kurang bermanfaat baik dari segi fisik maupun kejiwaan. Telaahlah dengan baik.
Jadi begini, jika kamu merasa dengan membaca sejarah, kamu punya amunisi untuk mengolok dan menyemai kebencian, berarti senjatamu tidaklah pamungkas. Kamu hanya menggunakan opini dan pemikiran orang lain. Kamu hanya 'meminjam' kekuatan orang hanya untuk memuaskan birahi dan nafsumu. Kamu sebenarnya lemah dan tidak punya kekuatan sendiri jika terus menerus mengolok, mencaci, dan terus menguras emosi dari amunisi pinjaman itu.
Berperanglah secara elegan. Gunakan kekuatanmu sendiri. Tunjukkan amunisi terhebatmu.
Jika kamu gunakan sebuah tulisan orang lain sebagai senjata, serang balik musuhmu dengan sebuah tulisan juga. Menuliskan dengan cerdas. Toreh sebuah serangan dari guratan tanganmu sendiri.Buat opini dengan gaya kontradiktif. Lakukan serangan mematahkan agar musuhmu merasa terancam dengan tulisanmu. Bukan justru dengan berkoar-koar, menyebar droplet. Bisa jadi penyakit untuk sekitar. Jauh lebih berbahaya.
Jika sekarang rivalmu sedang melenggang dengan manisnya, serang dia dengan prestasimu yang tak terkalahkan. Buatlah gebrakan sejuta tepuk tangan untuk sebuah karyamu yang layak dipuji banyak orang. Tunjukkan dirimu di atas panggung kemewahan dengan berjuta sanjung atas masterpiece yang melambungkan namamu. Itu adalah cara balas dendam yang heroik, fantastis, dan musuhmu akan tersungkur tak berdaya.
Kalau sampai akhir 2020 kamu masih berkutat dengan perang mulut dan saling sindir, kamu tak ada bedanya dengan makhluk 'pra' yang tidak tahu apa-apa.
Oke. Saya akui kebanyakan tulisan saya lebih bersifat subjektif. Hal ini dikarenakan banyak sekali teman yang curhat dan kisahnya siap untuk dipublikasikan. Saya menyamarkan nama tokoh juga karena permintaan. Selama yang saya tulis berbentuk hiburan, motivasi, dan kejujuran, biasanya saya tidak pernah pakai inisial atau alias. Saya modelnya terbuka dan terkesan ekstrovert.
Begini, kisah tulisan saya sudah terjadi 8 tahun lalu dan seharusnya tidak perlu diungkit kembali karena kehidupan manusia terus bermutasi, bahkan bisa jadi banyak yang beresolusi dan sudah tidak sama lagi dengan kemarin. Memang, tulisan itu abadi. Seberapa lama rentang waktu, tulisan itu adalah bukti sejarah tak terbantah. Nah, tugas kita sebagai manusia yang sudah melewati banyak hal, ada baiknya bisa melihat sebuah kisah sejarah dari perspektif lain. Bisa dijadikan pelajaran, peringatan, atau bahkan tetap dijadikan hiburan. Baper tentu saja boleh. Tapi kalau diulas hanya untuk saling menyakiti, sepertinya juga kurang bermanfaat baik dari segi fisik maupun kejiwaan. Telaahlah dengan baik.
Jadi begini, jika kamu merasa dengan membaca sejarah, kamu punya amunisi untuk mengolok dan menyemai kebencian, berarti senjatamu tidaklah pamungkas. Kamu hanya menggunakan opini dan pemikiran orang lain. Kamu hanya 'meminjam' kekuatan orang hanya untuk memuaskan birahi dan nafsumu. Kamu sebenarnya lemah dan tidak punya kekuatan sendiri jika terus menerus mengolok, mencaci, dan terus menguras emosi dari amunisi pinjaman itu.
Berperanglah secara elegan. Gunakan kekuatanmu sendiri. Tunjukkan amunisi terhebatmu.
Jika kamu gunakan sebuah tulisan orang lain sebagai senjata, serang balik musuhmu dengan sebuah tulisan juga. Menuliskan dengan cerdas. Toreh sebuah serangan dari guratan tanganmu sendiri.Buat opini dengan gaya kontradiktif. Lakukan serangan mematahkan agar musuhmu merasa terancam dengan tulisanmu. Bukan justru dengan berkoar-koar, menyebar droplet. Bisa jadi penyakit untuk sekitar. Jauh lebih berbahaya.
Jika sekarang rivalmu sedang melenggang dengan manisnya, serang dia dengan prestasimu yang tak terkalahkan. Buatlah gebrakan sejuta tepuk tangan untuk sebuah karyamu yang layak dipuji banyak orang. Tunjukkan dirimu di atas panggung kemewahan dengan berjuta sanjung atas masterpiece yang melambungkan namamu. Itu adalah cara balas dendam yang heroik, fantastis, dan musuhmu akan tersungkur tak berdaya.
Kalau sampai akhir 2020 kamu masih berkutat dengan perang mulut dan saling sindir, kamu tak ada bedanya dengan makhluk 'pra' yang tidak tahu apa-apa.
Minggu, 04 Agustus 2019
Baca, Baca, Baca!
Ih, gatel juga tangan
saya untuk segera mengetik dan membahas tentang uneg-uneg saya. Apalagi sedang
viral pemboikotan dan perampasan sejumlah buku yang dianggap ‘membahayakan’
oleh beberapa pihak di beberapa toko buku. Bahkan, 2 mahasiswa yang menggelar
baca buku gratis pun terkena cydux.
Di mana tujuan utama mereka, yang saya yakini berawal dar niat baik untuk
meningkatkan minat baca, berujung pada interogasi pihak berwajib. Kesalahan
mereka hanya satu: menyajikan buku yang dianggap ‘dosa’. Cek deh di gugel!
Sangat disayangkan,
temans. Survei yang menunjukkan bahwa
minat baca masyarakat Indonesia sudah taraf memprihatinkan, ditambah gangguan gadget yang tidak digunakan sesuai
kebutuhan, sekarang ditambah dengan disisirnya beberapa buku dengan judul
‘kiri’.
Begini, saya
terjemahkan menurut perspektif saya. Sebenarnya apa sih tujuan penulis itu?
Menurut saya pribadi adalah:
1.
Menuangkan ide dan memberikan informasi.
2.
Sebagai sarana hiburan dan mengembangkan
imajinasi.
Dari dua alasan yang
menurut saya sudah umum, tentunya kedua alasan tadi juga secara tidak langsung
akan dirasakan oleh pembaca. Pertama, pembaca bisa menemukan ide baru dan
tentunya informasi gres yang bahkan
belum pernah didapatkan sebelumnya. Saya yang tiap hari baca saja masih merasa
bodoh gak ketulungan. Apa kabar yang bahkan babarblas
gak pernah baca dan nyentuh buku?
Kedua, dengan membaca
ternyata penikmat buku diberikan ruang untuk berimajinasi dan merasa terhibur.
Lalu apa kabar mereka yang tidak pernah mengolah pikiran kreatif mereka karena
enggan berdekatan dengan bacaan?
Perkara pembaca akan
‘terhasut’ atau tepengaruh dengan isi buku, rasanya perlu tes ketangguhan hati.
Tidak semua buku akan langsung berpengaruh detik itu juga. Pembaca yang cerdas adalah
mereka yang mampu mengolah dan mencari korelasi dari satu bacaan ke bacaan
lainnya. Pembaca yang baik tidak langsung begitu saja termakan oleh satu
bacaan. Terlalu naif jika dengan satu buku, pikiran kita akan berubah dari A
menjadi X.
Wah, banyak-banyakin
deh buka buku dan cari bacaan yang lain. Kalau sampai terpengaruh oleh satu
buku saja, berarti harus cek ulang tingkat kewarasannya.
Membaca sekarang
dipermudah dengan kehadiran e-book.
Gak perlu bayar mahal dan antri panjang di toko buku hanya untuk mendapatkan
bacaan yang bagus. Cukup searching
atau buka aplikasi tertentu, klik, silakan dinikmati deh tuh isinya.
Ironisnya, saat ini
yang berkembang dan banyak terjadi adalah: menghakimi
buku yang dianggap berbahaya!
Sebentar, rasanya saya
perlu ceritakan bahwa saya juga mempelajari Injil dan membaca Weda. Apakah
keyakinan saya langsung berubah berdasarkan agama dari kedua kitab suci itu?
Tidak, kawans! Keyakinan ada di hati. Namun saya jadikan kedua kitab suci itu
sebagai bahan untuk menambah wawasan saya agar berkembang –bukan
membandingkan-.
Selain itu, saya juga
mempelajari buku-buku yang menceritakan etnis China dan kehidupan biarawati.
Apakah dengan membacanya otomatis kulit saya berubah jadi putih cling dan mata menjadi sipit? Tentu
tidak!
Saran saya, beli dulu
bukunya, baca isinya, baru kemudian tentukan pilihan. Atau jangan-jangan kalian
gak mampu beli jadi main rampas gitu aja?
Rabu, 31 Juli 2019
Tak Semanis Itu
Tak
Semanis Itu
Namaku Gendis. Biasanya dipanggil
Ninis. Entah dari mana pangkalnya hingga D berganti N secara masif. Mungkin karena
aku terlihat manis, mereka spontan memanggilku Nis dan diulangnya menjadi
Ninis. Kalau dilihat-lihat, memang aku berparas manis. Jadi tak salah penilaian
orang terhadapku. Bukankah yang menilai diri kita adalah orang lain? Bukankah tugas
kita memang membuat bahagia orang lain? Ya, memang begitu alurnya.
Aku suka dipuji dan
tentu saja orang pertama yang selalu memujiku berkali-kali tiada henti adalah
Ayahku. Ibuku tak pernah melakukan itu karena kata ayah, ibu sudah berpulang. Entah
pulang kemana. Saat itu aku kelas dua SD dan memang tidak tahu maksud dari ‘berpulang’
itu.
Setiap pagi ayah
selalu menyisir rambutku dengan rapi ketika hendak berangkat sekolah. Teman-temanku
banyak yang menaruh iri karena ayah mereka tidak ada yang peduli dengan kondisi
rambut mereka. Entah banyak kutu, pirang, atau tak pernah potong rambut sekali
pun. Jadi tak usah heran jika aku selalu terlihat rapi dan bersih dari ujung
rambut hingga ujung kaki.
Banyak teman-teman
lelakiku yang usil menggoda. Tapi aku tidak selemah itu. Aku adalah perempuan
tercerewet di kelas. Aku berani memukul perut Johan saat ia ketahuan mengintip
rok Mita. Johan harus menerima rintihan akibat perbuatannya. Belum lagi aku
harus menjewer telingan Agus dan Priyo ketika mereka menarik kuncir rambut
Sedayu. Ya, Sedayu yang gampang menangis itu adalah sasaran empuk anak-anak
usil yang tidak tahu malu. Tapi untung saja aku sigap membela Sedayu sebelum
seluruh rambut Sedayu benar-benar rontok. Tidak bagus juga untuk Sedayu yang
cantik jika esok hari harus sekolah dengan kepala botak hanya karena beberapa
bagian rambutnya dipotong dengan paksa.
Aku adalah siswa
paling rewel jika ada anak yang susah mengerjakan bilangan bulat atau pecahan. Apalagi
pelajaran itu sudah diulang berpuluh kali oleh guru kami, Bu As. Kasihan Bu As
jika siswanya tidak pernah nyambung saat diberi pelajaran. Aku yang harus teriak-teriak
menenangkan teman-teman satu kelas saat jam kosong. Sampai SD kelas enam
jabatanku berangkap-rangkap. Ketua kelas iya, sekretaris iya, bendahara iya. Atau
bahkan tanpa sepengetahuanku, aku sudah ‘dilantik’ menjadi Menteri Pertahanan
dan Keamanan kelas oleh Bu As.
Saat usiaku memasuki
dua belas tahun, SD kelas enam kala itu, ayah semakin perhatian terhadapku. Aku
dibelikannya hand and body lotion dengan aroma mawar. Wah,
harum sekai. Aku jadi suka mengoleskannya hampir di semua bagian tubuhku. Karena
saat kubaca cara pakainya, lotion itu memang digunakan untuk tangan
dan badan. Jadi aku tidak salah mengaplikasikannya, kan?
Sejak saat itu,
semakin banyak mata yang terpesona melihatku. Belum lagi aku semakin gemar
bersolek dengan membeli banyak krim untuk wajah, beberapa bedak, dan pernah
mencoba membeli eyeshadow. Tak perlu
berburuk sangka, sampai aku SMA, eyeshadow
itu hanya kupakai sekali saja, itu pun saat baru membeli kemudian kuhapus lagi
karena kulihat mataku menjadi aneh, seperti bengkak.
Umurku sudah
empatbelas tahun saat aku memulainya. Ya, aku memulai sebuah ritual yang awalnya
ganjil tapi lambat laun menjadi kebiasaan. Hampir setiap malam, aku mengendap
ke kamar gelap dan di sana sudah menunggu ayahku. Ayah bilang, dengan melakukan
ritual itu, pesonaku semakin terpancar. Aku yang memang senang akan pujian
tentu saja manut. Meskipun mulanya aku merasa tubuhku bau dan lembab entah
karena basah atau hanya perasaanku saja.
Malam pertama
melakukannya, aku serba salah dan merasa sekujur tubuhku lengket. Malam-malam
berikutnya tugasku adalah mendesah dan menggelinjang. Lambat laun aku sudah
bisa mengikuti ritme dan alurnya.
Namun sejak itu juga
aku merasa ada yang berubah dalam diriku. Aku lebih pendiam. Predikatku sebagai
siswa tercerewet menguap. Orang-orang terlihat maklum saja melihat perubahanku.
Mereka bilang aku sudah beranjak remaja, gadis desa, dan memang sudah bisa
mengontrol emosi. Itu pandangan mereka. Tapi terus terang saja bukan itu yang
aku rasakan, walaupun aku hanya mengangguk manis saat banyak orang memuji
perubahanku yang terlihat lebih kalem.
Tapi tidak pada
bulan-bulan berikutnya. Banyak mata melihatku dengan aneh. Tak jarang yang
mencibir hingga terang-terangan bertanya kepadaku. Pertanyaan-pertanyaan yang menganggu
terus saja dilontarkan oleh mulut-mulut usil kurang kerjaan. Mereka yang
awalnya memuji sekarang justru berbalik mencela. Teman-teman baikku yang dulu
selalu kubela, saat ini banyak yang menghindar dengan berbagai alasan.
“Nis, bapakmu kok
nggak kawin lagi?” atau “Nis, kok gendutan?” atau yang lebih langsung tepat
sasaran, “Hamil ya, Nis?” Diam adalah pilihan saat banyak terlontar berbagai
tanya yang justru memang tidak bisa kujawab. Sudah kubilang, hidup ini tugasnya
adalah untuk memenuhi kebutuhan orang lain baik itu melayani pertanyaan atau
sajian penampilan. Seperti saat ini aku yang terus diserang oleh hal yang
sebenarnya menguliti diriku sendiri. Ironi sekali, bukan?
Memang waktu yang
akan menjawab. Saat banyak cibiran datang, saat itu juga aku merasa ada
perubahan dalam tubuhku. Aku gampang sakit-sakitan dan masuk angin. Badanku sering
demam dan seringkali aku muntah tanpa sebab. Kepala mendadak pusing seperti
kekurangan darah. Ayah membawaku ke bidan terdekat. Hasilnya tentu sudah bisa
kalian terka.
Tak butuh waktu
lama, aku dan Ayahku memutuskan menghindari tatapan sinis banyak orang dengan
segera pergi dari tempat tinggal kami. Biarkan mereka sibuk berceloteh asal ayahku
tetap menjagaku.
Sekolahku putus
begitu saja. Aku tidak memikirkan banyak hal kecuali kesehatanku dan
kebersamaan dengan ayahku. Bagaimana dengan ritual kami? Kami terus
melakukannya. Entah apa yang ada di benak kami sehingga kami masih saja
bergelung di kamar gelap hingga bertahun-tahun lamanya. Anehnya, aku tidak
pernah membenci ayahku. Di dunia ini hanya ayah yang menjaga dan melindungiku
meskipun...ah!
Lagi-lagi waktu
memainkan perannya. Ayahku tiba-tiba ambruk setelah keluar dari kamar mandi. Detik
itu juga Ayahku tak bergerak lagi. Bagaimana rasanya kehilangan seorang ayah? Tak
bisa kuceritakan.
Aku memutuskan pergi
ke kota berkat ajakan seorang kenalan ayah. Di sana aku menumpang hidup sampai
waktu itu tiba. Kenalan Ayah dengan seenak udelnya berkata, “Kamu bekerja saja
dengan baik. Layani mereka dengan sopan. Biar dia kubawa, tak usah kau tanya
lagi.”
Tak pernah lagi aku
secerewet dulu. Aku bungkam dan memilih
menuruti petuah kenalan ayah karena kupikir itulah yang terbaik.
Namaku Gendis. Saat ini
aku tidak lagi dipanggil Ninis. Bersamaku sebatang rokok menyala dan melekat
baju dengan kain kurang bahan.
Selasa, 30 Juli 2019
Rindu Julian
Ketika memutuskan untuk menceritakan
kisah ini, aku sedang menunggu seesorang yang memang membuat ‘janji’ denganku. Kopiku
sudah terasa hangat, waktuku untuk menyeruput. Butuh waktu sekitar enam atau
tujuh menit bagiku untuk siap menikmati kopi dengan suhu yang sesuai
menurutku.
Adalah hal klasik jika seseorang duduk
di pojok cafe, ditemani rintik hujan
dan dengan suasana senja temaram. Persis seperti cerita di film atau
novel roman. Harus kuakui jika suasana seperti ini sangat menjual. Hujan,
senja, dan kopi adalah sesuatu yang sangat komersil. Nyatanya, aku mengalaminya
sendiri. Satu lagi, suasana seperti ini tentu menggambarkan suasana hati yang
gundah atau sedang putus cinta.
Bedanya, aku sedang jatuh cinta. Meskipun
aku didukung oleh hujan, senja, dan kopi, nyatanya aku sedang tidak patah hati.
Justru sebaliknya.
Minggu lalu aku baru saja membuat pakta
dengan seorang gadis yang tentu saja sudah masuk daftar seleksi dari banyaknya
perempuan yang sudah tiga tahun terakhir dekat denganku. Aku adalah tipe
manusia berjakun yang susah untuk jatuh cinta. Pasalnya aku pernah sangat
terluka. Banyak yang mengira bahwa aku adalah sosok badboy dengan dandanan cuek ditambah tampang yang lumayan untuk
memikat banyak gadis. Pembawaanku santai, bisa dikatakan supel, cenderung
banyak yang menganggapku playboy. Tentu
saja stigma itu muncul karena aku dengan kerelaan hati sering tidak bisa
menolak permintaan beberapa gadis untuk ditemani hanya untuk ngobrol atau
sekedar makan malam. Tapi di balik itu semua, hatiku sudah tertambat. Ya,
tertambat oleh luka yang jika kuingat akan menyisakan perih. Asal kamu tahu,
aku memang pandai menyembunyikan luka. Tak banyak yang tahu saat aku terpuruk
dan berada di titik terendah. Aku selalu menunjukkan bahwa semuanya baik-baik
saja, tak ada apa-apa, dan i’ll be okay!
Baik, sembari menunggu pesanan nasi
gorengku, meskipun kopi sangat tidak nyambung dengan nasi goreng, biar saja,
aku lapar, aku akan ceritakan bagaimana patah dan sakitnya hatiku.
Di luar langit masih mendung. Kali ini
aku susah untuk membedakan apakah sudah benar-benar malam atau memang langit
sedang gelap karena tertutup awan. Kulihat jam yang menempel pada dinding cafe. Sudah pukul lima lebih tigabelas.
“Aku masih banyak tugas. Besok harus dikumpulkan.
Aku kerjakan di kamarmu, ya?” Sebenarnya kamu bukan bertanya atau meminta saat
mengatakan itu. Buktinya buku-bukumu beserta banyaknya kertas sudah berserakan
di lantai kamarku. Aku hanya mengangguk saja, antara pasrah karena kamarku
terlihat sangat berantakan dan senang karena seharian ini bisa bersamamu.
“Tidak ada kelas?” tanyamu sambil terus
menulis, tidak sedikit pun menoleh padaku. Padahal pertanyaan itu jelas terarah
padaku. Aku maklum karena di kamar ini hanya ada kita berdua, tentu kamu tak
perlu sibuk mengangkat kepala dan sudah pasti pertanyaan itu untukku.
Lagi malas, jawabku kala itu. Aku menyulut
rokok dan duduk bersandar di pintu yang terbuka. Kamu adalah perempuan yang
tidak cerewet saat aku sibuk merokok. Kamu hanya akan marah jika aku lupa solat
atau sibuk party dan mabuk-mabukan. Jika kedua hal itu sampai
ketahuan olehmu, bisa jadi seminggu tidak akan keluar satu kata pun dari bibir
mungilmu. Kamu adalah orang yang konsisten. Ya, konsisten dan kuat untuk diam
saat marah. Padahal kalau kamu sedang baik dan tidak PMS, banyak cerita yang
keluar dan selalu banyak tawa saat kita bersama. Kamu yang lucu, aku yang
konyol, kamu yang tertib, aku yang urakan, kamu yang populer, aku yang sangat
jatuh cinta padamu, dan aku senang saat kamu memelukku atau menciumku tanda
terima kasih sudah diantar pulang atau jalan-jalan adalah hal-hal yang tidak
pernah bisa aku lupakan sampai saat ini.
“Kalau bolos terus, kapan selesainya?”
tanyamu sedikit ketus.
Ah, kamu memang suka judes kalau
menyangkut masa depan. Ya, aku bolos kuliah juga salah satu hal yang paling
kamu selidik dari kehidupanku. Padahal hal yang paling aku senangi di kampus
adalah saat-saat mengantar dan menjemputmu kuliah. Waktu itu aku merasa seperti
pangeran berkuda putih yang menjemput puteri tercintanya. Aku tidak mau kamu
sibuk dengan teman-temanmu saat kelas sudah usai. Aku ingin buru-buru
menjemputmu dan membawamu pulang ke kamarku. Apalagi jika aku melihat kamu
bercengkrama dengan beberapa teman priamu, tertawa lepas, bahkan tak jarang
saling pukul atau tinju-tinju kecil di antara gelak itu. Aku tak suka. Terus terang
saja aku cemburu.
Malam itu kamu kembali sibuk dengan
beberapa tugas. Lama-lama aku bosan dengan kegiatanmu. Kamu sudah jarang bisa
diajak jalan-jalan seperti sebelum jadwal kuliahmu penuh. Kamu terlalu banyak
mengambil SKS. Aku tak suka dengan kamu yang seperti itu meskipun banyak yang
bilang kamu adalah gadis populer dan pintar di kampus. Seharusnya aku bangga
dengan predikatmu, tapi aku bukan pria wajar yang rela melihatmu sibuk dan aku
merasa diabaikan.
Kamu terus saja menulis, membuka-buka
buku-buku tebal yang kamu sebut referensi, dan terus diam larut dalam tugas. Aku
berdehem hanya untuk sekedar mencari perhatian. Kamu bergeming. Kusulut sebatang
rokok, kuhembuskan dan kumainkan asapnya agar aku sedikit ada aktivitas.
Setelah sekitar setengah jam, kulihat
kamu membereskan kertas-kertasmu. Ah, ini waktunya kamu utuh jadi milikku,
pikirku kala itu.
Tanpa pikir panjang, kumatikan rokokku
sembarangan. Kuhampiri kamu yang sibuk memasukkan buku ke dalam tas. Kuacak-acak
rambutmu agar kamu terhibur. Kamu terlihat biasa saja. Ah, mungkin kamu
pura-pura, ingin diperlakukan lebih. Kontan saja, aku segera mengecup keningmu
dan ternyata kamu membalas lebih dari itu.
Kamu menerobos saja, menggigit bibirku. Tentu
saja aku senang. Karena aku laki-laki yang punya jiwa tak mau kalah, kubalas
ciumanmu dengan lebih ganas. Seperti biasa, kita bergelung saling sikut di
kasur. Kamu semakin beringas dan aku tambah ganas. Sayangnya, setelah dua tahun
kita bergelung, adegan terakhir selalu sebatas ciuman, tak lebih.
Pernah di sudut hatiku merasa kecewa
dengan ending yang begitu-begitu saja. Tapi aku tidak pernah
bisa memaksamu untuk menerima saluran hasratku sebagai lelaki.
“Aku sudah capek. Sepertinya tidak ada
harapan,” ujarmu tiba-tiba setelah kita sibuk tertawa dan saling lempar ciuman.
Tentu saja aku tidak paham apa maksudmu.
“Rasanya tidak ada kepastian dengan apa
yang kita jalani.” Setelahnya kamu diam dan kembali sibuk membenahi isi tasmu. Rasanya
itu hanya adegan pura-pura agar kamu tak terlihat grogi.
Kali ini aku paham, meskipun aku tidak
pernah siap dengan kejadian ini. Aku yang selalu membayangkan kita akan
selamanya bisa seperti ini, ternyata hanya dengan kata ‘capek, harapan, dan
kepastian’, aku harus benar-benar mengubur semuanya.
Bagimu semuanya simple. Setelah kamu bilang “usai saja”, kamu melenggang entah
kemana. Aku? Jelas saja aku tidak tahu akan kemana. Kita tidak pernah bertemu
lagi setelah itu, nomormu ganti, dan kamu seolah menghilang begitu saja.
Pelukan-pelukan itu, ciuman-ciuman itu,
tawa-tawa itu, sirna semua.
Tak ada lagi makan malam bersama, tak
ada lagi antar jemput kuliah, tak ada lagi pertengkaran kecil karena aku sengaja
tidak solat dan jelas aku kembali party
dan terus-menerus mabuk. Berhari-hari aku menjadi kacau. Bukan. Berbulan-bulan,
bahkan bertahun-tahun hingga saat ini. Terhitung sudah limabelas tahun.
Aku menyimpan luka selama itu. Bisa kau
bayangkan bagaimana palsunya hidupku.
Hatiku nyeri bahkan sampai saat ini saat
menunggumu. Alunan musik menambah syahdu, tapi tidak dengan hatiku. Kuseruput
kopiku yang hampir tandas menyisakan ampas. Nasi gorengku sudah dingin dan aku
tidak lagi berselera untuk menyantapnya. Kamu belum juga datang.
Kubuka lagi pesan yang kamu kirimkan
semalam.
“Aku rindu, Julian!”
Ternyata selama belasan tahun aku masih
belum mengenalmu dengan baik. Kupikir pesan itu isyarat untuk melebur rindu. Aku
sudah tahu tempat dan waktunya, hanya sampai saat ini aku belum tahu isi
hatimu.
Kopiku tinggal ampas, nasi gorengku
sudah tak menarik, dan hatiku masih terluka.
Minggu, 21 April 2019
Semoga SELAMAT sampai Tujuan.
Selamat pagi Indonesia!
Bagaimana kondisi hati saat ini? Apakah masih panas gegara Pilpres 2019 atau sudah dihangatkan dengan peringatan Hari Kartini?
Aduh, kalau ngomongin Pilpres emang gak ada habisnya. Makan hati, pikiran gak tenang, juga kadang sibuk cari bahan untuk ngelawaan. Lho, Madame kok tahu? Iyalah! Beberapa kali sempat debat kusir saling membela calon, trus dikata-katain yang aneh-aneh, belum lagi kepikiran untuk berniat balas dendam yang mengakibatkan malamnya susah tidur. Besoknya pas kerja ngantuk berat. Karena Madame masih mau waras, saatnya untuk 'bersih-bersih' diri.
'Bersih-bersih' yang dimaksudkan adalah dengan mendetoks pikiran agar gak ribet sama Pilpres yang mulai menyisir mana nama yang penting dan gak penting di kontak HP.
Bukan mau memutus silaturahmi, bukan! Tapi ini lebih ke moment menenangkan diri. Sebenarnya Madame bukan tipe yang gampang ngapus kontak, sih! Tapi ini udah kelewat batas sampe bawa-bawa agama and intelektualitas.
Madame kembali merenung, apakah ini baik untuk dilakukan? Madame menganalisa sisi postif dan negatifnya. Rasanya memang benar-benar harus keluar dari orang-orang yang bikin gak nyaman. Iya kan? Bermusuhan sih nggak, ya. Ini adalah jalan yang Madame tempuh untuk bisa mengademkan pikiran dan mata aja.
Sebenarnya Madame sih kebal aja dikatain yang enggak-enggak. Tapi mungkin Madame sedang sensitif dan berusaha menjaga harga diri. Penting, lho! Dengan cara apa? Ya Madame sudah merendah, serendah-rendahnya sampai tiarap dan akhirnya berusaha untuk menghindari pertikaian untuk kembali bangkit di sisi lain.
Oke, cukup sudah bertengkar dan sakit hatinya. Saatnya Madame kembali ke habitat. Madame kembali menulis, sibuk baca majalah, ngobrol dengan suami, cerita-cerita sama anak-anak, dan fokus untuk mendoakan anak-anak kelas 6 yang Ujian Nasional dimulai hari ini.
Mengenakan kebaya kuning berjilbab merah maroon, Madame harus move on dari segala hiruk pikuk komen-komen gak jelas. Meskipun masih suka stalking IG dan FB, tapi jari-jari harus direm. Wajarlah, namanya juga manusia. Setan ada di sekililing. Kalau gak membentengi diri sendiri, gimana mau bertahan? Iya gak?
Sesuai dengan tujuan awal Madame, Madame ingin tebar kebaikan&berusaha melakukan yang terbaik apa pun itu.
Sudahi mencaci maki dan saling dengki. Itu bukan porsi Madame untuk ikut ribet ngurusi yang bukan bagiannya.
Mulai sekarang, yuk kembali ke lingkungan positif!
Selamat Hari Kartini. Selamat Hari Bumi Dunia. Selamat Ujian Nasional SD-SMP. Selamat sibuk dengan banyak hal. Selamat menulis di blog lagi, Bu Madame. Dan semoga kita semua selamat sampai tujuan.
I Love You!
Jumat, 02 November 2018
Sudah Bilang I Love You?
Sudah Bilang I Love
You?
Oleh: Vika Varia
Matovana
Berbicara
perihal pola hidup sehat, sudah jamak dibahas tentang makanan seimbang,
olahraga teratur, istirahat yang cukup, atau kebutuhan menjaga fisik sesuai
anjuran praktisi kesehatan. Padahal, untuk menjadi sehat sudah barang tentu
tidak hanya berbicara tentang jasmani saja, melainkan jiwa atau rohani patut
menjadi isu yang layak untuk dibahas pula.
Jasmani
dan rohani memang dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Mereka adalah satu
kesatuan yang harus bisa berjalan seirama. Bisa dibayangkan kalau salah satu
dari mereka sedang mengalami kegagalan fungsi. Bisa dipastikan kondisi kita
menjadi sedikit terganggu dan kita serta merta mencari solusi untuk membuat semuanya
kembali menjadi seimbang.
Oleh
karena itu, pola hidup sehat yang akan kita bahas kali ini adalah secuil
tentang pola asuh anak yang berkaitan tentang rohani. Bahasan kita sederhana
saja, yaitu tentang hak anak untuk mendengar sesuatu yang baik demi
kelangsungan pemenuhan jiwanya agar terus merasa positif.
Terkesan
sulit memang mengajarkan si Anak yang masih berada di dalam kandungan atau bayi
yang baru lahir bisa memahami apa yang kita ungkapkan. Bahkan bisa dikatakan
mustahil. Tapi percayakah Anda bahwa janin dan bayi bisa menerjemahkan bahasa yang
kita sampaikan kepada mereka? Melalui mimik dan gesture penyampaian kita, mereka tentu paham tentang apa yang kita
bicarakan. Satu hal yang perlu diketahui, mereka juga ternyata juga bisa
memberi umpan balik dan jawaban terhadap apa yang kita sampaikan. Bagaimana caranya?
Kerjapan mata, rekahan senyum, dan polah mereka adalah tanda dari jawaban itu.
Sejak
kita mengetahui dan menyadari bahwa ada Malaikat Kecil yang sedang menunggu
untuk dilahirkan ke dunia, hal penting yang harus dilakukan adalah memenuhi
kebutuhannya agar merasa terus disayang oleh kita. Belaian lembut dan doa serta
harapan yang baik tidak pernah terhenti terucap dari hati dan mulut kita.
Nah,
lontaran seperti apa yang baik untuk diucapkan? Banyak sekali kata atau kalimat
baik yang bisa disampaikan kepada Malaikat Kecil kita. Salah satunya adalah
terus mengucapkan I Love You. Terkesan
gombal dan pasaran, memang. Tetapi di balik kalimat itu, terselip makna bahwa
kita benar-benar mencintainya sepenuh hati. Bahwa kita adalah orang yang
benar-benar menginginkannya untuk tumbuh dan berkembang dengan cinta.
Sejak
kecil, si Anak yang terus menerus mendengar kalimat I Love
You yang tulus dari kita dan orang lain di sekitarnya, menjadikannya tumbuh
menjadi sosok yang bisa dengan sangat mudah menebar kasih. Di telinganya terus
didengungkan kalimat dan kata cinta disertai dengan doa-doa baik lainnya.
Pernah
mendengar kisah dua gelas air yang di mana salah satunya terus dibisikkan kata
cinta dan kalimat positif lainnya, sementara yang lain didengungkan kalimat
atau kata negatif. Apa yang terjadi pada dua gelas air tersebut? Gelas pertama
yang dibelai dengan cinta, partikel airnya menyerupai kristal-kristal cantik. Sebaliknya,
gelas yang lain menjadikan partikelnya keruh dan tidak menarik untuk dilihat.
Begitu
pula dengan anak kita. Sejak kecil, kalimat cinta, harapan, dan doa baik jika
terus digaungkan, akan membuat hatinya menjadi cantik dan secara tidak sadar
kecantikan hatinya akan membawa pengaruh positif pada lingkungan sekitar.
Lantas,
apakah kalimat I Love You bisa menjadikan
hidup menjadi sehat? Jiwa yang diselimuti oleh mosi positif, sudah barang tentu
menjadikan fisik menjadi lebih sehat dan mental menjadi lebih kuat. Bukankah kita
sudah kerap mendengar ‘Di Dalam Hidup yang Sehat, Terdapat Jiwa yang Kuat’? Rasanya
kita tidak perlu lagi memusingkan lagi kalimat bijak itu.
Kita
sebagai orang tua, tentu saja ingin melihat anak kita tumbuh dan berkembang dengan
penuh cinta dan mampu menebarkan kebaikan itu. Kalau bukan kita yang memulainya
sejak dini, lantas siapa dan mau kapan lagi? So, sudahkah kita mengucapkan I Love You pada buah hati kita hari ini?
#1000HariTerbaik
#1000HariPertamaAnanda
#KawanGNFI
Langganan:
Postingan (Atom)
