Jumat, 03 Juli 2020

Seperti Apa Kehidupan Kita?

Selamat pagi. Weekend dengan kondisi masih pandemi, jelas tidak bisa kemana-mana.
Okay, pagi ini saya akan bercerita tentang kisah 5 perempuan. Mereka adalah manusia biasa yang mempunyai naluri dan tentu ingin dimanusiakan.
Begini, sekitar 1 minggu ini, saya tiba-tiba saya diberondong dengan begitu banyak cerita tentang kehidupan. Mari kita simak.👇
1. Sebut saja namanya Jeng. Ibu dari dua anak, pekerja, dan memiliki kehidupan bahagia dengan keluarga kecilnya. Tak ada yang kurang dalam kehidupannya. Sampai suatu ketika dia "terjebak" dalam sebuah situasi yang membuatnya akhirnya merasa terperangkap pada hubungan dengan teman kerjanya. Memang situasi yang tidak nyaman. Hubungan dengan kondisi sembunyi-sembunyi, harus atur waktu, membagi perasaan, dan tentu menambah ruang untuk tempat sakit hati. Iyalah, kan harus berbagi. Apalagi 'Si Pacar' juga milik orang lain. Manusiawi kalau ada sifat posesif dan berakhir cemburu. Seolah merasa bahwa KAMU adalah milikku. Kisah ini berjalan 2 tahun lamanya dengan banyak sekali lika-liku dan luka-luka.
Hubungan seperti ini memang tidak pernah bisa berakhir bahagia. Selanjutnya sudah bisa diterka. Mereka berpisah dalam keadaan sama-sama kecewa. Kecewa karena menyesal, menyisakan sakit hati, dan tentu saja tidak ada untungnya sama sekali.
2. Pay yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja, ternyata mampu menarik hati Bejo, pemuda konglomerat, berkat paras manisnya. Tak butuh banyak cingcong, mereka memutuskan menikah di usia masih belia, sekitar 13 dan 15 tahun. Kehidupannya jangan tanya. Glamour! Mewah sekali. Mobil dan rumah tinggal pakai. Uang bulanan lancar dari mertua. Apalagi?
Ternyata, Si Bejo sudah mulai beranjak memperluas pertemanan. Bejo bergaul dengan banyak orang, jaringannya melewati bisnis-bisnis kelas atas. Pay yang polos tentu saja shock dengan pergaulan Bejo yang sekarang. Pay yang yakin jika Bejo dulu sangat mencintai kesederhanaannya, kini punya pandangan yang berbeda. Bejo sekarang lebih menyukai wanita bergincu, rambut warna-warni, dan pakaian sexy. Sementara Pay sudah disibukkan dengan 2 balita, tak sempat untuk mengubah penampilan. Pay kalah langkah mengikuti kehidupan Bejo yang semakin melesat.
Apa yang terjadi? Bejo sering membawa pulang wanita sexy, membuat ruang karaoke di rumah, dan mulai mengumpulkan banyak teman.
Pay tersingkirkan. 2 anak terabaikan.
Bejo dengan dunia barunya, Pay kembali dengan daster dan kedua orang tuanya yang sederhana.
3. Kisah Sasha dan Wiya hampir serupa. Masa pacaran yang tak terkendali, membuat keduanya harus menanggung resiko "menikah" di tengah kondisi hampir menjadi seorang ibu. Semua terpaksa dilakukan agar tidak banyak omongan di luaran. Kondisi suami yang tidak bekerja, tidak siap dalam membina rumah tangga, dan ada bayi yang harus dimanja. Tentu saja mertua tidak mungkin lepas tangan begitu saja. Tapi Sasha dan Wiya sebagai istri pasti menginginkan nafkah langsung dari tangan suami, bukan mertua. Sebagai perempuan, mereka juga ingin kehidupan normal seperti yang lain. Namun apa daya, suami jobless karena memang susah mencari kerja, sementara kebutuhan harian tidak bisa ditunda.
Apa yang terjadi? Pertengkaran terus menerus. Konflik dengan diri sendiri, suami, mertua, dan tentu tak nyaman di lingkungan. Korbannya adalah anak yang tidak tahu apa-apa.
4. Beda lagi dengan Esti. Story di media sosialnya bak sosialita.  Pelesir ke luar negeri, makan di restoran berkelas, bergaul dengan mereka berparas cantik, dan kemewahan lainnya yang tentu saja bikin nyengir netizen seperti saya. Hahahaha. Kehidupan Esti tak dapat dijangkau.
Namun apa yang terjadi? Di balik semua story WOWnya, Esti hampir didepak dari keluarga besar suami yang konglomerat karena sikap Esti yang berlebihan, gemar berfoya-foya, dan tak pandai mengelola rumah tangga. Esti  nyaris dicoret dari nama daftar warisan. Suami Esti yang terbiasa ongkang-ongkang nyatanya tak bisa mengambil alih keadaan. Wong gak punya peran.
Apa yang terjadi? Esti terus sibuk menunjukkan bahwa dia tetap bahagia dengan segala kemewahannya. Dia masih terus menebar pesona agar aura WOWnya tidak hilang begitu saja. Ia tidak mau kehilangan penggemar dengan cara terus memposting gambar dengan caption yang menarik perhatian.
Ah, cerita dari beberapa orang tentu saja membuat saya berpikir untuk mengkaji lebih lanjut tentang makna kehidupan.
Sejatinya apa sih yang kita cari dalam hidup? Apa sih yang mau kita capai dengan pasangan saat berumah tangga?
Well...
Hasil pemikiran saya dan diskusi dengan beberapa orang tentang kehidupan (rumah tangga) dapat disimpulkan bahwa:
1. Menikah haruslah dalam keadaan SADAR. Sadar di sini bukan berarti tidak mabuk atau tidak pingsan. Bukan! Sadar yang dimaksud adalah bagaimana kita bisa menyadari bahwa akan ada kehidupan selanjutnya yang harus dipertanggungjawabkan, baik untuk diri sendiri, pasangan, anak, dan keluarga besar. Jika menikah hanya karena terburu-buru (nafsu), berarti kalian belum SADAR. Harus segera ke dokter untuk cek kewarasan.
2. Mengimbangi pasangan dengan fondasi yang kuat.
Pernah saya tulis di story dan jadi prinsip saya bahwa,"Carilah pasangan yang cerdas, karena akan menentukan generasimu. Jika pasanganmu lebih cerdas, saatnya kamu banyak belajar dan intropeksi diri agar bisa mengimbangi."
Mengimbangi bisa dari banyak hal. Intelektualitas, kepribadian, finansial, dan menyeimbangkan sistem dalam diri (ego dan pemikiran). Jika salah satu masih ada yang timpang, perbaiki. Saya pernah menulis di blog dengan judul "Karena Cinta Nggak Ada Di Piring" mungkin bisa dibaca lagi.
3. Menciptakan bahagia.
Bahagia itu kita yang ciptakan. Jika hati dan pikiran masih saja sibuk dengan banyak hal remeh-temeh, tentu akan menguras tenaga. Ayolah mulai membenahi diri. Jika point 1 dan 2 merasa sudah ada miss, lebih baik diperbarui dengan cara berbicara dari hati ke hati dengan pasangan. Jika kita dan pasangan bahagia, tentu akan menular pada mereka yang ada di sekitar kita.
Saya tidak ada niat menggurui. 3 point di atas adalah murni dari pemikiran, renungan, serta diskusi dengan suami saya dan beberapa teman . Diikuti monggo, tidak diikuti lebih baik dibaca lagi, deh! Hahahaha

Senin, 29 Juni 2020

Bertempurlah dengan (Minimal) Amunisi yang Sama

Pagi ini saya kembali menulis karena memang sedang terusik oleh suatu hal. Tiba-tiba saya mendapat kabar bahwa salah satu teman yang pernah saya tulis kehidupannya di blog, jadi sorotan negatif. Intinya, karena tulisan saya terdahulu (tahun  2012) 'seolah-olah'membuka aibnya dan dijadikan senjata oleh orang yang tidak menyukainya.
Oke. Saya akui kebanyakan tulisan saya lebih bersifat subjektif. Hal ini dikarenakan banyak sekali teman yang curhat dan kisahnya siap untuk dipublikasikan. Saya menyamarkan nama tokoh juga karena permintaan. Selama yang saya tulis berbentuk hiburan, motivasi, dan kejujuran, biasanya saya tidak pernah pakai inisial atau alias. Saya modelnya terbuka dan terkesan ekstrovert.
Begini, kisah tulisan saya sudah terjadi 8 tahun lalu dan seharusnya tidak perlu diungkit kembali karena kehidupan manusia terus bermutasi, bahkan bisa jadi banyak yang beresolusi dan sudah tidak sama lagi dengan kemarin. Memang, tulisan itu abadi. Seberapa lama rentang waktu, tulisan itu adalah bukti sejarah tak terbantah. Nah, tugas kita sebagai manusia yang sudah melewati banyak hal, ada baiknya bisa melihat sebuah kisah sejarah dari perspektif lain.  Bisa dijadikan pelajaran, peringatan, atau bahkan tetap dijadikan hiburan. Baper tentu saja boleh. Tapi kalau diulas hanya untuk saling menyakiti, sepertinya juga kurang bermanfaat baik dari segi fisik maupun kejiwaan. Telaahlah dengan baik.
Jadi begini, jika kamu merasa dengan membaca sejarah, kamu punya amunisi untuk mengolok dan menyemai kebencian, berarti senjatamu tidaklah pamungkas. Kamu hanya menggunakan opini dan pemikiran orang lain. Kamu hanya 'meminjam' kekuatan orang hanya untuk memuaskan birahi dan nafsumu. Kamu sebenarnya lemah dan tidak punya kekuatan sendiri jika terus menerus mengolok, mencaci, dan terus menguras emosi dari amunisi pinjaman itu.
Berperanglah secara elegan. Gunakan kekuatanmu sendiri. Tunjukkan amunisi terhebatmu.
Jika kamu gunakan sebuah tulisan orang lain sebagai senjata, serang balik musuhmu dengan sebuah tulisan juga. Menuliskan dengan cerdas. Toreh sebuah serangan dari guratan tanganmu sendiri.Buat opini dengan gaya kontradiktif. Lakukan serangan mematahkan agar musuhmu merasa terancam dengan tulisanmu. Bukan justru dengan berkoar-koar, menyebar droplet. Bisa jadi penyakit untuk sekitar. Jauh lebih berbahaya.
Jika sekarang rivalmu sedang melenggang dengan manisnya, serang dia dengan prestasimu yang tak terkalahkan. Buatlah gebrakan sejuta tepuk tangan untuk sebuah karyamu yang layak dipuji banyak orang. Tunjukkan dirimu di atas panggung kemewahan dengan berjuta sanjung atas masterpiece yang melambungkan namamu. Itu adalah cara balas dendam yang heroik, fantastis, dan musuhmu akan tersungkur tak berdaya.
Kalau sampai akhir 2020 kamu masih berkutat dengan perang mulut dan saling sindir, kamu tak ada bedanya dengan makhluk 'pra' yang tidak tahu apa-apa.

Minggu, 04 Agustus 2019

Baca, Baca, Baca!



Ih, gatel juga tangan saya untuk segera mengetik dan membahas tentang uneg-uneg saya. Apalagi sedang viral pemboikotan dan perampasan sejumlah buku yang dianggap ‘membahayakan’ oleh beberapa pihak di beberapa toko buku. Bahkan, 2 mahasiswa yang menggelar baca buku gratis pun terkena cydux. Di mana tujuan utama mereka, yang saya yakini berawal dar niat baik untuk meningkatkan minat baca, berujung pada interogasi pihak berwajib. Kesalahan mereka hanya satu: menyajikan buku yang dianggap ‘dosa’.  Cek deh di gugel!
Sangat disayangkan, temans.  Survei yang menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia sudah taraf memprihatinkan, ditambah gangguan gadget yang tidak digunakan sesuai kebutuhan, sekarang ditambah dengan disisirnya beberapa buku dengan judul ‘kiri’.
Begini, saya terjemahkan menurut perspektif saya. Sebenarnya apa sih tujuan penulis itu? Menurut saya pribadi adalah:
1.    Menuangkan ide dan memberikan informasi.
2.    Sebagai sarana hiburan dan mengembangkan imajinasi.
Dari dua alasan yang menurut saya sudah umum, tentunya kedua alasan tadi juga secara tidak langsung akan dirasakan oleh pembaca. Pertama, pembaca bisa menemukan ide baru dan tentunya informasi gres yang bahkan belum pernah didapatkan sebelumnya. Saya yang tiap hari baca saja masih merasa bodoh gak ketulungan. Apa kabar yang bahkan babarblas gak pernah baca dan nyentuh buku?
Kedua, dengan membaca ternyata penikmat buku diberikan ruang untuk berimajinasi dan merasa terhibur. Lalu apa kabar mereka yang tidak pernah mengolah pikiran kreatif mereka karena enggan berdekatan dengan bacaan?
Perkara pembaca akan ‘terhasut’ atau tepengaruh dengan isi buku, rasanya perlu tes ketangguhan hati. Tidak semua buku akan langsung berpengaruh detik itu juga. Pembaca yang cerdas adalah mereka yang mampu mengolah dan mencari korelasi dari satu bacaan ke bacaan lainnya. Pembaca yang baik tidak langsung begitu saja termakan oleh satu bacaan. Terlalu naif jika dengan satu buku, pikiran kita akan berubah dari A menjadi X.
Wah, banyak-banyakin deh buka buku dan cari bacaan yang lain. Kalau sampai terpengaruh oleh satu buku saja, berarti harus cek ulang tingkat kewarasannya.
Membaca sekarang dipermudah dengan kehadiran e-book. Gak perlu bayar mahal dan antri panjang di toko buku hanya untuk mendapatkan bacaan yang bagus. Cukup searching atau buka aplikasi tertentu, klik, silakan dinikmati deh tuh isinya.
Ironisnya, saat ini yang berkembang dan banyak terjadi adalah: menghakimi buku yang dianggap berbahaya!
Sebentar, rasanya saya perlu ceritakan bahwa saya juga mempelajari Injil dan membaca Weda. Apakah keyakinan saya langsung berubah berdasarkan agama dari kedua kitab suci itu? Tidak, kawans! Keyakinan ada di hati. Namun saya jadikan kedua kitab suci itu sebagai bahan untuk menambah wawasan saya agar berkembang –bukan membandingkan-.
Selain itu, saya juga mempelajari buku-buku yang menceritakan etnis China dan kehidupan biarawati. Apakah dengan membacanya otomatis kulit saya berubah jadi putih cling dan mata menjadi sipit? Tentu tidak!
Saran saya, beli dulu bukunya, baca isinya, baru kemudian tentukan pilihan. Atau jangan-jangan kalian gak mampu beli jadi main rampas gitu aja?

Rabu, 31 Juli 2019

Tak Semanis Itu




Tak Semanis Itu
Namaku Gendis. Biasanya dipanggil Ninis. Entah dari mana pangkalnya hingga D berganti N secara masif. Mungkin karena aku terlihat manis, mereka spontan memanggilku Nis dan diulangnya menjadi Ninis. Kalau dilihat-lihat, memang aku berparas manis. Jadi tak salah penilaian orang terhadapku. Bukankah yang menilai diri kita adalah orang lain? Bukankah tugas kita memang membuat bahagia orang lain? Ya, memang begitu alurnya.
Aku suka dipuji dan tentu saja orang pertama yang selalu memujiku berkali-kali tiada henti adalah Ayahku. Ibuku tak pernah melakukan itu karena kata ayah, ibu sudah berpulang. Entah pulang kemana. Saat itu aku kelas dua SD dan memang tidak tahu maksud dari ‘berpulang’ itu.
Setiap pagi ayah selalu menyisir rambutku dengan rapi ketika hendak berangkat sekolah. Teman-temanku banyak yang menaruh iri karena ayah mereka tidak ada yang peduli dengan kondisi rambut mereka. Entah banyak kutu, pirang, atau tak pernah potong rambut sekali pun. Jadi tak usah heran jika aku selalu terlihat rapi dan bersih dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Banyak teman-teman lelakiku yang usil menggoda. Tapi aku tidak selemah itu. Aku adalah perempuan tercerewet di kelas. Aku berani memukul perut Johan saat ia ketahuan mengintip rok Mita. Johan harus menerima rintihan akibat perbuatannya. Belum lagi aku harus menjewer telingan Agus dan Priyo ketika mereka menarik kuncir rambut Sedayu. Ya, Sedayu yang gampang menangis itu adalah sasaran empuk anak-anak usil yang tidak tahu malu. Tapi untung saja aku sigap membela Sedayu sebelum seluruh rambut Sedayu benar-benar rontok. Tidak bagus juga untuk Sedayu yang cantik jika esok hari harus sekolah dengan kepala botak hanya karena beberapa bagian rambutnya dipotong dengan paksa.
Aku adalah siswa paling rewel jika ada anak yang susah mengerjakan bilangan bulat atau pecahan. Apalagi pelajaran itu sudah diulang berpuluh kali oleh guru kami, Bu As. Kasihan Bu As jika siswanya tidak pernah nyambung saat diberi pelajaran. Aku yang harus teriak-teriak menenangkan teman-teman satu kelas saat jam kosong. Sampai SD kelas enam jabatanku berangkap-rangkap. Ketua kelas iya, sekretaris iya, bendahara iya. Atau bahkan tanpa sepengetahuanku, aku sudah ‘dilantik’ menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan kelas oleh Bu As.
Saat usiaku memasuki dua belas tahun, SD kelas enam kala itu, ayah semakin perhatian terhadapku. Aku dibelikannya hand and body lotion dengan aroma mawar. Wah, harum sekai. Aku jadi suka mengoleskannya hampir di semua bagian tubuhku. Karena saat kubaca cara pakainya,  lotion itu memang digunakan untuk tangan dan badan. Jadi aku tidak salah mengaplikasikannya, kan?
Sejak saat itu, semakin banyak mata yang terpesona melihatku. Belum lagi aku semakin gemar bersolek dengan membeli banyak krim untuk wajah, beberapa bedak, dan pernah mencoba membeli eyeshadow. Tak perlu berburuk sangka, sampai aku SMA, eyeshadow itu hanya kupakai sekali saja, itu pun saat baru membeli kemudian kuhapus lagi karena kulihat mataku menjadi aneh, seperti bengkak.
Umurku sudah empatbelas tahun saat aku memulainya. Ya, aku memulai sebuah ritual yang awalnya ganjil tapi lambat laun menjadi kebiasaan. Hampir setiap malam, aku mengendap ke kamar gelap dan di sana sudah menunggu ayahku. Ayah bilang, dengan melakukan ritual itu, pesonaku semakin terpancar. Aku yang memang senang akan pujian tentu saja manut. Meskipun mulanya aku merasa tubuhku bau dan lembab entah karena basah atau hanya perasaanku saja.
Malam pertama melakukannya, aku serba salah dan merasa sekujur tubuhku lengket. Malam-malam berikutnya tugasku adalah mendesah dan menggelinjang. Lambat laun aku sudah bisa mengikuti ritme dan alurnya.
Namun sejak itu juga aku merasa ada yang berubah dalam diriku. Aku lebih pendiam. Predikatku sebagai siswa tercerewet menguap. Orang-orang terlihat maklum saja melihat perubahanku. Mereka bilang aku sudah beranjak remaja, gadis desa, dan memang sudah bisa mengontrol emosi. Itu pandangan mereka. Tapi terus terang saja bukan itu yang aku rasakan, walaupun aku hanya mengangguk manis saat banyak orang memuji perubahanku yang terlihat lebih kalem.
Tapi tidak pada bulan-bulan berikutnya. Banyak mata melihatku dengan aneh. Tak jarang yang mencibir hingga terang-terangan bertanya kepadaku. Pertanyaan-pertanyaan yang menganggu terus saja dilontarkan oleh mulut-mulut usil kurang kerjaan. Mereka yang awalnya memuji sekarang justru berbalik mencela. Teman-teman baikku yang dulu selalu kubela, saat ini banyak yang menghindar dengan berbagai alasan.
“Nis, bapakmu kok nggak kawin lagi?” atau “Nis, kok gendutan?” atau yang lebih langsung tepat sasaran, “Hamil ya, Nis?” Diam adalah pilihan saat banyak terlontar berbagai tanya yang justru memang tidak bisa kujawab. Sudah kubilang, hidup ini tugasnya adalah untuk memenuhi kebutuhan orang lain baik itu melayani pertanyaan atau sajian penampilan. Seperti saat ini aku yang terus diserang oleh hal yang sebenarnya menguliti diriku sendiri. Ironi sekali, bukan?
Memang waktu yang akan menjawab. Saat banyak cibiran datang, saat itu juga aku merasa ada perubahan dalam tubuhku. Aku gampang sakit-sakitan dan masuk angin. Badanku sering demam dan seringkali aku muntah tanpa sebab. Kepala mendadak pusing seperti kekurangan darah. Ayah membawaku ke bidan terdekat. Hasilnya tentu sudah bisa kalian terka.
Tak butuh waktu lama, aku dan Ayahku memutuskan menghindari tatapan sinis banyak orang dengan segera pergi dari tempat tinggal kami. Biarkan mereka sibuk berceloteh asal ayahku tetap menjagaku.
Sekolahku putus begitu saja. Aku tidak memikirkan banyak hal kecuali kesehatanku dan kebersamaan dengan ayahku. Bagaimana dengan ritual kami? Kami terus melakukannya. Entah apa yang ada di benak kami sehingga kami masih saja bergelung di kamar gelap hingga bertahun-tahun lamanya. Anehnya, aku tidak pernah membenci ayahku. Di dunia ini hanya ayah yang menjaga dan melindungiku meskipun...ah!
Lagi-lagi waktu memainkan perannya. Ayahku tiba-tiba ambruk setelah keluar dari kamar mandi. Detik itu juga Ayahku tak bergerak lagi. Bagaimana rasanya kehilangan seorang ayah? Tak bisa kuceritakan.
Aku memutuskan pergi ke kota berkat ajakan seorang kenalan ayah. Di sana aku menumpang hidup sampai waktu itu tiba. Kenalan Ayah dengan seenak udelnya berkata, “Kamu bekerja saja dengan baik. Layani mereka dengan sopan. Biar dia kubawa, tak usah kau tanya lagi.”
Tak pernah lagi aku secerewet dulu. Aku  bungkam dan memilih menuruti petuah kenalan ayah karena kupikir itulah yang terbaik.
Namaku Gendis. Saat ini aku tidak lagi dipanggil Ninis. Bersamaku sebatang rokok menyala dan melekat baju dengan kain kurang bahan.



Selasa, 30 Juli 2019

Rindu Julian



Ketika memutuskan untuk menceritakan kisah ini, aku sedang menunggu seesorang yang memang membuat ‘janji’ denganku. Kopiku sudah terasa hangat, waktuku untuk menyeruput. Butuh waktu sekitar enam atau tujuh menit bagiku untuk siap menikmati kopi dengan suhu yang sesuai menurutku.
Adalah hal klasik jika seseorang duduk di pojok cafe, ditemani rintik hujan dan dengan suasana senja temaram. Persis seperti cerita di film atau novel roman. Harus kuakui jika suasana seperti ini sangat menjual. Hujan, senja, dan kopi adalah sesuatu yang sangat komersil. Nyatanya, aku mengalaminya sendiri. Satu lagi, suasana seperti ini tentu menggambarkan suasana hati yang gundah atau sedang putus cinta.
Bedanya, aku sedang jatuh cinta. Meskipun aku didukung oleh hujan, senja, dan kopi, nyatanya aku sedang tidak patah hati. Justru sebaliknya.
Minggu lalu aku baru saja membuat pakta dengan seorang gadis yang tentu saja sudah masuk daftar seleksi dari banyaknya perempuan yang sudah tiga tahun terakhir dekat denganku. Aku adalah tipe manusia berjakun yang susah untuk jatuh cinta. Pasalnya aku pernah sangat terluka. Banyak yang mengira bahwa aku adalah sosok badboy dengan dandanan cuek ditambah tampang yang lumayan untuk memikat banyak gadis. Pembawaanku santai, bisa dikatakan supel, cenderung banyak yang menganggapku playboy. Tentu saja stigma itu muncul karena aku dengan kerelaan hati sering tidak bisa menolak permintaan beberapa gadis untuk ditemani hanya untuk ngobrol atau sekedar makan malam. Tapi di balik itu semua, hatiku sudah tertambat. Ya, tertambat oleh luka yang jika kuingat akan menyisakan perih. Asal kamu tahu, aku memang pandai menyembunyikan luka. Tak banyak yang tahu saat aku terpuruk dan berada di titik terendah. Aku selalu menunjukkan bahwa semuanya baik-baik saja, tak ada apa-apa, dan i’ll be okay!
Baik, sembari menunggu pesanan nasi gorengku, meskipun kopi sangat tidak nyambung dengan nasi goreng, biar saja, aku lapar, aku akan ceritakan bagaimana patah dan sakitnya hatiku.
Di luar langit masih mendung. Kali ini aku susah untuk membedakan apakah sudah benar-benar malam atau memang langit sedang gelap karena tertutup awan. Kulihat jam yang menempel pada dinding cafe. Sudah pukul lima lebih tigabelas.
“Aku masih banyak tugas. Besok harus dikumpulkan. Aku kerjakan di kamarmu, ya?” Sebenarnya kamu bukan bertanya atau meminta saat mengatakan itu. Buktinya buku-bukumu beserta banyaknya kertas sudah berserakan di lantai kamarku. Aku hanya mengangguk saja, antara pasrah karena kamarku terlihat sangat berantakan dan senang karena seharian ini bisa bersamamu.
“Tidak ada kelas?” tanyamu sambil terus menulis, tidak sedikit pun menoleh padaku. Padahal pertanyaan itu jelas terarah padaku. Aku maklum karena di kamar ini hanya ada kita berdua, tentu kamu tak perlu sibuk mengangkat kepala dan sudah pasti pertanyaan itu untukku.
Lagi malas, jawabku kala itu. Aku menyulut rokok dan duduk bersandar di pintu yang terbuka. Kamu adalah perempuan yang tidak cerewet saat aku sibuk merokok. Kamu hanya akan marah jika aku lupa solat atau sibuk party  dan mabuk-mabukan. Jika kedua hal itu sampai ketahuan olehmu, bisa jadi seminggu tidak akan keluar satu kata pun dari bibir mungilmu. Kamu adalah orang yang konsisten. Ya, konsisten dan kuat untuk diam saat marah. Padahal kalau kamu sedang baik dan tidak PMS, banyak cerita yang keluar dan selalu banyak tawa saat kita bersama. Kamu yang lucu, aku yang konyol, kamu yang tertib, aku yang urakan, kamu yang populer, aku yang sangat jatuh cinta padamu, dan aku senang saat kamu memelukku atau menciumku tanda terima kasih sudah diantar pulang atau jalan-jalan adalah hal-hal yang tidak pernah bisa aku lupakan sampai saat ini.
“Kalau bolos terus, kapan selesainya?” tanyamu sedikit ketus.
Ah, kamu memang suka judes kalau menyangkut masa depan. Ya, aku bolos kuliah juga salah satu hal yang paling kamu selidik dari kehidupanku. Padahal hal yang paling aku senangi di kampus adalah saat-saat mengantar dan menjemputmu kuliah. Waktu itu aku merasa seperti pangeran berkuda putih yang menjemput puteri tercintanya. Aku tidak mau kamu sibuk dengan teman-temanmu saat kelas sudah usai. Aku ingin buru-buru menjemputmu dan membawamu pulang ke kamarku. Apalagi jika aku melihat kamu bercengkrama dengan beberapa teman priamu, tertawa lepas, bahkan tak jarang saling pukul atau tinju-tinju kecil di antara gelak itu. Aku tak suka. Terus terang saja aku cemburu.
Malam itu kamu kembali sibuk dengan beberapa tugas. Lama-lama aku bosan dengan kegiatanmu. Kamu sudah jarang bisa diajak jalan-jalan seperti sebelum jadwal kuliahmu penuh. Kamu terlalu banyak mengambil SKS. Aku tak suka dengan kamu yang seperti itu meskipun banyak yang bilang kamu adalah gadis populer dan pintar di kampus. Seharusnya aku bangga dengan predikatmu, tapi aku bukan pria wajar yang rela melihatmu sibuk dan aku merasa diabaikan.
Kamu terus saja menulis, membuka-buka buku-buku tebal yang kamu sebut referensi, dan terus diam larut dalam tugas. Aku berdehem hanya untuk sekedar mencari perhatian. Kamu bergeming. Kusulut sebatang rokok, kuhembuskan dan kumainkan asapnya agar aku sedikit ada aktivitas.
Setelah sekitar setengah jam, kulihat kamu membereskan kertas-kertasmu. Ah, ini waktunya kamu utuh jadi milikku, pikirku kala itu.
Tanpa pikir panjang, kumatikan rokokku sembarangan. Kuhampiri kamu yang sibuk memasukkan buku ke dalam tas. Kuacak-acak rambutmu agar kamu terhibur. Kamu terlihat biasa saja. Ah, mungkin kamu pura-pura, ingin diperlakukan lebih. Kontan saja, aku segera mengecup keningmu dan ternyata kamu membalas lebih dari itu.
Kamu menerobos saja, menggigit bibirku. Tentu saja aku senang. Karena aku laki-laki yang punya jiwa tak mau kalah, kubalas ciumanmu dengan lebih ganas. Seperti biasa, kita bergelung saling sikut di kasur. Kamu semakin beringas dan aku tambah ganas. Sayangnya, setelah dua tahun kita bergelung, adegan terakhir selalu sebatas ciuman, tak lebih.
Pernah di sudut hatiku merasa kecewa dengan ending  yang begitu-begitu saja. Tapi aku tidak pernah bisa memaksamu untuk menerima saluran hasratku sebagai lelaki.
“Aku sudah capek. Sepertinya tidak ada harapan,” ujarmu tiba-tiba setelah kita sibuk tertawa dan saling lempar ciuman. Tentu saja aku tidak paham apa maksudmu.
“Rasanya tidak ada kepastian dengan apa yang kita jalani.” Setelahnya kamu diam dan kembali sibuk membenahi isi tasmu. Rasanya itu hanya adegan pura-pura agar kamu tak terlihat grogi.
Kali ini aku paham, meskipun aku tidak pernah siap dengan kejadian ini. Aku yang selalu membayangkan kita akan selamanya bisa seperti ini, ternyata hanya dengan kata ‘capek, harapan, dan kepastian’, aku harus benar-benar mengubur semuanya.
Bagimu semuanya simple. Setelah kamu bilang “usai saja”, kamu melenggang entah kemana. Aku? Jelas saja aku tidak tahu akan kemana. Kita tidak pernah bertemu lagi setelah itu, nomormu ganti, dan kamu seolah menghilang begitu saja.
Pelukan-pelukan itu, ciuman-ciuman itu, tawa-tawa itu, sirna semua.
Tak ada lagi makan malam bersama, tak ada lagi antar jemput kuliah, tak ada lagi pertengkaran kecil karena aku sengaja tidak solat dan jelas aku kembali party dan terus-menerus mabuk. Berhari-hari aku menjadi kacau. Bukan. Berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun hingga saat ini. Terhitung sudah limabelas tahun.
Aku menyimpan luka selama itu. Bisa kau bayangkan bagaimana palsunya hidupku.
Hatiku nyeri bahkan sampai saat ini saat menunggumu. Alunan musik menambah syahdu, tapi tidak dengan hatiku. Kuseruput kopiku yang hampir tandas menyisakan ampas. Nasi gorengku sudah dingin dan aku tidak lagi berselera untuk menyantapnya. Kamu belum juga datang.
Kubuka lagi pesan yang kamu kirimkan semalam.
“Aku rindu, Julian!”
Ternyata selama belasan tahun aku masih belum mengenalmu dengan baik. Kupikir pesan itu isyarat untuk melebur rindu. Aku sudah tahu tempat dan waktunya, hanya sampai saat ini aku belum tahu isi hatimu.
Kopiku tinggal ampas, nasi gorengku sudah tak menarik, dan hatiku masih terluka.
 Last July 2019, 08:35


Minggu, 21 April 2019

Semoga SELAMAT sampai Tujuan.

Selamat pagi Indonesia!

Bagaimana kondisi hati saat ini? Apakah masih panas gegara Pilpres 2019 atau sudah dihangatkan dengan peringatan Hari Kartini?
Aduh, kalau ngomongin Pilpres emang gak ada habisnya. Makan hati, pikiran gak tenang, juga kadang sibuk cari bahan untuk ngelawaan. Lho, Madame kok tahu? Iyalah! Beberapa kali sempat debat kusir saling membela calon, trus dikata-katain yang aneh-aneh, belum lagi kepikiran untuk berniat balas dendam yang mengakibatkan malamnya susah tidur. Besoknya pas kerja ngantuk berat. Karena Madame masih mau waras, saatnya untuk 'bersih-bersih' diri.
'Bersih-bersih' yang dimaksudkan adalah dengan mendetoks pikiran agar gak ribet sama Pilpres yang mulai menyisir mana nama yang penting dan gak penting di kontak HP.
Bukan mau memutus silaturahmi, bukan! Tapi ini lebih ke moment menenangkan diri. Sebenarnya Madame bukan tipe yang gampang ngapus kontak, sih! Tapi ini udah kelewat batas sampe bawa-bawa agama and intelektualitas.
Madame kembali merenung, apakah ini baik untuk dilakukan? Madame menganalisa sisi postif dan negatifnya. Rasanya memang benar-benar harus keluar dari orang-orang yang bikin gak nyaman. Iya kan? Bermusuhan sih nggak, ya. Ini adalah jalan yang Madame tempuh untuk bisa mengademkan pikiran dan mata aja.
Sebenarnya Madame sih kebal aja dikatain yang enggak-enggak. Tapi mungkin Madame sedang sensitif dan berusaha menjaga harga diri. Penting, lho! Dengan cara apa? Ya Madame sudah merendah, serendah-rendahnya sampai tiarap dan akhirnya berusaha untuk menghindari pertikaian untuk kembali bangkit di sisi lain.
Oke, cukup sudah bertengkar dan sakit hatinya. Saatnya Madame kembali ke habitat. Madame kembali menulis, sibuk baca majalah, ngobrol dengan suami, cerita-cerita sama anak-anak, dan fokus untuk mendoakan anak-anak kelas 6 yang Ujian Nasional dimulai hari ini.
Mengenakan kebaya kuning berjilbab merah maroon, Madame harus move on dari segala hiruk pikuk komen-komen gak jelas. Meskipun masih suka stalking IG dan FB, tapi jari-jari harus direm. Wajarlah, namanya juga manusia. Setan ada di sekililing. Kalau gak membentengi diri sendiri, gimana mau bertahan? Iya gak?
Sesuai dengan tujuan awal Madame, Madame ingin tebar kebaikan&berusaha melakukan yang terbaik apa pun itu.
Sudahi mencaci maki dan saling dengki. Itu bukan porsi Madame untuk ikut ribet ngurusi yang bukan bagiannya.
Mulai sekarang, yuk kembali ke lingkungan positif!
Selamat Hari Kartini. Selamat Hari Bumi Dunia. Selamat Ujian Nasional SD-SMP. Selamat sibuk dengan banyak hal. Selamat menulis di blog lagi, Bu Madame. Dan semoga kita semua selamat sampai tujuan.
I Love You!

Jumat, 02 November 2018

Sudah Bilang I Love You?


Sudah Bilang I Love You?
Oleh: Vika Varia Matovana
Berbicara perihal pola hidup sehat, sudah jamak dibahas tentang makanan seimbang, olahraga teratur, istirahat yang cukup, atau kebutuhan menjaga fisik sesuai anjuran praktisi kesehatan. Padahal, untuk menjadi sehat sudah barang tentu tidak hanya berbicara tentang jasmani saja, melainkan jiwa atau rohani patut menjadi isu yang layak untuk dibahas pula.
Jasmani dan rohani memang dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Mereka adalah satu kesatuan yang harus bisa berjalan seirama. Bisa dibayangkan kalau salah satu dari mereka sedang mengalami kegagalan fungsi. Bisa dipastikan kondisi kita menjadi sedikit terganggu dan kita serta merta mencari solusi untuk membuat semuanya kembali menjadi seimbang.
Oleh karena itu, pola hidup sehat yang akan kita bahas kali ini adalah secuil tentang pola asuh anak yang berkaitan tentang rohani. Bahasan kita sederhana saja, yaitu tentang hak anak untuk mendengar sesuatu yang baik demi kelangsungan pemenuhan jiwanya agar terus merasa positif.
Terkesan sulit memang mengajarkan si Anak yang masih berada di dalam kandungan atau bayi yang baru lahir bisa memahami apa yang kita ungkapkan. Bahkan bisa dikatakan mustahil. Tapi percayakah Anda bahwa janin dan bayi bisa menerjemahkan bahasa yang kita sampaikan kepada mereka? Melalui mimik dan gesture penyampaian kita, mereka tentu paham tentang apa yang kita bicarakan. Satu hal yang perlu diketahui, mereka juga ternyata juga bisa memberi umpan balik dan jawaban terhadap apa yang kita sampaikan. Bagaimana caranya? Kerjapan mata, rekahan senyum, dan polah mereka adalah tanda dari jawaban itu.
Sejak kita mengetahui dan menyadari bahwa ada Malaikat Kecil yang sedang menunggu untuk dilahirkan ke dunia, hal penting yang harus dilakukan adalah memenuhi kebutuhannya agar merasa terus disayang oleh kita. Belaian lembut dan doa serta harapan yang baik tidak pernah terhenti terucap dari hati dan mulut kita.
Nah, lontaran seperti apa yang baik untuk diucapkan? Banyak sekali kata atau kalimat baik yang bisa disampaikan kepada Malaikat Kecil kita. Salah satunya adalah terus mengucapkan I Love You. Terkesan gombal dan pasaran, memang. Tetapi di balik kalimat itu, terselip makna bahwa kita benar-benar mencintainya sepenuh hati. Bahwa kita adalah orang yang benar-benar menginginkannya untuk tumbuh dan berkembang dengan cinta.
Sejak kecil, si Anak yang terus menerus mendengar kalimat  I Love You yang tulus dari kita dan orang lain di sekitarnya, menjadikannya tumbuh menjadi sosok yang bisa dengan sangat mudah menebar kasih. Di telinganya terus didengungkan kalimat dan kata cinta disertai dengan doa-doa baik lainnya.
Pernah mendengar kisah dua gelas air yang di mana salah satunya terus dibisikkan kata cinta dan kalimat positif lainnya, sementara yang lain didengungkan kalimat atau kata negatif. Apa yang terjadi pada dua gelas air tersebut? Gelas pertama yang dibelai dengan cinta, partikel airnya menyerupai kristal-kristal cantik. Sebaliknya, gelas yang lain menjadikan partikelnya keruh dan tidak menarik untuk dilihat.
Begitu pula dengan anak kita. Sejak kecil, kalimat cinta, harapan, dan doa baik jika terus digaungkan, akan membuat hatinya menjadi cantik dan secara tidak sadar kecantikan hatinya akan membawa pengaruh positif pada lingkungan sekitar.
Lantas, apakah kalimat I Love You bisa menjadikan hidup menjadi sehat? Jiwa yang diselimuti oleh mosi positif, sudah barang tentu menjadikan fisik menjadi lebih sehat dan mental menjadi lebih kuat. Bukankah kita sudah kerap mendengar ‘Di Dalam Hidup yang Sehat, Terdapat Jiwa yang Kuat’? Rasanya kita tidak perlu lagi memusingkan lagi kalimat bijak itu.
Kita sebagai orang tua, tentu saja ingin melihat anak kita tumbuh dan berkembang dengan penuh cinta dan mampu menebarkan kebaikan itu. Kalau bukan kita yang memulainya sejak dini, lantas siapa dan mau kapan lagi? So, sudahkah kita mengucapkan I Love You pada buah hati kita hari ini?
#1000HariTerbaik
#1000HariPertamaAnanda
#KawanGNFI