Senin, 19 April 2021

Seberapa "tempat sampah" dan Penuhnya Kepalamu?

Selamat berpuasa, Gengs. Berniat untuk membatasi diri ngomongin orang lain. Hahahaha. Semoga saja bisa. Niat baik pasti dapat restu dari Gusti Pangeran.

Udah nahan lapar and haus, tentunya nafsu juga harus dikontrol. Bismillah.

Kali ini kita gak bakal bicarain kejelekan orang. Kita bicara yang baik-baik saja, mempengaruhi hal baik, menularkan hal positif, and tentunya menjaga mood untuk tetap ceria.

Kita menceritakan diriku saja, ya! Hahaha

Aku mau cerita nih tentang anugerah yang dari dulu kuterima. Aku anggap ini memang sebuah anugerah karena tidak sembarang orang yang dapat. Aku mendapat berkah sebagai "tempat sampah" oleh sebagian besar teman yang kenal sama aku. Entah apa sebabnya mereka suka curhat and ngaliiiir aja. Aku cukup menjadi pendengar dan memberi perspektif dari segala keributan cerita mereka. Kadang saran dan kritikanku mereka terima sebagai solusi. Alhamdulilah banget. Setidaknya bisa mengurai sesak yang mereka rasakan.





Anugerah ini selalu kujaga baik-baik dengan cara kusimpan rapat dan gak bocor. Apakah aku seamanah itu? Tentu nggak juga. Hahaha. Pernah bocor alus (tapi aku pilih untuk cerita sebuah cerita #ngeles). Tenang aja, aku gak ember apalagi samudera. Semua tersimpan dengan baik.

Tahukah kamu, yang kusimpan bukan saja tentang cerita. Karena aku "tempat sampah", mereka seenaknya "buang-buang" surat, foto, atau barang rahasia ke aku. Bisa-bisanya, ya? Tapi tentu saja semua tersimpan rapi. Bisa dibongkar lagi kok kalau sewaktu-waktu kalian butuh. Haha.

Cinta yang terpendam karena si cewek insecure, cinta tak sampai karena beda keyakinan, cinta tak direstui karena perbedaan kasta, kisah kabur dari rumah karena cinta monyet, tragedi diuber-uber arisan, silent please tentang bolos sekolah, atau polemik mendua-mentiga hati.

Belum lagi yang curhat perselisihan mertua-menantu (dua-duanya malah curhat. Yaelah!), kerjaan yang susah, bisnis mandeg, tetangga yang usil, anak ribet, dan banyak lagi yang lainnyaaaa.

Oke, Bu Madame pastikan semua cerita kalian aman.

Tapi tolong pahami bahwa Bu Madame juga tidak sesempurna brankas, ya. Seperti tadi yang Bu Madame bilang, sempat bocor alus tapi aman. Hahaha.

Terima kasih buat kalian yang sudah percaya, ya. Selalu peluk.

Anugerah lainnya nih (tapi sebenarnya ini juga kelainan), kayaknya aku mengidap hyperthymesia, deh! Tapi bukan kategoriyang parah. Karena pengidap hyperthymesia sekitar 60 orang saja di dunia. Jelas aku bukan termasuk di dalamnya. Hyperthymesia adalah sejenis kelebihan (baca: gangguan) yang dimiliki sesorang dalam mengingat sesuatu, orang, kejadian atau apapun secara detail dalam kurun waktu yang lama. Istilahnya memiliki longterm memory di kepalanya.

Nah, selama ini aku dikenal sebagai makhluk pengingat atau miss memory. Aku bisa mengingat kejadian yang sudah lampau (meskipun gak detail seperti hyperthymesia). Minimal aku masih ingat saat aku umur 4 tahun di mana Kakekku meninggal di dalam angkutan yang membawa kami pulang dari rumah sakit. Kakek yang suka minta es lilinku, Kakek yang sempat ngamuk ke ibuku karena ku terjatuh dari boncengan motor. Kejadian itu kira-kira umurku 3 tahun. Kejadian setelahnya banyak sekali yang masih tersimpan di memori.

Aku secara tidak sengaja "melatih" penyakitku ini dengan membuka album lama, memutar lagu kenangan, atau menghubungi orang-orang lama. Tentu saja mereka terheran-heran dengan aku yang tanya ini-itu terkait kejadian puluhan atau belasan tahun lalu. Aku yang dengan gamblang menceritakan banyak hal jadi membuat lawan bicara bengong, heran, dan (mungkin) takjub.

Aku bisa mengingat nama sanak keluarga dari teman-temanku, termasuk silsilahnya. Mereka sampai curiga kalau aku salah satu petugas catatan sipil atau sensus atau pegawai pencetak Kartu Keluarga. Aku ngakak saja dengan apa pun yang mereka bilang.

Pernah nih, seorang suami dengan polosnya tanya tentang masa lalu istrinya. Pasangan itu adalah teman baikku. Tapi karena Bu Madame sudah simpan rapat, ya gak bisa kebongkar dong. Aneh-aneh aja. Meskipun mereka sudah suami istri, cerita masa lalu kan tetap harus diamankan. Demi kelangsungan hidup bermasyarakat.

Suatu malam ada pesan WA masuk. Si pengirim dengan polosnya bilang nggak bisa tidur karena teringat wajah salah satu teman sekolah. Dia ingat wajahnya, lupa namanya. Eh, bisa-bisanya langsung teringat aku untuk tanya hal itu. Sebagai pengidap hyperthymesia (yang gak detail), kusuruh dia nyebutin clue. Setelah 1-2 clue, kujawab rasa penasarannya. Namanya: A. Eh, dia bilang, "Okay, trims. Aku bisa tidur nyenyak. Bye!"

Vangke sekali. Hahahahaha

Tapi di atas kelainan hyperthymesia (yang gak detail)ku, aku masih punya kekurangan. Aku sedikit susah mengingat wajah. Entah karena banyak wajah yang berubah karena skincare, oplas, berganti musim, terkikis waktu, atau getting old? Entahlah.

Sebenarnya sempat capek dengan kondisi hyperthymesia (yang gak detail) ini. Letih saat diberondong rasa penasaran. rasanya aku harus periksa ke psikiater, ya? Hihihihi.

Semua hal yang kuceritakan itu adalah anugerah. Terima kasih, Gusti Pangeran.

Nah, sekarang seberapa "tempat sampah"dan penuhnya otakmu? :P

Jumat, 19 Maret 2021

Pecah Telor!

 Pecah Telor!

Ya, akhirnya memberanikan diri membuat channel YouTube. Setelah sekian lama dengan banyak pertimbangan, terutama hal teknis, pecah juga channelnya.
Tepat 7 Maret 2021, siang hari nekat syuting demi sebuah konten. Soft opening ceritanya.
Berjibaku dengan isi dan pemilihan nama konten, akhirnya diputuskanlah nama Madame's Pathway di channel YouTube MADAME VIKA VARIA.
Karena bersifat pathway, otomatis channel ini berisi perjalanan (meskipun muter-muter aja di sawitan). Membahas banyak hal tentang kehidupan seputar rumah tangga, parenting, dan intermezzo (hobby, musik, dan lainnya).
Tujuan utama membuat channel sebenarnya ada 4 hal, yaitu:
1. Media Bu Madame untuk terus mengembangkan diri di bidang broadcast. Dunia ngoceh rasanya sudah mengakar dan susah dihilangkan. Bercerita, ngemsi, sharing dengan banyak orang yang tentunya membutuhkan kemampuan bicara adalah hal yang sulit dipisahkan dari kehidupan Bu Madame. Karena sudah tidak lagi bisa bersiaran, niat bikin podcast juga terbentur hal teknis. Oleh karena itu, media YouTube adalah salah satu cara untuk terus bisa terus bersuara. EKSISTENSI adalah sebuah kebutuhan. Melalui channel ini, Bu Madame merasa terus bisa memenuhi kebutuhan itu.
2. Berbagi banyak hal dan ngobrol adalah salah satu cara Bu Madame menjaring banyak ilmu. Selain melebarkan networking, ngobrol dengan orang lain juga bisa membuka wawasan dan pola pikir. Ini juga pasti berlaku bagi orang lain yang juga ingin berbagi. Oleh karena itu, Bu Madame menyediakan program TALKING ABOUT setiap akhir pekan yang berisi pertanyaan atau memancing pernyataan netizen. Tujuannya tentu saja Bu Madame sebagai pendegar mereka yang ingin mengungkapkan isi hati yang selama ini terpendam. Syukur-syukur bisa kasih solusi.
Dalam Talking About yang nanti bakal dibahas di YouTube, Bu Madame secara tidak langsung membuka pikiran atau memberi info yang pernah Bu Madame tahu atau pelajari lebih dulu. Bukan sok pintar atau gimana. Bu Madame juga bukan lulusan psikologi atau ulama yang bisa memberi pencerahan dari sudut tertentu. Bu Madame berperan sebagai orang netral yang memberikan pandangan lain dalam menyikapi masalah.
3. MENGHIBUR. Bu Madame selalu berusaha menyajikan keceriaan di setiap moment. Hal ini bukan berarti Bu Madame ingin selalu tampil sebagai komika atau pelawak. Sama sekali bukan. Bu Madame hanya ingin hadir sebagai sosok yang menyenangkan dan tidak sebagai biang masalah. Oleh karena itu, channel YouTube Bu Madame juga bersifat menghibur di sesi intermezzo.
4. POPULARITAS adalah hal terakhir yang ingin dicapai dalam konten ini. Kalau banyak yang subscribe Alhamdulillah, banyak yang like syukur banget, banyak views juga bikin seneng, banyak yang komen waaahhh banget, apalagi banyak saran kritik atau justru pengen bahas sesuatu, itu bikin Bu Madame tambah semangat syuting. Hahahahaha.
Namanya popular selalu terlihat menyenangkan. Banyak yang pengen dekat dan merapat. Tapiiiiiii, banyak gak enaknya. Tidak ada yang 100% pure menjadi teman. Kebanyakan hanya nebeng dan nempel. Bukan negthink, Gengs. Tapi bener-bener gak ada yang murni pengen dekat dengan sebuah popularitas sebagai TEMAN. Di belakang pasti usriiiik sana-sini. Itu sih sudah terbukti. Bu Madame juga sering jadi intel. Tapi tentu dengan info yang valid, ya. Bukan hoax, gosip, atau fitnah. Meskipun Bu Madame memberi info akurat, banyak juga yang memberi stempel di jidat Bu Madame sebagai Ratu Gosip atau Bu Tedjo. Padahal infonya valid, loh! Jahat banget kan mereka itu. Hahahahaha.
Nah, cara mengatasi hal itu ya BODO AMAT. Bu Madame sih mengalihkan popularitas negative dengan cara terus berkarya. Lakukan yang terbaik dan ciptakan terobosan yang belum dilakukan oleh orang sekitar. Menjadi berbeda adalah hal menarik. Tidak semua orang bisa menjadi berbeda dan tidak semuanya mampu bertahan di tengah perbedaan. Kebanyakan sih, ingin terlihat seragam. Hahahaha.

Jadi, saran dan kritik apa yang bakal kamu sampaikan di channel YouTube MADAME VIKA VARIA? Atau ada sesuatu yang ingin dibahas? Persoalan private juga bisa. Bu Madame akan menjaga privasi netizen. Tenang saja, Bu Madame tidak seember dan sejahat itu. Karena apa yang dialami oleh seseorang, bisa dijadikan pembelajaran, barometer, atau cerminan bagi orang lain.

So, jangan lupa like, komen, and subscribe channel YouTube MADAME VIKA VARIA, ya! 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

Menulis Adalah Kebutuhan

 Haiii, akhirnya aku menulis lagi setelah sekian lama meninggalkan blog.

Menulisku kali ini adalah sebagai ajang terapi setelah menelan kekecewaan yang amat pada sebuah event. Lomba dan kompetisi memang memacu adrenalin dan selalu membuat deg-degan. 

Setelah puas dengan pencapaian tulisan yang selalu dibukukan dan mendapat apresiasi dalam skala cukup besar, akhirnya aku harus menelan pil pahit di event yang kugadang-gadang akulah juaranya.

Event ini seolah "aku" banget. Jadi saat menulis pun sudah kudesain sedemikian apiknya sehingga rasa percaya diri perlahan tumbuh dan mengakar.

Kesombongan akan tulisanku semakin sulit ditolerir saat tahu ternyata pesertanya cuma berapa ratus saja. Helllloooow, aku pernah mengalahkan ribuan orang, sombongku berhari-hari. 

Merapal doa setiap malam, sholat ini itu kujalankan, selalu berharap bahwa akulah pemenangnya.

Tibalah saatnya. Pengumuman dibacakan. Cukup 2 menit saja video itu. Deg-degan dan berharap namaku disebut. Sampai nama terakhir, tak muncul. Kuulang video pengumuman. Ya, sama saja isinya. Namaku tak ada.

Gusti! Aku berharap menjadi pemenang di lomba ini karena banyak hal di dalamnya.

Aku ingin tulisanku dibukukan. Aku ingin hadiahnya yang menggiurkan. Aku ingin ini itu jika hadiah itu kuperoleh. Nyatanya?

Semalaman merenung. Apa yang kurang? 

"Masih banyak yang lebih bagus dari tulisanmu. Kembali ke blog saja. Di sana lebih leluasa. Kamu bisa nulis apa saja."

Kalimat panjang dan menohok serta membuka harapan. 

Ya. Lupakan kompetisi. Tak perlu bingung mengejar juara. Sudahlah. Menulis saja. Terus saja menulis.

Bukankah aku selalu bilang bahwa menulis itu bagian dari terapi?

Saat menulis ini, perlahan kekecewaan yang kurasakan kemarin sedikit demi sedikit bisa kulupakan meski ada sisa harapan bahwa namaku akan muncul di daftar pemenang walaupun tentu saja mustahil terjadi.

Sudahlah. Menulis saja. Teruslah menulis. Tak perlu mengkhawatirkan banyak hal.

Bukankah menulis adalah value? Menulis bukan nominal. Ya, kekecewaanku adalah perihal nominal. 

Terus saja menulis sampai aku merasa sembuh dan kembali baik-baik saja.

Teruslah menulis sampai aku tidak sadar bahwa tulisanku menginspirasi banyak orang.

Menulis saja tanpa henti sampai aku sadar bahwa menulis adalah kebutuhan. 

Sekian.

Minggu, 23 Agustus 2020

Antara Putri dan Alis

 Antara Putri dan Alis

Oleh: Vika Varia Matovana

Percayalah bahwa apa yang telah diberikan Tuhan untuk kita adalah yang terbaik. Apalagi yang melekat di tubuh. Semuanya sudah disesuaikan dan pasti pas. Proporsional bahasa kerennya. Apa yang kita miliki juga tentu memiliki manfaat. Tuhan tidak mungkin membiarkan salah satu organ kita ‘nganggur’ gitu aja. Salah satunya alis.

Sejak dulu, saya hanya tahu kalau alis berfungsi untuk menghalau air (keringat) agar tidak masuk atau mengganggu mata. Selebihnya, saya belum menemukan fungsi lainnya. Mungkin saja saya yang kurang cari tahu.

Berbicara tentang alis, sudah jamak dibahas, apalagi untuk tren dan fashion, tentang sulam alis, tattoo alis, dan per-alis-an lainnya. Hampir semua salon yang yang saya temui di berbagai tempat, menyediakan jasa untuk ‘memperbaiki’ alis. Tentu saja alis dibuat sedemikian rupa agar nampak lebih indah dan menawan. Apalagi untuk mereka yang bekerja di ranah publik. Sebut saja artis, pegawai bank, atau profesi lain yang berhubungan dengan banyak orang. Atau juga pengajar seperti saya yang setiap hari bertemu dengan banyak makhluk?

Tapi apa jadinya kalau awam seperti saya dan beberapa orang lainnya juga ikut-ikutan sibuk dengan alis? Sering melihat tutorial tentang membentuk alis yang tebal, miring, dan menanjak. Selain itu juga sibuk dengan mencontek alis model terbaru dari selebritis idola. Mengamati dengan seksama majalah dan tabloid wanita. Gencar tanya dan posting tentang per-alis-an. Wah, pokoknya ingin ikut andil dan aktif mengikuti dunia alis.

Saya bukan yang anti terhadap fenomena alis ini. Karena kenyataannya saya juga jadi ikut-ikutan rajin beli pensil alis (warna coklat dan hitam), mencoba melukis alis sedemikian rupa, memulas eyeshadow ke alis (agar terlihat tebal natural), sampai pada akhirnya juga ikut-ikutan mencukur ujung alis agar terlihat gaul dan dianggap tahu mode. Anehnya, selama saya berjibaku dengan lukis-melukis dan sibuk membuat pola alis, saya masih belum mendapatkan bentuk yang proporsional dan simetris pada alis saya. Alis kanan terlalu tipis, akhirnya ditebalkan. Bagian kiri terlalu naik, akhirnya diikuti kenaikan sebelahnya. Pokoknya begitu seterusnya.

Jangan salah! Saat melukis alis, kita butuh konsentrasi tingkat tinggi. Tidak bisa melakukan ritual itu sambil lalu apalagi dengan metode multitasking. Wah, hasilnya bisa bikin emosi jiwa. Kita harus benar-benar dalam keadaan tenang, tanpa beban, dan lupakan sejenak masalah utang agar bisa mendapatkan hasil yang maksimal. 

Kita tidak usah ngiri dengan alis bagus yang dimiliki mereka para selebritis dan kaum sosialita. Jelas saja, wong mereka memiliki tenaga ahli di bidang per-alis-an. Jadi wajar saja kalau hasilnya memuaskan. Kalau untuk ukuran kita, perempuan rumahan yang baru belajar make-up, tidak usah berkecil hati kalau ternyata alis kita terlihat semakin miring tak terkendali. Itu namanya proses belajar.

Setelah sekian lama hidup di dunia belajar melukis alis, saya memtuskan untuk rehat sejenak. Pasalnya saya ingat ada orang yang nyeletuk, “Perempuan itu aneh. Dikasih alis bagus oleh Tuhan, eh… malah dicukur habis. Ujung-ujungnya digambar lagi untuk dapat ‘memiliki’ alis. Apa nggak kurang kerjaan namanya?” Jujur saja saya tersentil dan merasa tersinggung, meskipun akhirnya tertawa juga. Setuju dengan orang tadi.

Sudah saya katakan sebelumnya bahwa saat melukis alis, kita kaum perempuan butuh ketenangan. Tapi ironinya, ketenangan itu berdampak pada banyak lini. Salah satunya anak (bagi yang sudah berkeluarga dan memiliki anak).

Saya pernah mendapati seorang murid, sebut saja Putri (nama sebenarnya), saat diantar Ibunya ke sekolah. Ibunya yang cantik jelita dengan balutan kaos ketat, lipstick merah merona, dan tak lupa alis njelaritnya tersenyum melepas Putri sembari melambaikan tangan. Saya tersenyum pada Ibu Putri sebagai tanda hormat. Dalam hati, “Wah, bangun jam berapa ya Ibu Putri itu? Jam segini sudah dandan cantik dengan alis maksimal.”  

Lambaian dan lamunan saya terpaksa terhenti saat mendengar suara teman saya bilang, “Putri belum mandi, ya?”

Seketika saya melihat Putri yang tadi luput dari pengamatan. Putri yang datang ke sekolah dengan rambut berantakan, baju kusut, dan masih belek’an. Astaga!

Putri menjawab kalau ia sudah mandi sejak pagi dan hebatnya ia mandi sendiri.

Putri benar-benar dilatih mandiri oleh Ibunya. Itu bagus sekali untuk pembelajaran. Tapi apakah sudah sampai di situ saja tugas seorang Ibu untuk melatih kemandirian anaknya tanpa adanya koreksi, sehingga Putri masih terlihat berantakan di pagi hari sementara Ibunya sudah seperti Putri Dongeng? Hati saya sedikit ngilu mendapati kenyataan seperti itu.

Bisa jadi Ibu Putri memang butuh ketenangan saat melukis alis sehingga tidak mau diganggu oleh kebutuhan anaknya dan akhirnya Putri menjadi ‘korban’.

Entahlah.


Jumat, 03 Juli 2020

Seperti Apa Kehidupan Kita?

Selamat pagi. Weekend dengan kondisi masih pandemi, jelas tidak bisa kemana-mana.
Okay, pagi ini saya akan bercerita tentang kisah 5 perempuan. Mereka adalah manusia biasa yang mempunyai naluri dan tentu ingin dimanusiakan.
Begini, sekitar 1 minggu ini, saya tiba-tiba saya diberondong dengan begitu banyak cerita tentang kehidupan. Mari kita simak.👇
1. Sebut saja namanya Jeng. Ibu dari dua anak, pekerja, dan memiliki kehidupan bahagia dengan keluarga kecilnya. Tak ada yang kurang dalam kehidupannya. Sampai suatu ketika dia "terjebak" dalam sebuah situasi yang membuatnya akhirnya merasa terperangkap pada hubungan dengan teman kerjanya. Memang situasi yang tidak nyaman. Hubungan dengan kondisi sembunyi-sembunyi, harus atur waktu, membagi perasaan, dan tentu menambah ruang untuk tempat sakit hati. Iyalah, kan harus berbagi. Apalagi 'Si Pacar' juga milik orang lain. Manusiawi kalau ada sifat posesif dan berakhir cemburu. Seolah merasa bahwa KAMU adalah milikku. Kisah ini berjalan 2 tahun lamanya dengan banyak sekali lika-liku dan luka-luka.
Hubungan seperti ini memang tidak pernah bisa berakhir bahagia. Selanjutnya sudah bisa diterka. Mereka berpisah dalam keadaan sama-sama kecewa. Kecewa karena menyesal, menyisakan sakit hati, dan tentu saja tidak ada untungnya sama sekali.
2. Pay yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja, ternyata mampu menarik hati Bejo, pemuda konglomerat, berkat paras manisnya. Tak butuh banyak cingcong, mereka memutuskan menikah di usia masih belia, sekitar 13 dan 15 tahun. Kehidupannya jangan tanya. Glamour! Mewah sekali. Mobil dan rumah tinggal pakai. Uang bulanan lancar dari mertua. Apalagi?
Ternyata, Si Bejo sudah mulai beranjak memperluas pertemanan. Bejo bergaul dengan banyak orang, jaringannya melewati bisnis-bisnis kelas atas. Pay yang polos tentu saja shock dengan pergaulan Bejo yang sekarang. Pay yang yakin jika Bejo dulu sangat mencintai kesederhanaannya, kini punya pandangan yang berbeda. Bejo sekarang lebih menyukai wanita bergincu, rambut warna-warni, dan pakaian sexy. Sementara Pay sudah disibukkan dengan 2 balita, tak sempat untuk mengubah penampilan. Pay kalah langkah mengikuti kehidupan Bejo yang semakin melesat.
Apa yang terjadi? Bejo sering membawa pulang wanita sexy, membuat ruang karaoke di rumah, dan mulai mengumpulkan banyak teman.
Pay tersingkirkan. 2 anak terabaikan.
Bejo dengan dunia barunya, Pay kembali dengan daster dan kedua orang tuanya yang sederhana.
3. Kisah Sasha dan Wiya hampir serupa. Masa pacaran yang tak terkendali, membuat keduanya harus menanggung resiko "menikah" di tengah kondisi hampir menjadi seorang ibu. Semua terpaksa dilakukan agar tidak banyak omongan di luaran. Kondisi suami yang tidak bekerja, tidak siap dalam membina rumah tangga, dan ada bayi yang harus dimanja. Tentu saja mertua tidak mungkin lepas tangan begitu saja. Tapi Sasha dan Wiya sebagai istri pasti menginginkan nafkah langsung dari tangan suami, bukan mertua. Sebagai perempuan, mereka juga ingin kehidupan normal seperti yang lain. Namun apa daya, suami jobless karena memang susah mencari kerja, sementara kebutuhan harian tidak bisa ditunda.
Apa yang terjadi? Pertengkaran terus menerus. Konflik dengan diri sendiri, suami, mertua, dan tentu tak nyaman di lingkungan. Korbannya adalah anak yang tidak tahu apa-apa.
4. Beda lagi dengan Esti. Story di media sosialnya bak sosialita.  Pelesir ke luar negeri, makan di restoran berkelas, bergaul dengan mereka berparas cantik, dan kemewahan lainnya yang tentu saja bikin nyengir netizen seperti saya. Hahahaha. Kehidupan Esti tak dapat dijangkau.
Namun apa yang terjadi? Di balik semua story WOWnya, Esti hampir didepak dari keluarga besar suami yang konglomerat karena sikap Esti yang berlebihan, gemar berfoya-foya, dan tak pandai mengelola rumah tangga. Esti  nyaris dicoret dari nama daftar warisan. Suami Esti yang terbiasa ongkang-ongkang nyatanya tak bisa mengambil alih keadaan. Wong gak punya peran.
Apa yang terjadi? Esti terus sibuk menunjukkan bahwa dia tetap bahagia dengan segala kemewahannya. Dia masih terus menebar pesona agar aura WOWnya tidak hilang begitu saja. Ia tidak mau kehilangan penggemar dengan cara terus memposting gambar dengan caption yang menarik perhatian.
Ah, cerita dari beberapa orang tentu saja membuat saya berpikir untuk mengkaji lebih lanjut tentang makna kehidupan.
Sejatinya apa sih yang kita cari dalam hidup? Apa sih yang mau kita capai dengan pasangan saat berumah tangga?
Well...
Hasil pemikiran saya dan diskusi dengan beberapa orang tentang kehidupan (rumah tangga) dapat disimpulkan bahwa:
1. Menikah haruslah dalam keadaan SADAR. Sadar di sini bukan berarti tidak mabuk atau tidak pingsan. Bukan! Sadar yang dimaksud adalah bagaimana kita bisa menyadari bahwa akan ada kehidupan selanjutnya yang harus dipertanggungjawabkan, baik untuk diri sendiri, pasangan, anak, dan keluarga besar. Jika menikah hanya karena terburu-buru (nafsu), berarti kalian belum SADAR. Harus segera ke dokter untuk cek kewarasan.
2. Mengimbangi pasangan dengan fondasi yang kuat.
Pernah saya tulis di story dan jadi prinsip saya bahwa,"Carilah pasangan yang cerdas, karena akan menentukan generasimu. Jika pasanganmu lebih cerdas, saatnya kamu banyak belajar dan intropeksi diri agar bisa mengimbangi."
Mengimbangi bisa dari banyak hal. Intelektualitas, kepribadian, finansial, dan menyeimbangkan sistem dalam diri (ego dan pemikiran). Jika salah satu masih ada yang timpang, perbaiki. Saya pernah menulis di blog dengan judul "Karena Cinta Nggak Ada Di Piring" mungkin bisa dibaca lagi.
3. Menciptakan bahagia.
Bahagia itu kita yang ciptakan. Jika hati dan pikiran masih saja sibuk dengan banyak hal remeh-temeh, tentu akan menguras tenaga. Ayolah mulai membenahi diri. Jika point 1 dan 2 merasa sudah ada miss, lebih baik diperbarui dengan cara berbicara dari hati ke hati dengan pasangan. Jika kita dan pasangan bahagia, tentu akan menular pada mereka yang ada di sekitar kita.
Saya tidak ada niat menggurui. 3 point di atas adalah murni dari pemikiran, renungan, serta diskusi dengan suami saya dan beberapa teman . Diikuti monggo, tidak diikuti lebih baik dibaca lagi, deh! Hahahaha

Senin, 29 Juni 2020

Bertempurlah dengan (Minimal) Amunisi yang Sama

Pagi ini saya kembali menulis karena memang sedang terusik oleh suatu hal. Tiba-tiba saya mendapat kabar bahwa salah satu teman yang pernah saya tulis kehidupannya di blog, jadi sorotan negatif. Intinya, karena tulisan saya terdahulu (tahun  2012) 'seolah-olah'membuka aibnya dan dijadikan senjata oleh orang yang tidak menyukainya.
Oke. Saya akui kebanyakan tulisan saya lebih bersifat subjektif. Hal ini dikarenakan banyak sekali teman yang curhat dan kisahnya siap untuk dipublikasikan. Saya menyamarkan nama tokoh juga karena permintaan. Selama yang saya tulis berbentuk hiburan, motivasi, dan kejujuran, biasanya saya tidak pernah pakai inisial atau alias. Saya modelnya terbuka dan terkesan ekstrovert.
Begini, kisah tulisan saya sudah terjadi 8 tahun lalu dan seharusnya tidak perlu diungkit kembali karena kehidupan manusia terus bermutasi, bahkan bisa jadi banyak yang beresolusi dan sudah tidak sama lagi dengan kemarin. Memang, tulisan itu abadi. Seberapa lama rentang waktu, tulisan itu adalah bukti sejarah tak terbantah. Nah, tugas kita sebagai manusia yang sudah melewati banyak hal, ada baiknya bisa melihat sebuah kisah sejarah dari perspektif lain.  Bisa dijadikan pelajaran, peringatan, atau bahkan tetap dijadikan hiburan. Baper tentu saja boleh. Tapi kalau diulas hanya untuk saling menyakiti, sepertinya juga kurang bermanfaat baik dari segi fisik maupun kejiwaan. Telaahlah dengan baik.
Jadi begini, jika kamu merasa dengan membaca sejarah, kamu punya amunisi untuk mengolok dan menyemai kebencian, berarti senjatamu tidaklah pamungkas. Kamu hanya menggunakan opini dan pemikiran orang lain. Kamu hanya 'meminjam' kekuatan orang hanya untuk memuaskan birahi dan nafsumu. Kamu sebenarnya lemah dan tidak punya kekuatan sendiri jika terus menerus mengolok, mencaci, dan terus menguras emosi dari amunisi pinjaman itu.
Berperanglah secara elegan. Gunakan kekuatanmu sendiri. Tunjukkan amunisi terhebatmu.
Jika kamu gunakan sebuah tulisan orang lain sebagai senjata, serang balik musuhmu dengan sebuah tulisan juga. Menuliskan dengan cerdas. Toreh sebuah serangan dari guratan tanganmu sendiri.Buat opini dengan gaya kontradiktif. Lakukan serangan mematahkan agar musuhmu merasa terancam dengan tulisanmu. Bukan justru dengan berkoar-koar, menyebar droplet. Bisa jadi penyakit untuk sekitar. Jauh lebih berbahaya.
Jika sekarang rivalmu sedang melenggang dengan manisnya, serang dia dengan prestasimu yang tak terkalahkan. Buatlah gebrakan sejuta tepuk tangan untuk sebuah karyamu yang layak dipuji banyak orang. Tunjukkan dirimu di atas panggung kemewahan dengan berjuta sanjung atas masterpiece yang melambungkan namamu. Itu adalah cara balas dendam yang heroik, fantastis, dan musuhmu akan tersungkur tak berdaya.
Kalau sampai akhir 2020 kamu masih berkutat dengan perang mulut dan saling sindir, kamu tak ada bedanya dengan makhluk 'pra' yang tidak tahu apa-apa.

Minggu, 04 Agustus 2019

Baca, Baca, Baca!



Ih, gatel juga tangan saya untuk segera mengetik dan membahas tentang uneg-uneg saya. Apalagi sedang viral pemboikotan dan perampasan sejumlah buku yang dianggap ‘membahayakan’ oleh beberapa pihak di beberapa toko buku. Bahkan, 2 mahasiswa yang menggelar baca buku gratis pun terkena cydux. Di mana tujuan utama mereka, yang saya yakini berawal dar niat baik untuk meningkatkan minat baca, berujung pada interogasi pihak berwajib. Kesalahan mereka hanya satu: menyajikan buku yang dianggap ‘dosa’.  Cek deh di gugel!
Sangat disayangkan, temans.  Survei yang menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia sudah taraf memprihatinkan, ditambah gangguan gadget yang tidak digunakan sesuai kebutuhan, sekarang ditambah dengan disisirnya beberapa buku dengan judul ‘kiri’.
Begini, saya terjemahkan menurut perspektif saya. Sebenarnya apa sih tujuan penulis itu? Menurut saya pribadi adalah:
1.    Menuangkan ide dan memberikan informasi.
2.    Sebagai sarana hiburan dan mengembangkan imajinasi.
Dari dua alasan yang menurut saya sudah umum, tentunya kedua alasan tadi juga secara tidak langsung akan dirasakan oleh pembaca. Pertama, pembaca bisa menemukan ide baru dan tentunya informasi gres yang bahkan belum pernah didapatkan sebelumnya. Saya yang tiap hari baca saja masih merasa bodoh gak ketulungan. Apa kabar yang bahkan babarblas gak pernah baca dan nyentuh buku?
Kedua, dengan membaca ternyata penikmat buku diberikan ruang untuk berimajinasi dan merasa terhibur. Lalu apa kabar mereka yang tidak pernah mengolah pikiran kreatif mereka karena enggan berdekatan dengan bacaan?
Perkara pembaca akan ‘terhasut’ atau tepengaruh dengan isi buku, rasanya perlu tes ketangguhan hati. Tidak semua buku akan langsung berpengaruh detik itu juga. Pembaca yang cerdas adalah mereka yang mampu mengolah dan mencari korelasi dari satu bacaan ke bacaan lainnya. Pembaca yang baik tidak langsung begitu saja termakan oleh satu bacaan. Terlalu naif jika dengan satu buku, pikiran kita akan berubah dari A menjadi X.
Wah, banyak-banyakin deh buka buku dan cari bacaan yang lain. Kalau sampai terpengaruh oleh satu buku saja, berarti harus cek ulang tingkat kewarasannya.
Membaca sekarang dipermudah dengan kehadiran e-book. Gak perlu bayar mahal dan antri panjang di toko buku hanya untuk mendapatkan bacaan yang bagus. Cukup searching atau buka aplikasi tertentu, klik, silakan dinikmati deh tuh isinya.
Ironisnya, saat ini yang berkembang dan banyak terjadi adalah: menghakimi buku yang dianggap berbahaya!
Sebentar, rasanya saya perlu ceritakan bahwa saya juga mempelajari Injil dan membaca Weda. Apakah keyakinan saya langsung berubah berdasarkan agama dari kedua kitab suci itu? Tidak, kawans! Keyakinan ada di hati. Namun saya jadikan kedua kitab suci itu sebagai bahan untuk menambah wawasan saya agar berkembang –bukan membandingkan-.
Selain itu, saya juga mempelajari buku-buku yang menceritakan etnis China dan kehidupan biarawati. Apakah dengan membacanya otomatis kulit saya berubah jadi putih cling dan mata menjadi sipit? Tentu tidak!
Saran saya, beli dulu bukunya, baca isinya, baru kemudian tentukan pilihan. Atau jangan-jangan kalian gak mampu beli jadi main rampas gitu aja?