Senin, 09 Januari 2012

Saya, Anto dan Hendra. Kami punya RAHASIA

Saya mempunyai beberapa teman yang memiliki predikat selebritis kabupaten. Saya sendiri bekerja di bidang broadcasting, jadi saya tidak jauh-jauh dari hal itu-dunia selebritis-. Dua orang yang melekat di hati saya, dua orang ini memang teman baik saya. Mereka adalah orang-orang luar biasa!
ANDRIANTO MUHAMMAD
Saya bertemu dengan seorang Muhammad Andrianto pada tahun 2008 dalam ajang ROOKIE DJ SOKA RADIO, ajang pencarian bakat untuk pemula di bidang broadcaster yang digelar oleh PT. RADIO SOKA ADISWARA.Kita sama-sama jadi finalis 10 besar. Sejak pertama kenal, saya sudah cocok dengan dia. Kita sama-sama suka rumpik. Bukannya saya tidak akrab dengan finalis lainnya, tapi Anto berbeda. Diluar kegiatan ROOKIE DJ pun kita menyempatkan untuk keluar, main ke kontrakannya atau sekedar makan dan curhat-curhatan. Bahkan  saking kangennnya, saya  pernah nyamperin Anto ke kampusnya.
Anto itu anaknya pinter dan selalu format masa depan. Dia selalu bilang "ayo Vik,,koen iku kudu maju dan berkembang!". saya hanya angguk-angguk, angkat bahu, dan bilang "ya sutra To, orientasiku nikah". "Sido nikah karo Pras koen???", langsung aja nyambarnya kayak gitu. Huuemm,ya iyalah To.
Selalu yang saya ingat ketika ketemu dengan Anto, baik itu direncanakan atau tidak sengaja, dia selalu memegang tangan saya, cipika-cipiki dan selalu senyum, ketawa tanya kabar serta kegiatan saya akhir-akhir ini. Saya orang yang paling merasa kehilangan pada saat Anto terdump out-istilah dieliminasi dari ajang Rookie Dj-. Saya nangis sejadi-jadinya, rasanya gak mau untuk pisah. Bisa dilihat bagaimana ekspresi muka jelek dan aneh saya di youtube,dengan  keyword DUMPOUT ROOKIE DJ 2008 MINGGU ke 2. Pasti wajah saya sangat terlihat acak adul. Tapi itulah saya, saya tidak suka perpisahan.
Anto sekarang tambah sukses. Setelah tahun 2008 ikut ROOKIE DJ, setahun kemudian dia terpilih sebagai GUS JEMBER 2009. Coba bayangkan, saya mempunyai teman baik yang pada akhirnya menjadi seorang duta wisata kabupaten. Saya sampai rela melihat ajang tersebut -pada waktu itu di GOR Kaliwates Jember-, sampai harus membiarkan pacar saya untuk berangkat futsal sendiri. Dia juga terpilih jadi GUS Favorit 2009. Ternyata apa yang saya lakukan untuk mendukung Anto tidak sia-sia. Karena sebelum karantina dan final, Anto rutin mendatangi saya untuk meminta dukungan Gus Favorit. Polling dukungan lewat potongan gambar Gus/Ning yang ada di harian Radar Jember. Sampai-sampai saya bawa gunting kemanapun saya pergi dan tentunya saya masukan dalam tas gunting itu. Mengingat saya sering makan di salah satu warung yang langganan koran. Sore harinya Anto akan datang ke kosan atau kita janjian di suatu tempat untuk memberikan beberapa potongan dukungan bergambar wajah-wajah finalis. Terbukti Anto yang menang.
Sekarang Anto sudah bekerja di salah satu bank di Probolinggo. Semakin sibuk saja dia itu.
Anto orang yang luar biasa dan hebring, tentunya punya sisi lain yang tidak mau dia ungkapkan kepada saya.Sebaik-baiknya kita berteman, Anto jarang menguak sisi kehidupannya yang lain. Saya menghormati itu dan saya juga malas bertanya tentang hal-hal yang bersifat pribadi.
Apapun itu bentuknya, dari seseorang yang tidak kenal, akhirnya saya bisa menganggap Anto adalah inspirasi dan orang yang luar biasa!
HENDRA FEBRI
Sosok yang selalu banyak ide! Itulah kalimat pertama yang bisa saya lontarkan ketika ada orang yang bertanya Hendra itu seperti apa. Selalu ada saja yang dia lakukan dan saya hanya nurut saja, atau menambah sedikit ide. Yupz, hanya sedikit yang bisa saya tambahkan, mengingat ide dari Hendra kadang-kadang sudah dirancang secara kompleks dan oke.
Berteman dari kecil, mulai TK, SD, dan Kuliah - SMP dan SMA, kita berpisah-. Hendra SMP di Sempu dan SMA di Rogojampi, sedangkan saya dari SMP sampai SMA di Genteng. Sejak sekolah terpisah, kita jarang ketemu walau kita bertetangga, beda RT dan RW saja, tapi masih satu desa.
Ketemu lagi pas kuliah, sama-sama di FKIP, Hendra di Biologi dan saya di Ekonomi.
Hendra yang terkenal pendiam dan introvert di kampung saya, tidak berlaku bagi saya. Saya dan Hendra selalu rame. Banyak orang rumah yang mengaku sungkan ngobrol dengan Hendra, tapi tidak bagi saya. Sampai-sampai kita punya panggilan sayang "GEMBEL". Dia memanggil saya Gembel, begitu juga sebaliknya. Di phonebook pun namanya saya tulis "Sugem dan Hend Mbel".
Pernah magang bersama di SMP Terbuka di Bedewang-salah satu desa di Kecamatan Songgon Banyuwangi-. Tiap pagi antar jemput dan mengakibatkan kita digosipkan berpacaran oleh murid dan guru tempat kita magang.
Pernah satu kantor dengan Hendra membuat saya merasa nyaman karena ada teman seperjuangan yang menguasai bahasa osing, ada yang suka antar jemput kalau ada acara di kantor -gosip pacaran kembali meyeruak, karena kita selalu tampil mesra,hehehe-, dan kita sering saling pinjam - meminjam uang pas lagi seret, walau saya yang paling sering pinjam uang ke Hendra. Hendra tidak pelit sama sekali.
 Saking kita deketnya, saya tidak malu lagi untuk berdegan di luar kewajaran di hadapan Hendra. Adegan yang tidak akan saya tampilkan di muka umum. Contonhya pada saat beberapa onderdil yang saya pakai tiba-tiba lepas, saya langsung teriak,"Mbeeellll,,,,iki lho copot!!!!". Hendra langsung jawab,"hadeehhh,,biasa yane iki Mbel!!!", -"hadeehhh,,biasa kamu ini Mbel!!!". Saya suka Hendra yang kayak gitu!!!!
Tahun 2010 Hendra ikut pemilihan Jebeng Thulik Banyuwangi. Saya memastikan jadwal untuk bisa nonton langsung. Bersama Mak Fifi -kabag siar saya-, kita live dari Jember menuju Banyuwangi. Penuh semangat saya bengak-bengok mendukung Hendra. Kalau finalis lain membawa puluhan supporter, Hendra bawa beberapa saja saudara-saudaranya, dan cukup saya saja yang teriak heboh. Terbukti kehebohan mono saya membawa Hendra menjadi Thulik 2010.
Tahun 2011 Hendra memutuskan resign dari Soka Radio dan sudah pasti saya orang yang paling tidak ikhlas dengan kepergiannya. Acara perpisahan yang sudah dijadwalkan sengaja saya lupakan, sampai Hendra sendiri yang sms dan merayu saya untuk datang ke farewell party-nya. Saya nangis heboh dan gak bisa ngomong waktu harus mengucapkan salam perpisahan. Saya adalah orang yang menghabiskan banyak tisu waktu itu. Hendra memilih berkarir si dunia per-bank-an dari pada saya dan Soka Radio. Padahal pada saat Hendra tes di bank, saya selalu berdoa kepada Tuhan semoga dia tidak diterima. Jahat sekali saya ini ya??? Hehe, maap Mbel.....!
Hendra tertutup sekali perihal kehidupan pribadinya. Banyak selentingan tentang dia diluaran sana yang pada akhirnya sampai ke telinga saya. "duueh,,sing kok Mbel. Lare-lare iku rumpik!"-"duueh,,gak kok Mbel. Anak-anak iku gosip!". Itulah jawaban yang saya peroleh dari Hendra ketika saya tanya tentang sesuatu hal yang agak sensitif tentang gosip diluar sana.
Pernah pagi-pagi sekali Hendra sms saya, sampai sekarang smsnya masih saya simpan, yang berbunyi, "Mbel..yane sering crito opo se neng oma kok mesti tiap isuk oma pertanyaane frontal2 terus tentang aku ma *****. Yg katae iku brsumber dr kmu..aku ngeroso gk nyaman ae mbel..jok nyinyil ta lambene aku tuh mosok pacaran ta ambek ***** iku..guyon yo guyon lah tp jok nemen2 kan menyangkut nama baikku jg. Isun ngomong digi soale isun heng nyaman mbel..dadi yo mending isun ngomong baen neng yane..okeee". Sms ini saya tulis kembali sama persis, tanpa mengurangi apapun, dengan sms yang dikirim oleh Hendra kepada saya. Saya syok, tidak pernah Hendra semarah itu ke saya. Saya hanya bengong dan bingung harus bereaksi seperti apa setelah guyonan saya dengan Mbak Fifi akhirnya malah jadi boomerang untuk pertemanan saya dengan Hendra. Tetapi saking baiknya seorang Hendra, lambat laut masalah itu beres juga. Saya harus meminta maaf dengan segala kerendahan hati saya.
Tapi bailklah, saya juga lama-lama malas tanya dan berusaha menghormati privasinya.
Kedua orang ini memiliki beberapa kesamaan. Sama-sama duta wisata dari kabupaten masing-masing, sekarang bekerja di bank, sama-sama sibuk. Terlepas dari itu semua, tahukah Anda bahwa mereka memiliki kesamaan face dan warna kulit-agak gelap eksotis,ahayyy!!!-.
Saya juga mau tidak mau memperlakukan hal yang sama dengan mereka, yaitu malas bertanya tentang kehidupan pribadi mereka. Memang karena hubungan pertemanan kami masih punya rahasia.
With Love, Vika.

Teman Berkualitas itu, Nia.

Well, sudah saatnya saya akan menulis lagi tentang salah satu teman saya yang istimewa. Kalau mungkin temans rutin membaca tulisan saya, saya berjanji akan membahas tentang teman-teman saya yang "berkualitas". Kali ini saya akan membeberkan kisah teman saya yang sudah beberapa waktu tidak bertemu&baru saja (beberapa bulan terakhir) kita dipertemukan lewat jejaring sosial -fesbuk-. Oh, fesbuk,,,terimakasih!
Sama - sama kuliah di Jember, dengan jurusan yang berbeda, seharusnya kami punya kesempatan lebih untuk sering bertemu. Nyatanya selama 6 tahun tinggal di daerah kampus, kami bertemu pada awal-awal kuliah dulu, sesekali waktu pertengahan kuliah, dan malah jarang waktu sudah semester akhir. Bahkan setelah kami sama-sama bekerja, bisa dikatakan tidak pernah bertemu. Sampai pada akhirnya fesbuk ciptaan Mark Zuckerberg yang "memaksa" kami untuk bereuni lagi.
Christina Kurniawati.
Perempuan muda, lugu, polos dengan rambut potongan oval-nya -dulu-, yang berasal dari kawasan selatan Banyuwangi, tepatnya kecamatan Pesanggaran. Desa dan dusunnya saya lupa, karena begitau jaauuuhhnya jika dijamah dengan kaki terbuka. Pernah saya nyampe rumahnya di kawasan itu. Ampun, rumah saya yang di desa, masih lebih mending karena mungkin lebih dekat dengan kabupaten! Dua puluh empat tahun yang lalu, Nia -saya memanggilnya Nia atau Crit atau Jrenk-, dilahirkan pada bulan Februari (maaph saya lupa tanggalnya, memang saya termasuk teman yang tidak baik!) oleh pasangan Bapak Mustiko dan Ny. Mustiko tentunya. Cahya, adiknya, sekarang juga stay di Jember dan satu kos pula dengan Nia.
*Ups, baru saja saya menerima sms-nya sekitar 1 menit yang lalu bahwa alamat rumahnya di Sidorukun Rt. 01/02, Buluagung-Siliragung, Kabupaten Banyuwangi. Wih,,,alamatnya saja hampir sama dengan rumah saya masih pakai RT-RW, terbukti kalau kami sama-sama dari desa. Hehe. Informasi tambahan, yang saya dapatkan baru saja dari dia adalah, Nia lahir tanggal 28 Februari 1987.
Tidak pernah satu kelas waktu SMA, berbeda jurusan waktu kuliah dan beda profesi waktu mencari nafkah, bukan alasan bahwa kami tidak bisa berteman. Kelas selalu bersebelahan, saya 1.3 dia 1.4, saya 2.1 dia 2.2, saya 3 IPS 2 dia 3 IPS 1, saya kuliah jurusan Pendidikan Ekonomi FKIP dia jurusan Manajemen FE, dan terakhir saya berprofesi sebagai announcer (penyiar radio) dan Nia sebagai pegawai Bank (Bankir).
Berfoto adalah hobi kami yang memang tidak terhindarkan! Maklum, kami sama-sama tidak cantik, tapi kami sama-sama menarik. Ahay! Tapi itu memang terbukti lho!-sedikit narsis biar eksis-.
Kami berteman dengan bekal perbedaan walaupun ada sedikit persamaan -kalau dipaksakan-. Kami yang hore, yang boros -harus saling mengingatkan-, dan kami yang kadang ginjal-ginjal sendiri waktu ada cowok cakep. Itulah kami!
Tetapi yang akan saya bahas adalah Nia yang akan saya bandingkan dengan saya, dalam artian ditilik dari kehidupan kami masing-masing.
Nia yang punya banyak pacar tetapi tidak berani berselingkuh. Pernah selingkuh sekali, dan saya yang kerepotan bikin alasan ke pacar aslinya! (Nia, tolong ingat-ingat kejadia di wartel depan sekolah, hahaha). Akhirnya mungkin dia sekarang sudah tobat dan kapok untuk berselingkuh lagi. Berbeda dengan saya yang hanya punya satu pacar, tetapi berani mendua atau mentiga atau me-,me-, yang lain. Contohnya seperti ini, sekarang Nia berpacaran dengan si A-uniknya dia selalu macak sok serius dengan hubungannya yang lagi in-. Tiba-tiba saja beberapa waktu menjelang, saya sudah melihat dia berboncengan dengan cowok yang beda -dan lagi-lagi dia bilang serius tentang hubungannya ini-, begitu terus sampai dia sekarang menjalin cinta dengan satu orang saja. Tapi adegan gonta-ganti pacar ini baru berakhir pada saat ini pacaran dengan yang terakhir ini.
Nia lebih berani dari saya! Dia bisa nekat untuk melakukan aksi ekstrim, yang mungkin kalau masuk tipi, akan ada tulisan don't try this at home! Hehe. Sangking nekadnya dia, ada beberapa kejadian yang bahkan mengancam akademis dan kesehatannya. Ini tidak akan saya bahas secara detail karena mungkin akan menyinggung perasaan beberapa pihak. Cukup saya dan Nia saja yang tahu.
Nia tidak pikir panjang dalam melakukan aksinya, efek dari berani yang berlebihan, membuat saya yang notabene sebagai temannya menjadi "korban", dalam artian saya mau tidak mau, bisa tidak bisa harus membantu menyelamatkan kehidupannya. Seperti saat ini yang tengah kami hadapi adalah kami berbisnis tas untuk menyambung hidup. Dramatis memang, tapi itulah kami! Keberanian Nia bertolak belakang dengan saya yang tidak mau "nekat" untuk hal-hal tertentu.
Kami sama-sama ekstrovert. Kami bisa bercerita al-hal yang bersifat rahasia dan vulgar kepada siapa pun-tentunya bukan sembarang orang- yang kami kenal baik. Tidak ada hal yang bersifat terlalu rahasia bagi kami, selama itu tidak meyinggung perasaan orang tua kami. Apalagi kalau hanya saya dan Nia saja, kami pasti akan membuka tabir dimana rahasia itu belum terbaca oleh pihak lain. Kalaupun itu merupakan cerita basi, paling tidak kami sudah saling berbagi.
Nia yang dulu sering nginap dirumah saya, sekarang sudah baik-baik saja dengan kehidupannya. Semoga!
Kami yang dulu waktu SMA sering tukar-menukar tas, kalau baju dan sepatu sangat tidak mungkin -mengingat ukuran badan dan kaki kita berbeda-, sekarang kami malah bisnis tas.
Nia yang dulu sering minta dicomblangin dengan teman cowok saya, ex: inisial F, sekarang sudah menjalin hubungan serius dan sehat dengan cowoknya. Semoga langgeng dan aman!
Nia yang dulu anak kos yang nelangsa setiap Kamis, Jum'at, dan Sabtu -karena hore banyak uang pas hari Senin sampai Rabu-, sekarang sudah bisa menghandle keuangan sendiri dengan baik -semoga-, atau paling tidak Nia sekarang sudah bisa berdiri di atas kaki sendiri dan bisa membantu keluarga kecil pak Mustiko. Ikut bersyukur!
Nia yang dulu secara penampilan beda dengan sekarang, mengingat sekarang sudah bekerja, akan tetap sama di mata saya!
Teman berkualitas, dimana pada saat bertemu, kami pasti akan akan melakukan hal-hal yang bermanfaat atau paling tidak ada "sesuatu" yang bisa dibagikan.
Semoga walau kita jarang bertemu, kita akan tetap menjadi sesuatu yang berkualitas!
Salam hangat untuk Nia.

Lagu Itu...

Beberapa waktu yang lalu pada saat saya dengan salah satu teman saya -Christina a.k.a Nia alias Creed- menyempatkan untuk menghabiskan waktu di salah satu pusat perbelanjaan di Jember. Saat kami makan di cafe-nya, kebetulan ada event juga disana, tiba-tiba panitia dari event tadi memutar lagu yang pada saat itu benar-benar memaksa saya untuk memngingat beberapa hal yang menjadi bagian dari hidup saya.
Sebelum saya jelaskan lagu apa yang saya maksud itu, terlebih dulu saya akan memberikan pertanyaan atau mengingatkan Anda tentang lagu. Mungkin diantara teman-teman pernah memutar sebuah lagu secara berulang-ulang, baik dalam MP3, kaset, VCD, di leptop atau di media apa pun. Atau apakah temans juga pernah dalam satu hari mendendangkan satu lagu secara terus menerus, baik itu di kamar, di kelas waktu kuliah, di kamar mandi, di jalan, dimanapun temans berada. Bahkan temans rasanya harus mengingat lagi, apakah pernah sampai menulis ulang lirik lagu andalan atau copas dari internet karena sangking pas-nya lagu itu di lubuk hati teman-teman sekalian. Bisa jadi itu lagu favorit dari temans yang tidak tergantikan oleh lagu apa pun!
Nah, ternyata tanpa kita sadari, kadang-kadang kita berperan sebagai artis -pemeran utama- dalam sebuah kejadian yang dimana pada saat kita mendengarkan sebuah lagu, kita merasa lagu itu menyindir kita atau bahkan sangat mewakili perasaan kita. Menyindir disini dalam artian kita merasa bahwa kadang kita terlalu jahat terhadap pasangan, karena saya juga pernah mengalami -pada saat itu salah satu teman menyindir saya dengan kalimat,"Vik, coba dengarkan lagunya Ada Band yang Pemain Cinta! Cocok buat kamu". Ternyata setelah saya dengarkan, ada lirik yang berbunyi "...kau begitu asyik mendua......bla..bla..walau dirimu begitu indah, maaf kau tak pantas bagiku". Setelah mendengarkan, meresapi dan menganalisa, ternyata lagu itu untuk perempuan yang tidak setia. Baiklah, saya menanggapinya dengan santai dan berucap terimakasih kepada teman saya itu.
Sekarang kita bahas tentang lagu yang mewakili perasaan. Dimana kadang kita tiba-tiba menteskan air mata-dramatis-, langsung diam atau ikut berdendang pada saat ada lagu yang lagi kita banget. Saya ambil contoh, beberapa hari yang lalu adik kos saya tiba-tiba lagi on terus dengan lagu terbarunya Pay feat Irang&Vanya yang judulnya "Pas Kena Hatiku". Setelah saya tanya, tenyata dia lagi merasakan hal yang sama dengan cerita di lagu tersebut, dimana ada lirik "...rasanya tersiksa, rasanya tak mau ingat...". Baiklah...saya mencoba memahami karena kadang saya sendiri mengalami hal itu, menyindir orang dengan lagu dan kadang terhipnosis dengan lagu itu. Terbukti lagu lama dari Krisdayanti "Penantian" juga pernah saya banget!!!
Temans, sekarang saya juga akan bertanya, apakah saat ini temans punya lagu yang mewakili perasaan dan apakah teman juga mempunyai lagu favorit? Menjawab pertanyaan ini, sekaligus menceritakan lagu apa sebenarnya yang membuat saya tertegun waktu makan bersama teman saya itu. Pernahkan temans mendengar nama Bruno Mars? Penyanyi cowok berkulit coklat eksotis, perawakan tinggi nan manis ini tengah membuat saya terkenyong-kenyong alias angkat 4 jempol atas "Talking to The Moon"-nya. Saya pertama kali mendengar lagu ini pada saat saya berkunjung ke kosan teman kantor saya. Begitu menyentuh dengan liriknya "I know you're somewhere out there, Somewhere far away, I want you back,I want you back...". Jika dilihat dari judulnya saja, kita sudah tahu kalau kita sedang berbicara dengan bulan, mungkin terkesan sia-sia, karena bulan tidak mungkin bisa ngomong, berasa kembali ke era 90-an dengan lagunga Doel Sumbang feat Nini Carlina "Kalau Bulan Bisa Ngomong". Nah, si Bruno sendiri mungkin juga tidak punya pilihan lain untuk bagaimana mengungkapkan perasaanya dan lagu ini terpilih menjadi soundtrack of my life di penghujung tahun 2011 kemarin. Sampai-sampai saya putar berkali-kali di winamp, menemani mandi saya lewat MP3, dan mewarnai status saya di fesbuk beberapa kali.
Kalau ditanya tentang lagu favorit, saya akan tegas bilang "Dan" dari Sheila On 7. Apa alasannya? Karena ternyata kita bukan siapa-siapa untuk orang lain pada saat orang tersebut sudah tidak merasa nyaman dengan kita. Berlagak apa pun kita di depan orang tersebut, tidak akan merubah apa pun selama kehadiran kita ternyata tidak diharapkan. Saya bisa memetik kesimpulan dari lagu ini. Yaitu ternyata kita tidak bisa bersikap sok kalau ternyata kita tidak bisa apa-apa. Coba temans dengarkan lagu ini dan pasti akan menemukan lirik "...lupakanlah saja diriku, bila itu bisa membuatmu kembali bersinar dan berpijar seperti dulu kala...".
Sebenarnya masih banyak lagi lagu yang saya suka, tetapi bukan favorit. Sampai saat ini di awal tahun, si Bruno belum tergantikan dengan lagu apa pun untuk menjadi soundtrack of my life. Belum tahu besok atau lusa, apakah jawara itu akan bergeser atau tergantikan oleh lagu lain atau tidak.
Nah, sekarang bagaimana dengan temans? Pertanyaan kembali terulang dan harus terjawab, apakah teman juga memiliki lagu favorit atau bahkan saat ini ada lagu yang menjadi soundtrack of your life? Karena apa pun lagu yang temans pilih, tentunya semua memiliki alasan, seperti kata Hoobastank, The Reason.

Minggu, 08 Januari 2012

'Kuda Besi' ini membawaku!

Seorang teman baru saja menyarankan untuk menulis tentang 'kuda besi' saya. Muncullah beberapa kosa kata di benak saya dan harus dengan segera ditumpahkan dalam sebuah tulisan. Berhubung 'kuda besi' ini juga belum pernah saya miliki potonya, dengan segera juga saya take photonya waktu 'kuda besi' ini terparkir rapi di parkiran kantor saya.
Baik, akan saya jelaskan bagaimana rupa dari 'kuda besi' saya ini.
Beroda dua dengan body berwarna silver-hitam, V*G* diproduksi dari pabrik otomotif Jepang bernama Y*M*H* - merk sengaja saya sensor, tidak etis untuk dipublikasikan-. Awal SMA saya mendapatkan 'kuda besi' ini. Berlagak petentang-petenteng ke sekolah dengan motor baru ternyata membuat saya menjadi lebih pede. Hehe.
Kronologis yang akan saya ungkapkan tentang hubungan saya dengan 'kuda besi' ini adalah pengorbanannya terhadap keberlangsungan hidup saya. Baik itu dalam bidang akademik, meniti karier, bahkan perjalanan cinta saya. Oke, kita akan bahas satu persatu dari beberapa aspek ini.
1. Bidang akademik. 'Kuda besi' ini menemani perjalanan akademis saya sejak saya pertama masuk SMA tahun 2002 sampai tahun 2005, kemudian saya bawa waktu saya kuliah tahun 2005. Mengantar saya mencari tugas, mengopy tugas, dan segala macam bentuk tetekbengek dunia pendidikan.
2. Meniti karier. Walaupun sudah mencoba menaiki 'kuda besi' lain, rasanya saya lebih expert dengan si silver-hitam ini. Setiap hari mengantar saya, menunggu saya, dan kembali lagi ke kosan, ya saya tetap dengan dia. Oh, begitu setianya dia ini.
3. Perjalanan cinta. Nah, ini cerita yang paling menarik tentang seberapa besar peran silver-hitam ini dalam kisah romantic saya. Mulai dari pacar pertama saya di SMA, mantan saya yang notabene tetangga saya, mantan saya yang kuliah di Surabaya, selingkuhan saya yang di Jember, sampai pada pacar saya yang sekarang, semua menikmati sensasi menaiki si silver-hitam ini.

Tidak hanya pacar atau kisah romantis saya saja yang ditemani 'kuda besi' ini. Teman-teman saya juga sudah menikmati rasanya menaiki silver-hitam saya ini. Dia saya pakai untuk mengantar teman, latihan band, hepi-hepi, dan segala bentuk aktivitas saya beserta teman-teman saya.
Macet, rantai lepas, ban meletus, habis bensin, busi mati, sadel ketinggian, standard lepas-sampai harus disangga pakai karet gelang-, sampai nabrak kucing pun pernah saya alami dengan si silver-hitam ini.
Bahkan sangking setianya dia kepada saya, ada beberapa teman SMA saya yang tanya, "motormu sik yang dulu iku Vik?" dan bahkan ada teman lama yang tidak pernah bertemu pas sekali bertemu langsung bilang, "Kamu Vika yang motornya V*G* kan?", serta tidak jarang juga ada yang bilang, "Wah, motor iki sik ono ae Vik! Awet.","Gak arep mbok dol-jual,red- motormu Vik?", "Ojo dijual motormu Jrenk, eman-eman akeh kenangane", serta banyak lagi ungkapan lain tentang 'kuda besi' saya itu.
Saya selalu mewanti-wanti kepada keluarga saya, JANGAN PERNAH MENJUAL SILVER-HITAM saya. Karena banyak cerita saya yang ada di atas sadel motor itu.
Walaupun cuma benda yang mungkin nanti nilai jualnya sudah benar-benar tidak layak lagi, saya akan menghargai peran serta dari 2002 sampai saat ini.
Love Si Silver-Hitam

Teman Bisa Berubah Jadi Siapa Pun dan Merubah Apa Pun, Hindari "Kontak Mata"!

Obrolan saya dengan seorang teman-baca:Imam Mustofa- dalam perjalanan balik ke Jember sore hari kemarin menyisakan sebuah kesimpulan yang ternyata masih nempel di benak saya. Bukan karena apa, tapi kami begitu menikmati perjalanan dengan banyak ngobrol, bercerita, dan ternyata kami memiliki beberapa pemikiran yang sama.
Dari begitu banyaknya obrolan dalam perjalanan kemarin, ada hal yang begitu menggelitik. Saya ingat betul pada saat kami nyampe pegunungan Gumitir, kami menyimpulkan bahwa bentuk pertemanan itu akan bisa berubah jadi siapa pun dan akan merubah apa pun. Tapi syarat yang harus dipenuhi dan juga sekalian harus dihindari adalah" KONTAK MATA DENGAN TEMAN". Artinya, jangan sampai kita membawa kontak mata dengan teman yang awalnya bersifat biasa saja, berakhir dengan membawa perasaan dan berujung pada saling mengagumi dan menciptakan suasana yang akan beda di hati. Bukan berarti kita tidak memperhatikan teman, tetapi jangan sampai membawa suasana pertemanan ke jenjang yang nantinya akan berpangkal pada rasa tidak nyaman. Istilah kerennya "dari temen jadi demen". Itu kalau bisa dipertahankan. Tetapi yang saya dan Imam pikirkan adalah "dari asuh jadi musuh". Itu yang membuat jadi tidak oke.
Ternyata saya dan Imam pernah mengalami hal yang sama, bukan berarti kemarin saya dan Imam telah melakukan kontak mata juga, karena saya bonceng di belakang dan Imam tidak mungkin nyetir motor dengan menengok ke belakang, hehehe. Memang yang kami lakukan merupakan kesalahan yang bisa dikatakan proses mencari jati diri. Saya dengan teman yang saya kagumi, Imam dengan teman perempuan yang dia kagumi. Semua memang salah, mengingat kami juga sudah memiliki "kotak" yang sudah tersimpan dan tidak mungkin akan diubah.
Tetapi tahukah temans, ternyata tidak hanya kesepakatan mengenai "kontak mata" yang kami bahas kemarin sore. Ada beberapa hal lain yang menarik untuk diungkapkan. Berikut akan saya jelaskan 2 (dua) hal diantaranya:
1. Kami ternyata sudah sama-sama merasa nyaman dengan pasangan masing-masing. Imam dengan Dian-nya, dimana Imam mengaku kalau dia sudah terlampau merasa nyaman dan butuh ke Dian, dan saya dengan Pras saya dengan alasan yang sama dengan Imam. Apa pun kesalahan yang pernah kami lakukan, ternyata kami juga menemukan ujung yang kami cari selama ini. Imam yang berakhir di Dian dan saya yang berlabuh ke Pras saya. Perjalanan panjang kami ternyata banyak sekali yang bisa dibahas, baik itu dalam bentuk candaan atau bersifat serius terkait dengan hubungan kami masing-masing. Tanpa disadari ternyata awal kisah asmara kami masing-masing juga berawal dari pertemanan. Imam dan Dian adalah teman di fesbuk, sedangkan saya dan Pras saya adalah teman sekelas waktu kuliah. Semua berakhir dengan indah karena teman bisa merubah apa pun dan bisa berubah jadi siapapun. :)
2. Kami sedang merencanakan sesuatu terkait keberlangsungan hubungan pertemanan kami. Akan ada proyek besar dimana kami akan mengubah sifat pertemanan kami menjadi suatu hal yang nantinya akan ada basecamp untuk tempat berkumpul kalau kami sudah sama-sama hidup dengan pasangan masing-masing. Dimana akan ada "korban" dalam proyek besar kami. Korban ini nantinya akan merubah teman jadi apa dan berubah jadi siapa. Kami akan menciptakan "kontak mata" versi lain. Rencana apakah itu??? Cuma saya dan Imam yang tahu. :)
Inti dari semua ini adalah, apa yang kami bicarakan, obrolkan, dan diskusikan adalah proses untuk menuju suatu hal dimana kita tidak akan merubah apa pun. Baik itu dari kesalahan yang pernah kita lakukan, perjalanan yang tengah dihadapi, dan masa depan yang akan kita jelang, semua adalah masa mencari. Kami sudah mengalami masa ngesot, merangkak, tertatih, dan sekarang kita sudah bisa berjalan dan bahkan mencoba untuk berlari walau hanya belajar.
Pertemanan saya dan Imam yang notabene juga jarang intens bertemu ternyata menyisakan kesimpulan yang luar biasa pada saat kita sekali bertemu dan semuanya bermanfaat. Dimana saya dan Imam ternyata mempunyai pandangan dan pola pikir yang hampir sama. Bentuk pertemanan seperti ini sebenarnya tidak hanya terjadi antara saya dan Imam. Masih banyak teman lain yang mempunyai kualitas pertemanan yang oke juga. Dimana saya begitu menghargai teman yang berkualitas, artinya jarang bertemu tetapi sekali melakukan pertemuan kami akan mendapat sesuatu yang berharga, daripada sering bertemu tapi hanya bersifat "ambal-ambal", artinya sering bertemu tetapi tidak "isi".
Akan saya bahas "teman-teman berkualitas" saya yang lainnya,in the next note!
Salam hangat untuk semua teman-teman saya.

Selasa, 03 Januari 2012

Mencintai Sejarah Diri Sendiri

Temans, pernahkan Anda merasa "terjebak" oleh masa lalu? Atau Anda selalu teringat masa lalu? Bukan hanya masa lalu yang berpuluh-puluh tahun sudah kita lewati, tetapi masa yang kita alami beberapa waktu terakhir. "Terjebak" yang saya maksudkan disini adalah keadaan yang membuat kita sulit keluar dari orang-orang, tempat, suasana, atau barang-barang yang selalu membawa kita ke masa lalu. Jika barang bisa kita singkirkan, tempat bisa kita pindah, suasana bisa kita ubah, lalu bagaimana untuk melenyapkan mereka yang pernah menjadi "homo sapiens" bagi kita? Tidak mungkin kita akan membunuh atau menghabisinya. Terlalu kejam kedengarannya kalau kita bersikap anarkis seperti itu. Mungkin solusi yang lebih preventif adalah kita selalu berpikir positif dan menyibukkan diri dengan hal yang membuat kita merasa lebih enjoy dalam menyikapi hidup.
Saya termasuk manusia setengah-setengah dalam hal ini. Artinya, adakalanya saya begitu kejam menghilangkan semua hal yang terkait dengan masa lalu, karena berbagai alasan - pernah sakit hati, tidak cocok dengan orang di masa lalu kita, atau sengaja melupakan karena "mereka" sudah tidak penting lagi bagi saya-. Tetapi tidak jarang juga saya mentolerir keadaan dimana saya masih bisa memaafkan beberapa hal tentang masa lalu saya untuk "sedikit" masuk lagi ke kehidupan saya. Bukanya saya punya pikiran mundur, tetapi toleransi ini saya munculkan karena setelah dipikir, ternya "mereka" yang ada di masa lalu bisa dimanfaatkan untuk saat ini dan kehidupan selanjutnya.
Tetapi, pertanyaan utama saya masih belum terpecahkan. Apakah kita pernah terjebak masa lalu? Disini bisa kita artikan masa lalu yang lumayan membuat pikiran ruwet, istilahnya kita jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Rasanya kita begitu bodoh kalau harus berada dalam keadaan seperti itu. Tetapi sekarang muncul lagi pertanyaan dan penyataan seperti, "Apakah kita bisa keluar dari masa lalu?" dan "Kita tidak akan ada kalau tidak ada sejarah".
Nah, apa yang bisa kita petik dari sejarah kita sendiri? Pastinya, kita tidak mau mengulang kesalahan yang sama. Sejarah harus tetap ada untuk dijadikan tolak ukur atau minimal pembelajaran bagi kita. Sekarang coba pikirkan dan kita ingat lagi, apa saja hal yang membuat kita  lupa, luka, senang, gembira ria, dan kecewa.
Mencintai sejarah diri sendiri juga bisa kita masukkan ke bagian hidup kita. Walau ditempatkan di bagian paling sempit, di sudut hati, terpencil di ujung, di bagian terselubung, tertutup masalah-masalah yang ada, di kantong, di dompet, dan bagian manapun yang penting kita bisa menyimak, membuka, atau membaca lagi masa lalu kita untuk dipelajari lagi dan dijadikan sesuatu yang berharga.

Kamis, 29 Desember 2011

Makna Bersama Mereka

Mungkin saya salah satu orang yang tidak suka dengan istilah "sahabat". Walaupun banyak orang yang mengartikan bahwa sahabat merupakan sosok yang selalu ada pada saat kita butuh, orang yang mengerti kita, dan merupakan manusia yang melekat di hati kita. Bukannya benci dengan "sahabat", tetapi saya merasakan bahwa istilah sahabat terlalu dalam dan seolah-olah tidak ada orang lain di sekitar kita selain sahabat.
Saya justru lebih suka dan lebih nyaman dengan istilah "teman". Ya, cukup teman saja! Baik itu teman bermain, teman sekolah, teman gosip, teman nongkrong, teman yang tidak sengaja bertemu, teman yang bisa menyimpan beberapa cerita penting, teman yang hanya basa - basi, teman yang suka menraktir kita makan, teman karaoke, teman yang menyebalkan, teman yang membuat kita tertawa, teman berdebat, teman kantor, teman di angkutan umum, teman kos, teman yang lebih tua, teman seumuran, teman yang lebih muda, teman alay, teman gaul, teman mengeluh, teman egois, teman nge-band, teman kencan, teman belanja, teman yang mengerti kita, teman curhat dan banyak lagi teman-teman yang lain.
Coba kalau pendapat saya tentang "teman", Anda ubah sendiri menjadi "sahabat"! Tentu ada beberapa kata  yang tidak pas untuk digabungkan kan?
Saya mempunyai banyak teman dan saya merasa belum pernah memiliki "sahabat". Namun, apapun sebutan kita untuk orang terdekat , tergantung dari bagaimana kita menyikapi kehadiran mereka. Entah mereka datang pada saat ke-egois-an yang mengantarkan mereka menuju ke kita atau bahkan pada saat ego kita sendiri yang memaksa kita harus lari ke mereka.
Serta, apapun yang kita peroleh dari mereka, ada baiknya kita juga memberikan rasa nyaman yang adil walau pun kadang kita melakukannya dengan keadaan terpaksa atau bahkan kita secara iklhas "ada" untuk mereka.
Saya bisa ada dan merasa "ada" karena teman-teman saya!
Salam hangat untuk semua orang yang merasa jadi teman saya.