Rabu, 08 Agustus 2012

Kang Mas Tuxedo Bertopeng featuring Sailor Mercury KW Abal-abal


Kang Mas Tuxedo Bertopeng featuring Sailor Mercury KW Abal-abal

Apa jadinya kalau kita terpesona pada orang yang tidak pernah kita tahu bentuk wajahnya? Tapi dia udah buat kita jadi susah tidur, gregetan pengen cepet malem dan pengen denger suaranya lagi, salting sendiri pas hape bergetar dan berharap dia yang telepon atau sms, semua lagu seolah mewakili perasaan dan penyanyinya seakan memang sengaja menyanyikan  lagu cinta khusus untuk kita, dan beberapa bentuk ketidakberesan tingkah laku orang pada saat jatuh cinta –no, just terpesona!- lainnya.

Kalau kamu belum pernah merasakan hal itu, mari aku bagikan rasa membuncah kasmaran terpesona terkenyong-kenyong itu pada kalian. Karena aku sudah -sedang- merasakannya!

Berawal dari situs jejaring sosial, facebook, kita ketemu karena ternyata dia adalah saudara dari teman kantorku. Padahal, dia juga dulunya kuliah di tempat yang sama tapi beda jurusan dengan aku. Wisuda juga pada periode yang sama. Tapi anehnya, selama dia menghabiskan waktu kurang lebih lima tahun kuliah, kita tidak pernah sekalipun bertemu.

Bahkan parahnya, dia juga sering main ke kantor sekedar jemput atau nganter temenku ngantor! Aneh bukan? Memang aneh, seaneh perasaanku sekarang. Jatuh cinta (yeeahh! Simpati deh rasanya ciinn!) untuk kesekian kali, salahkah? Kata temanku, sah saja asal dengan orang yang sama. Tapi apa jadinya kalau jatuh cinta pada new comer? Nah, ini juga yang membuat dilema karena memang semuanya datang disaat yang tidak tepat. Terlalu terlambat memang! Karena hati kita sudah dikavling orang lain.

Tapi kadang ragu juga, apakah ini murni jatuh cinta (terpesona beibeh!) atau sekedar kagum -karena kita berdua sering dilanda penyakit galau-. :)
Terlalu cepat untuk men-judge kalau ini cinta atau sebuah rasa simpati saja? Berarti pertanyaan dan pernyataan diawal tadi perlu diralat dan diklarifikasi kebenarannya! :D

Menghabiskan tengah malam dengan candaan khas remaja -padahal umur kita sudah diambang batas menuju hari tua dan segera meninggalkan masa remaja-. Ngobrol kesana-kemari tentang banyak hal. Mulai diskusi serius tentang novel, guyon yang gak jelas ujungnya, curhat masa lampau, sampai cerita tentang masa kejayaan saat kuliah dan periode keemasan pada saat kita -ternyata- merupakan penggemar serial kartun Sailormoon.


Dia yang mengidolakan Tuxedo Bertopeng a.k.a Mamoru dan aku dengan bangganya lebih memilih menjadi Sailor Mercury a.k.a Ami Mitshuno. Pasti kalian heran, mengerutkan kening, alis, hidung, bulu mata, dsb... dan berakhir dengan pertanyaan, "kok gak milih jadi Sailormoon-nya? Kan pasangan Mamoru itu Usagi Tsukino?".

Aku kurang begitu suka dengan Usagi yang cengeng dan hanya bisa kedip-kedipin mata aja tiap ada Mamoru dan berubah menjadi tolol super duper pada saat diajak ngobrol Mamoru. Aku tidak ingin seperti itu. Aku ingin menjadi sosok dewasa yang tenang dan menghanyutkan pada saat marah seperti air -kekuatan dari sailor Mercury-.

Endingnya, aku malah suka menyebutnya sebagai Tuxedo bertopeng. Walau sebenarnya aku juga tidak pernah tahu apakah dia kerap mengenakan jubah hitam dan memakai topeng pas di kantor.

Jika dilakukan tes tingkat ke-akurat-an model perhitungan statistik macam apa pun dan bila dihitung menggunakan sempoa atau kalkulator tercanggih, hasilnya akan NOL BESAR kalau ia akan memakai jubah kebesaran Mamoru! Ho diterima Ha ditolak! Ketidakmungkinan diterima, pemakaian jubah ditolak!

Back to Tuxedo Bertopeng ala pribumi! Aku merasa nyaman ngorol apa pun dengan dia, tanpa harus menjadi orang lain yang sok jaim dan mencoba mengatur tenggorokan sedemikain rupa demi menghasilkan nada suara yang merdu! Tidak beibeh! Bukan aku banget! Begitu membahagiakan bukan kalau kita bisa menjadi our self dan bertemu dengan orang yang nyambung dengan topik yang akan kita bahas?

Aku bebas mengeluarkan suara cempreng pas teriak dan suara kodok pas serius. Sampai kadang suara menjadi bernada tidak jelas akibat timbul tenggelam, karena memang kita ngobrolnya cuma lewat telepon dan kita mau tidak mau harus tunduk pada kekuatan sinyal dan harus sesering mungkin mengubah posisi kita pas teleponan.

Capek dengan posisi telentang, aku merubahnya menjadi posisi miring. Capek miring, sekarang beralih ke duduk tegak. Bosan tegak, bantal lapis tiga dibuat sandaran. Bantal melorot, punggung kembali mengambil alih peran posisi yang lainnya -telentang lagi, miring lagi, duduk lagi, tegak lagi, dan capek –tapi asyik!-.:D Hal ini dilakukan karena hanya ingin mencapai PW -posisi wuuenak- tingkat ubun-ubun.

Back to perasaan yang aneh ini! Apakah ini selingkuh? Menurut sebuah situs yang di dalamnya juga membahas tentang 'perasaan', dikatakan bahwa -aku menangkapnya kurang lebih seperti ini- "selingkuh, tidak harus melakukan hubungan fisik. Membagi cerita yang membuat kita jadi berbunga-bunga juga merupakan tindakan perselingkuhan. Hal ini dikarenakan ada sebuah bentuk penghianatan terhadap pasangan". Hubungan fisik? Penghianatan? Wow, terdengar begitu menyeramkan pemirsa! Padahal, membagi cerita dengan orang lain dengan perasaan berbunga-bunga sebenarnya --lagi-lagi menurutku-- hal yang wajar saja. Bisa jadi pacar kita tidak terlalu ‘ngeh atau kurang paham tentang Sailormoon dsb, dll, dst kan? Jadi apa salah kalau kita membahas topik tertentu dengan orang tertentu juga? Toh, selama kita ngobro juga tidak ada kata 'cinta','sayang','beibeh',’honey’,’sweety’ atau nickname of love lainnya. Apalagi bicara tentang masa depan, next or future? Tidak sampai sejauh itu kawan!

Kita biasa saja, bahkan saling menghormati satu sama lain. Aku merasa kalau mungkin aku lebih cocok dijadikan teman dibanding pacar, apalagi dia sempat bilang, "kamu itu rame, lucu juga!". Ya memang, karena setiap kali ngobrol, aku yang mendominasi! :D Dia hanya urun atau numpang 'Ehm, owh, iya, he-eh, hehehe', atau kadang dia menyelipkan 'Huuatssiii' -tanda bersin, atau 'uhuuk grreeekk' -tanda batuk yang agak menyiksa tenggorokan, atau kadang juga ada suara 'hhhuft' -mungkin ini mendesah ya?-.

Nah, sekarang aku mau melanjutkan membayangkan wajah pacarku yang melekat di hati dan kemudian dikomparasikan dengan wajahnya yang nempel di pikiran . Bebas kan? Karena mimpi, melamun, dan membayangkan sesuatu adalah hak asasi kita, selama tidak menganggu kepentingan orang lain. Menurut kalian?

:)

Apatis

Setiap mendengar kata ‘cinta’ atau melihat ‘orang pacaran’ atau datang ke acara ‘nikahan’, secara tiba-tiba -dan lebih terkesan otomatis-, kuping terasa panas, kepala mendidih, hati terbakar, dan berakhir menjadi hangus. Gosong di sekujur tubuh kemudian menjadi kerak hitam yang membandel. Kalau kalian melihat kerak di bawah wajan atau panci, apa yang akan kalian lakukan? Pasti ingin menggosok dengan abu, sabun colek atau apa pun kan? Jika masih membandel saja, kalian pasti geregetan ingin mencongkel memakai pisau, obeng, bahkan kalau bisa pakai linggis sekalian. Aku juga sudah pernah melakukan seperti itu temans! Pernah mencoba membersihkan dengan cara yang halus, persuasif, preventif, dan segala tindakan berkonotasi positif lainnya. Selanjutnya aku juga pernah berusaha mencongkel kerak yang melekat di tubuhku sendiri menggunakan alat yang ekstrim (yang bisa memasukkanku dengan mudahnya ke penjara).

Baik, mungkin kalian akan pusing dengan keluhan-keluhan ini. Tapi ada baiknya kalau kalian dengarkan penjelasanku terlebih dahulu! Tapi aku ingin teriak dulu ya! Boleh kan? Kalian harus jawab BOLEH. Baik, satu…dua…tiga…AAARRKKKKGGGGGGHHHHH!!!! Huft, oke aku mula cerita!

Kalau kalian bicara tentang cinta, pacaran, atau pernikahan, baik…aku akan tutup kuping dengan segera! Kalian tahu, tingkat kepercayaanku terhadap tiga kata itu sudah berada pada titik terendah, nol derajat celcius –atau bahkan sudah melewati, minus!-. Kalian pasti bertanya, sebegitu bencikah aku terhadap ketiganya? Aku jawab, -untuk saat ini- IYA.
Sebelumnya, aku akan bertanya terlebih dulu pada kalian. Bagaimana perasaan kalian, jika pacarmu, kekasihmu, tunanganmu, atau calon istrimu yang berada di luar kota, ternyata membagi hati dengan orang lain? Berarti aku 50, lelaki itu juga dapat 50 kan? Impas! Tapi kalau dibagi untuk tiga orang? Masing-masing mendapatkan 1/3 bagian. Jatah tiap orang semakin sedikit. Berarti porsiku juga menipis. Betul kan? Kemudian aku tanya lagi, apa yang akan kalian lakukan untuk mengatasinya? Menghabisi lelaki itu, menampar pacarmu, atau tinggalkan saja semua? &^%$@#$()*/

Baik, mungkin kesalahan bukan murni dari pacarku, kekasihku, tunanganku, atau calon istriku –sehingga dia memutuskan untuk membagi hati-. Aku juga turut andil terhadap ‘ulah’ pacarku, kekasihku, tunanganku, atau calon istriku itu. Aku akui kalau kami memang jarang berbagi karena terpisah jarak. Selain itu, aku juga bukan tipe pria romantis (aku tidak bisa menulis puisi seperti Khalil Gibran, tidak pernah berlutut memberi bunga, mengatakan ‘I love u’ setiap saat, atau merayu ala Shah Rukh Khan dalam film Indianya!). Aku adalah jenis pria yang termasuk dalam komunitas pria cuek.
Tapi tolonglah pacarku, kekasihku, tunanganku, atau calon istriku, aku sebenarnya bisa menunjukkan dan membuktikan kalau hubungan kita baik-baik saja, tetapi dengan cara yang berbeda. Caranya adalah, aku tidak membagi hati ini dengan wanita lain. Tapi pacarku, kekasihku, tunanganku, atau calon istriku, ternyata kamu memiliki prinsip yang berbeda. Menurutku, kamu berprinsip “Kalau kamu cuek, jangan salahkan aku kalau aku lebih suka mencari perhatian orang lain”.


Tapi itu semua tidak perlu dibahas lagi pacarku, kekasihku, tunanganku, atau calon istriku. Sekarang kita sudah berpisah. Kamu tahu, apa yang aku lakukan setelahnya? Merokok berpak-pak, ternyata belum bisa mengurangi stress ini. Aku coba yang sedikit lebih berat. Aku habiskan berbotol-botol minuman keras, dari mulai harga yang sedikit mahal, standar, sampai oplosan (yang ternyata rasanya seperti rendaman bangkai, cuuih!). Cara ini ternyata belum sepenuhnya ampuh. Selanjutnya aku memilih untuk menghabiskan waktuku  berteman dengan beberapa pil, obat, serbuk, dan jarum suntik. Aku juga kerap menyimpan beberapa helai daun di dompet. Takut sewaktu-waktu kalau lagi butuh!

Coba kalian beri solusi, pantaskah kalau mengalihkan rasa stress dengan hal seperti itu? Pasti kalian akan serempak menjawab TIDAK. Iya kan? Menurut kalian aku harus lari kemana? Pasti kalian juga serempak –lagi- akan menjawab TUHAN. Iya kan?

Wah,,,jangan bicara tentang Tuhan! Aku takut –eh, lebih tepatnya malu-. Aku belum pernah mencoba dekat dengan-Nya. Coba kalian pikir, bagaimana mungkin kalau aku mendekati Dia, pada saat aku lagi stress? Doa apa yang harus aku rapalkan? Menjalankan lima waktu saja nol. Seminggu sekali beribadah, kalau ingat dan sempat. Setahun sekali pun, kebetulan menghormati lingkungan sekitar pas lebaran. Nah, betapa menjijikkannya aku, kalau aku dengan PD-nya menghadap Dia saat keadaan kacau begini. Aku malu!

Sampai suatu saat aku mencoba bangkit. Kata anak gaul zaman sekarang move on –eh, bener kan tulisannya?-. Tapi aku pakai Bahasa Indonesia saja, pakai bahasa asing malah berantakan jadinya, hehe. Baik, aku lanjutkan! Aku mencoba berpacaran lagi, setelah terpuruk. Nah, tahukan kalian, pacarku yang sekarang BERJILBAB! Bayangain men, preman dapat muslimah! Namanya juga rezeki, iya kan? Setelah berjalan beberapa waktu, endingnya putus lagi! Orang tuanya kagak setuju men! Ya jelaslah, anaknya beriman, malah dapat cowok bedigasan!

Karena banyak teman yang kasihan melihat aku yang semakin amburadul, mereka berlomba-lomba mencarikan tambatan hati yang baru buat aku. Mulai mempromosikan adiknya, saudaranya, sepupunya, adik tingkatnya, tetangganya, teman sekolahnya, teman kantornya sampai ada yang nawarin mantan pacarnya! Busyet! Mereka melakukan ini semua, pastinya telah memastikan bahwa keadaanku sudah pulih dan steril dari minuman keras, obat-obatan, serta barang haram lainnya. Alhamdulillah, aku sudah mulai ingat Tuhan dan dengan rasa malu yang mendaging menyumsum pada saat menghadapNya!

Sekarang temans, aku hanya minta doa dari kalian. Biarkan aku memilih untuk sendiri dulu. Karena menurutku, untuk saat ini, hal itu merupakan pilihan yang terbaik. Sebelum aku berkarat kemudian membusuk, biarkan aku menikmati masa jombloku! Terimakasih temans, kalian sudah meluangkan waktu mendengar curhatanku! Memang terkesan alay bin lebay, tapi preman juga manusia kan? :)

*Tulisan ini saya dedikasikan kepada teman saya yang Apatis
Phy

Kamis, 21 Juni 2012

Mengenal "dia" dari hati

Saya menulis ini, beberapa saat setelah saya menerima kabar/sms dari teman lama. Orang yang kadang tidak pernah terpikir sebelumnya akan datang kembali, sekarang muncul lagi. Ternyata, orang yang pernah menjadi teman atau yang mewarnai hidup kita, tidak akan lepas atau hilang begitu saja ya? Saya baru sadar setelah beberapa kali sharing dengan teman kantor saya, Umy Masita. Dia juga kadang-kadang bercerita tentang teman masa lalunya yang sekarang muncul lagi, bukan membawa kenangan, justru yang ada malah membawa masalah baru.

Ada yang minta dibantuin CLBK dengan teman SMAnya dulu lah, ada yang ternyata mantan teman kantornya ternyata berselingkuh dengan suami teman SMAnya lah, ada yang menjadikan warungnya sebagai tempat kencan teman lama lah, bahkan dia sering sekali disamperin oleh manusia pengganggu masa lalunya. Tapi, saya menanggapi dan menyarankan bahwa apa pun yang "mereka" lakukan, kita harus biasa saja. Dalam artian, mereka datang dengan berbagai masalah dan kita tidak layak untuk turut andil masuk dalam masalah itu. Namun dilema juga, dibantu malah dosa, gak dibantu ya ada embel-embel "temen". Susah kan?

Orang lama yang datang kembali ke kita, menurut saya ada 2 hal yang mempengaruhi. Pertama, dalam keadaan suka/bahagia mereka tanya kabar ke kita karena kangen ke kita. Hal ini wajar, apalagi sudah lama tidak bertemu atau bisa kita beri gelar TLBK (Teman Lama Bersemi Kembali). Kedua, dalam keadaan ruwet/kacau/balau/duka/nelangsa mereka datang karena merasa ada perlu (Awalnya basa-basi, endingya malah ada butuhnya), dan hanya kita yang bisa membantu atau bisa diberi gelar WSIK (Waktu Susah Ingat Kita).  Boleh bangga dong kalau kita dianggap sebagai manusia berpredikat problem solving, tetapi kalau buntutnya malah bikin repot, rasa bangga itu akan menguap.



Nah, ternyata kita harus mengenal seseorang itu dengan hati kita dan kita juga sebisa mungkin melihat hati mereka. Kita bisa melihat mereka dari gelagat, body-language, gesture, dan bahasa lisan atau tulisan lain yang mereka sampaikan. Berteman tulus atau tidak dengan kita, karena ternyata, orang lama yang hadir kembali itu, tidak selalu membawa efek positif, tapi (menurut saya) justru bisa jadi membawa dampak yang membuat kita dilema.

Kamis, 31 Mei 2012

Tunggu saja!

Katanya, kalau kedutan di mata sebelah kanan, tandanya kamu akan bahagia. Sebaliknya, kalau sebelah kiri, konon katanya akan terjadi sesuatu yang menyedihkan. Ada juga yang bilang -atau bahkan ditulis dalam beberapa buku (kitab) ramal-meramal- bahwa, kalau telapak tangan kanan terasa gatal tanpa sebab, kamu akan mendapat rezeki. Sebaliknya lagi, kalau telapak tangan kiri terasa gatal -juga tanpa sebab-, kamu akan kehilangan atau mengeluarkan sejumlah uang.

Itu semua, kalau boleh aku sebut -dan memang ini sebutannya- adalah MITOS. Benar atau tidaknya, ada yang bilang kalau itu semua tergantung kita. Kalau kita percaya, ya bakal terjadi. Kalau cuek, ya kita gak bakal kerasa juga.


Mitos, artinya -berdasarkan yang saya temukan di salah satu web- adalah cerita suatu bangsa tentang dewa dan pahlawan zaman dahulu, mengandung penafsiran tentang asal-usul semesta alam, manusia, dan bangsa tsb mengandung arti mendalam yg diungkapkan dng cara gaib. Nah, kalau dicermati, lebih menjurus pada kegiatan yang bersifat mistis kan??? :)

Tapi, obrolan -lebih tepatnya mencari pendapat- saya dengan salah satu teman menemukan bahwa mitos bisa terjadi -atau lebih tepatnya dipercaya- karena ada pembuktian sesuatu dari nenek moyang yang berkaitan dengan beberapa hal terhadap efek yang ditimbulkan. Maksudnya, para leluhur sudah mengamati, merasakan, dan menyimpulkan selama berpuluh-puluh tahun yang pada akhirnya bisa diceritakan, dijadikan petuah, dan sebagai nasihat kepada generasi berikutnya.

Nah, apakah temans juga pernah mengalami kejadian aneh yang dikaitkan dengan mitos? Jangan yang terlalu ekstrim, sekedar kedutan atau telapak tangan gatal saja, sedikit banyak temans juga pernah berfikir untuk mencari tahu arti dari "gejala" itu kan?

Tetapi pada intinya, boleh percaya atau gak tentang mitos, semua tergantung dari individu. Kan kita gak mungkin kalau nungguin jodoh atau mau ujian skripsi atau mau interview kerja harus nunggu kedutan atau telapak gatal dulu? Kalau sampai beberapa hari tidak kedutan atau tidak gatal, apakah kita akan menaruh per -pegas- dan kita gatalkan sendiri???

Semua sudah diatur oleh Sang Sutradara, Penguasa alam raya, Tuhan Yang Maha Esa. Jadi sabar, TUNGGU SAJA! Rezeki dan jodoh akan datang untuk kita -dengan syarat, harus berusaha, berdoa, dan bersyukur-.
:)

Selasa, 03 April 2012

PRAS YANG INI, BEDA!

Temans, mungkin kalian pernah punya teman, saudara, kerabat, tetangga atau bahkan pacar bernama Pras. Saya juga punya! Tapi Pras yang saya miliki ini sudah barang tentu berbeda dengan milik kalian. Sama manusianya, tapi beda rasanya. Tidak terkecuali untuk orang tua atau saudara dari Pras saya ini. Rasa yang saya miliki lain dari lainnya.
Saya biasa memanggilnya “Yank, Yah, Pi, atau Beb”. Iya, semua sebutan sayang, karena dia pacar saya yang sudah hampir 6 (enam) tahun menemani saya. Pras saya ini adalah teman kuliah, teman berbagi, teman berantem, teman ngobrol, teman makan, teman kencan –sudah pasti-, teman jalan-jalan, dan Pras saya ini melengkapi kriteria teman yang saya inginkan, kecuali untuk teman selingkuh, karena dia merupakan manusia yang paling benci dengan selingkuh –apa pun itu bentuknya!-.


Berikut akan saya jelaskan tentang apa dan bagaimana bentuk Pras saya itu:
  1. Membenci selingkuh! Anda hanya diberi satu kesempatan saja untuk memperbaiki kesalahan jika Anda terbukti pernah menghianatinya. Tidak ada kesempatan kedua, ketiga, atau ke- ke- selanjutnya. Pada akhirnya ini kesempatan terakhir saya. Baiklah yank,,,,!!!!
  2. Pras saya ini wangi, dan saya sangat suka dengan cowok wangi-kriteria pertama saya dalam menentukan cowok oke atau tidak-. Pras saya ini sampai mengkonsumsi 3 parfum dalam setiap episode hidupnya. Embrance -produk dari Oriflame-, Bask atau Gatsby, dan parfum bibitan. Sudah barang tentu itu dipakai secara bergantian melihat sikon atau acara tertentu.
  3. Santai dan menurut saya malah terkesan “lemot”, sehingga kami sering bertengkar gara-gara hal ini. Tetapi Pras saya selalu beralasan, “gak usah grusah-grusuh Yank, ntar malah kejedhok. Santai aja, dipikir mateng-mateng segala dampak dan resikonya. Ntar kalo ada apa-apa dengan Mama –oh ya, nama panggilan saya Mama-, Ayah sing disalahno!”. Kalau sudah begini, saya hanya merengut! Tapi baiklah, saya yang meledak-ledak, Pras saya yang let it flow & softly. Kami saling melengkapi bukan?
  4. Cuek! Bahkan sangking cueknya, Pras saya tidak terlalu peka kalau saya ingin dimanja atau ingin dirayu. Saya harus berusaha sekuat tenaga menarik perhatiannya. Tapi hal ini berlaku sesekali saja dalam kehidupan kami, yang pada akhirnya saya harus pasrah saja memiliki pacar yang tidak bisa merayu. Cuek yang dimiliki Pras saya adalah dia tidak terlalu ambil pusing dengan masalah orang dan lingkungan sekitar, selama   tidak bersinggungan langsung dengan dia. “Males Ma ngurusi orang lain!”, itu katanya kalau saya geregetan dengan sikapnya yang dingin.
5. Romantis. Terlihat kontradiksi dengan pasal 4. Tetapi jangan salah tafsir dulu! Pras saya selalu berusaha untuk membahagiakan saya. Setiap tanggal 7, kita selalu memperingati hari jadian. Saling mengingatkan atau bahkan saling bertukar kado. Bukan barang mahal yang kita tukar. Semua barang bermanfaat. Entah itu kaos kaki, kosmetik, rokok, atau apa pun. Pernah saya dikado kaktus dengan 7 cabang daunnya pada saat kita 7 bulan jadian dan pernah juga dikado sebatang coklat yang isinya 11 ruas, menandakan 11 bulan hubungan kami. Romantis bukan? Karena kita menilai romantis tidak harus membacakan puisi, menggombal –karena Pras saya tidak bisa menggombal-, atau hal lain yang bersifat alay bin lebay. Romantis versi kami adalah saling mengingatkan dan menghargai.

6. Sebenarnya banyak hal lain yang dimiliki Pras saya. Tidak semua bisa secara gamblang diceritakan. Hal-hal sepele yang istimewa dan menjengkelkan dari hubungan kami juga ada. Tetapi semuanya bersifat rahasia ya! Cukup saya dan Pras saya yang tahu.

Namun tahukan Anda temans, kami punya perjanjian atau bisa disebut kesepakatan, yaitu:
1. Tidak boleh bertengkar di hadapan orang lain, apa pun bentuknya. Kami harus bersikap biasa saja di depan khalayak, walaupun pada saat kami berdua saja akan terjadi perang paregreg.
*sukses kami lakukan
2. Tidak boleh saling misuhi bin mengumpati pasangan. Jadi selama hampir 6 tahun bersama, kami selalu berusaha menahan ucapan kotor terhadap pasangan.
*sukses kami lakukan
3. Kami akan kabur a.k.a kawin lari kalau kami tidak direstui!!! Anarkis dan dramatis.
*Alhamdulilah semua setuju, semoga kita lanjut nikah. Amin.
Demikian yang dapat saya ungkapkan tentang Pras saya, yang sampai saat ini dan semoga seterusnya masih menjadi milik saya. Amin.
Terlepas dari itu semua, saya sayang dan butuh kepada Pras saya karena kita sudah memiliki “kesepakatan” untuk terus bersama. InsyaAllah.
Begitu bangganya saya terhadap Pras saya karena mau berjuang sekuat tenaga untuk membahagiakan Bapak, Ibuk, keluarga besar, dan saya tentunya.
Semoga Pras saya selalu diberi kekuatan dan kesehatan untuk dapat terus berjuang mempertahankan hidup. Ingat Yank, hukum rimba dan seleksi alam masih terus berlangsung

Sebenarnya Apa Yang Dicari?

Setelah sekian lama saya tidak menulis -karena tidak ada ide-, sekarang sudah saatnya saya menulis lagi -karena ada ide-! :)
Tadi malam saya menghabiskan sekian menit waktu saya untuk ngobrol dengan mantan Adik Kos dan beberapa anak kos lainnya. Kami bercerita banyak hal, tetapi yang paling banyak kami obrolkan adalah seputar pernikahan -hal yang menarik, tetapi begitu sensitif untuk dibicarakan-.
Setelah bercerita kesana kemari, inti dari obrolan kami adalah bahwa saya dan Adik Kos saya sedang merencanakan menuju jenjang yang "sensitif" itu. Banyak kesamaan kami, diantaranya prosesi yang harus dilewati, cerita yang akan kami lakoni dikemudian hari, dan kesadaran kami bahwasanya kami adalah perempuan yang "biasa" saja.
Iya, perempuan "biasa" ini menjadi topik yang menggelitik. Kami adalah perempuan yang pada dasarnya tidak TERLALU memiliki kelebihan. Kami adalah perempuan yang tidak tinggi langsing, tidak putih, tidak bahenol, tidak berambut panjang -rebonding-, tidak dan tidak lainnya. Ibarat kami sedang jalan dikeramaian pun, kami bukanlah tipikal perempuan yang akan jadi pusat perhatian.
Tapi dibalik itu semua, kami juga bersyukur karena ternyata ada orang yang masih bisa menerima kami apa adanya. Iya, "calon" kami ternyata adalah manusia yang tidak melihat kami dari sisi kebahenolan saja. Tetapi menurut mereka, kami adalah tipe perempuan yang bisa "ada" untuk mereka.
Mereka juga sebenarnya sama dengan kami. Mereka adalah sosok pria yang BIASA saja. Bukan tipikal pria tinggi-kekar, bukan pria berbaju parlente, bukan anak band yang biasanya digandrungi gadis-gadis, bukan pria bermobil, bukan dan bukan lainnya Tetapi mereka istimewa karena menerima kami apa adanya dan kami juga istimewa karena menerima mereka apa adanya -dengan kesederhanaan dan bentuk tanggung jawab mereka-.

Iya, sebenarnya apa sih yang dicari dalam sebuah hubungan? Fisik dan materi? Popularitas dan prestise? Atau mungkin ada unsur keterpaksaan?
Setelah kami berdiskusi, bercerita, dan guyon, akhirnya kami memutuskan untuk menetapkan hati bahwa apa yang kami cari bukanlah sesuatu yang neko-neko. Kami hanya mencari keSEJAHTERAan diri! Sejahtera menurut definisi kami adalah keseimbangan dari dua sisi. Seimbang antara kami dan mereka secara fisik, secara naluri, jasmani dan rohani, jiwa dan raga, dan semoga seimbang dari sisi duniawi sampai nanti di akhirat.
Kami dan mereka memang biasa saja, berarti kami dan mereka harus tahu diri, sadar diri, dan yang pasti harus pandai mengoreksi diri. Tidak perlu begitu banyak pengakuan dan -mungkin- terlalu eksis, karena memang kami biasa saja. Biar saja apa kata orang, yang jelas menurut kami, bahagia -hanya satu sisi saja- tidak bisa disebut sejahtera! Orang lain mau berkata apa, tidak jadi masalah, dan kami tidak terlalu mau ambil pusing, karena kami yang tahu dan kami yang menjalani!

Minggu, 19 Februari 2012

Cowok matre? Ke laut aje!

Di mana malu mu
Setiap kali
Ku ajak berkencan aku yang bayar
Di mana malu mu
Tak sesuai
Dengan wajah itu tak ada uang
Kalau begini terus
Ku takkan tahan
Bisa-bisa kau kuras aku
Percuma
Punya kekasih kamu

Temans, masih ingatkah salah satu lagu dari Teh Melly yang jadi Original Soundtrack film AADC? yang melegenda itu? Untuk penggemar berat film itu seperti saya, apalagi yang memiliki kasetnya, pasti tahu! Lirik tersebut menceritakan kalau si cewek sudah jengah dan merasa si cowok tidak tahu diri karena suka morotin si cewek (padahal di film itu, tidak ada adegan kalau Nicholas Saputra tidak tahu diri. Terbukti, kacang rebus saja masih tetap jadi kewajibannya kok, walau harganya tidak seberapa).

Nah, bagaimana kalau itu terjadi di kehidupan kita? Artinya kita punya cowok yang tidak tahu diri. Apa yang harus kita lakukan sebagai kaum perempuan yang notabene bernaluri matre?

Tulisan saya kali ini merupakan pembalasan dari tulisan saya sebelumnya (lihat judul: Cewek Matre? Iya dong!). Kalau sebelumnya kita (baca: perempuan) jadi tersangka karena berjiwa matre dan suka morotin cowok, sekarang kita yang jadi korban. Mempunyai cowok yang tiap kencan selalu kita yang bayar, beliin bajunya, makannya, pulsanya, parfumnya, dan segala sesuatu yang bisa menunjang aktivitasnya biar kelihatan oke! Kalau sekali waktu atau event tertentu, mungkin masih bisa dimaklumi. Tapi kalau kerjaan cowok kita cuma nongkrong, ng-game, online, tidur, dan kegiatan gak penting lainnya, bisa gondok juga lama-lama ngeliatnya.

Kita juga harus jujur pada diri sendiri, pada saat cowok kita bilang cinta, sayang, gak akan ninggal, bakal setia, dan segala jurus rayuan menebar mautnya keluar, kita pasti lupa kalau kita diporotin dan akan tetap merasa bahwa dia memang terbaik buat kita. Nah, lo! Kita masih melek atau enggak seh? Bingung kan?

Oke, sekarang kita harus buka mata-buka telinga, untuk tahu beberapa ciri-ciri cowok matre (apakah cowok kita ber-ciri seperti itu juga?), check this out:
1. Awalnya tidak pelit
Tipe pria matre ini awalnya memang tergolong royal. Pada awalnya dia menghujani Anda kiriman bunga, cokelat, dan benda-benda unik. Tentunya, Anda bisa luluh pada godaan pria romantis itu.


Pria jenis ini pintar melakukan berbagai cara untuk menaklukkan wanita. Sifat matre-nya baru akan kelihatan kalau wanita yang diincar sudah berhasil didapat.

2. Penampilan gaya
Sebagai wanita, sebaiknya mengenal baik pria seperti apa yang sedang mendekati Anda. Jangan mudah tertarik pada penampilan saja, sebab biasanya pria matre itu penampilannya bergaya. Untuk mengenalinya juga bisa dilihat dari cara dia memilih teman dan pasangan. Coba perhatikan, siapa-siapa saja temannya atau mantan-mantannya. Apakah selama ini ia hanya bergaul dengan kalangan jetset saja atau tidak.


3. Banyak alasan pada saat mau membayar sesuatu
Pria matre biasanya enggan mengeluarkan uang dari kocek sendiri untuk keperluan pasangannya. Dan, kondisi semacam ini berlangsung terus-menerus. Ciri lainnya, mereka terlalu berhitung alias pelit, tapi bisa royal untuk kesenangannya sendiri. Mereka juga tidak punya rasa sungkan untuk meminta sesuatu dari sang kekasih.
(http://terselubung.blogspot.com/2011/02/ciri-ciri-cowok-matre.html)


Berarti, kita juga harus berusaha meresapi lagu dari Gita Gutawa yang kurang lebih seperti ini liriknya:
petir membangunkanku
dari mimpi burukku
selama ini ku hanya terperangkap
dalam medan magnetmu
baru kusadari
kau seperti parasit
minta ini itu
kau minta padaku dengan semaumu
cukup sudah ku kini mulai gerah
ku perlu oksigen
untuk aku bernafas
tanpamu
reff:
pergi kau ke ujung dunia
dehidrasi di gurun sahara
hilang di segitiga bermuda
pergi kau ke luar angkasa
hipotermia di kutub utara
hilang di samudra antartika
dan jangan kembali
parasit parasit parasit (parasit)
kau memang parasit
parasit parasit parasit parasit
mulanya malu-malu
lalu jadi benalu
minta ini itu
kau minta padaku dengan semaumu
cukup sudah
ku mulai naik darah
ku seperti bom atom
yang siap meledak karenamu
repeat reff
parasit parasit parasit
kau memang parasit
minta dibayarin
minta ditraktirin
minta dianggarin
minta dijemputin
minta ditelponin
minta di sms-in
minta dibeliin
dasar kau parasit ah…

Intinya, cowok matre? Ke laut aje!