Jumat, 10 Januari 2014

Baby Blues ???



Ternyata Ada Sisa Ketakutan
Hay… saya kembali datang dengan membawa perkembangan terbaru tentang si Coy! Memasuki usia tiga bulan, dia sedang asyik-asyiknya bermain ludah sembari menautkan jemarinya. Disemburnya ludah sampai membuat gelembung yang memenuhi bibir atasnya. Maklum, bibir atasnya seksi. Hehehe…
Sebelumnya, ada kejutan lain. Di usia dua bulan, Coy sudah sudah ingin miring membalik tubuhnya. Sayang bokong dan kakinya belum mendukung gerakan kepala dan badan yang hampir sembilan puluh derajat.
Beberapa hari terakhir, Coy sering –maaf- buang air besar. Tiap buang angin, selalu ada ampas yang ikut keluar. Bikin khawatir saya dan suami. Kami berinisiatif kalau sampai BAB lebih dari tiga atau empat kali, akan dibuatkan parutan daun jambu. Ternyata sampai dua hari yang lalu, terus saja keluar ampas dan akhirnya menjelang malam kami minumi air parutan daun jambu ditambah gula sedikit. Alhamdulillah sampai tengah malam agak baikkan. Tapi….besoknyaaa….si Coy seharian tidak BAB!!! Khawatirlah kita. Sepasang orang tua muda yang belum mengerti apa-apa mencoba mencari solusi demi kebaikan putranya. Tapi akhirnya malah membuat anak kami tidak BAB seharian. Ah..kacau!
Itu sekedar alternatif kami dalam menjalani sebuah perjalanan keluarga kecil disamping kami juga harus berbagi peran dalam berbagai hal. Mulai ganti popok, pasang gurita, pilih baju dan kaos kaki, sampai bagaimana caranya mengatur waktu kapan saya masak, kapan kami makan, bilamana kami bergantian mandi, siapa yang menata kasur, apa yang kami lakukan saat dia nangis ngantuk, siapa yang buatin susu saat dia nangis lapar, kamar mana yang akan kami tempati untuk tidur nanti malam dan sebagainya.
Pernak-pernik yang kami alami tidak serta merta sampai disini. Sebelumnya, saat si Coy masih bayi merah banyak kebelumsiapan yang kami alami, terutama saya. Saya belum siap begadang, belum siap punya badan melar, belum siap bangun malam, belum siap kalau dia nangis, belum siap cepat-cepat mandi-karena saya mandinya lama sekali, belum siap makan terburu-buru, belum siap cekatan untuk gantiin popok, belum siap untuk seret pegangin saat Coy mandi, dan belum siap endesbre-endesbre lainnya.
Tapi itulah, dari belum siap akhirnya kami belajar untuk siap bahkan siaga. Jadi sebelum ada kejadian yang berkaitan dengan segala hal tentang si Coy, kami sudah jaga-jaga. Tapi sebenarnya kami masih takut kalau apa yang kami lakukan itu salah. Kami takut kalau solusi yang kami jalani ternyata keliru. Kami takut kalau alternatif yang kami berikan ternyata tidak benar. Kami takut kalau yang kami suguhkan ternyata berdampak buruk bagi si Coy nanti. Kami takut kalau kami tidak bisa menjadi orang tua yang baik. Kami takut ini, takut itu, takut sana, takut sini, dan takut lainnya.
Inilah kami, orang tua baru yang tengah menikmati setiap tahap perkembangan si Coy-walau kami harus meninggalkan dia bersama Budhe selama kami bekerja- tapi minimal kami selalu berusaha ada untuk si Coy. Semoga perjuangan kami ini membawa manfaat untuk si Coy kedepannya. Mungkin beberapa pasangan muda pernah mengalami atau tengah menjalani segala kebelumsiapan yang berkaitan dengan si kecil. Tapi yakinlah, kalau kita melakukan dengan hati, si kecil juga akan merasakan energi positif dari kita. Selamat berusaha untuk menjadi orang tua yang kompak, serempak, dan bahagia bersama si kecil.

Rabu, 19 September 2012

Setelah,Setelah,dan Setelah!

Ini adalah cerita tentang seorang teman :
Aku gak iso lak putus karo dhek’e. Aku wes janji bakal setia, padahal wong tuwoku yo ra setuju. Aku asline ora oleh restu lho!”
Ini pertemuan saya dengan teman lama. Saya dengan cermat mendengarkan ceritanya dengan heran. Mengapa saya heran? Karena mereka pacaran sudah cukup lama dan saya tahu sekali perbedaan mereka. Tetapi kenapa baru sekarang sadar? Itu saja yang membuat saya mengerutkan kening.
Trus, kamu bakal lanjut?” tanya saya kala itu.
*
“Aku wes putus. Doakan aku, semoga dapat yg lebih baik!Tengs, Fuk…!”
Bunyi sms yang saya terima dari teman saya. Lega! Itu yang saya rasakan. Karena saya tahu, begitu tersiksanya teman saya itu saat terjadi konflik bathin dan harus bersikap wajar di depan khalayak.
*
Opo sek ono arek sing gelem karo aku yo?” tanyanya pas kita ketemu lagi.
Yo ono lah!” Saya dengan cueknya menjawab.
Tapi koen ngerti kan Fuk, aku iki koyok piye?”
“Ngerti."
Aku gak yakin iso bahagia koyok liyane!”
“Berdoa ae, pasti oleh kok!Tuhan selalu memberikan yang terbaik, Santai ae fuk!”  Saya mengakhiri pembicaraan edisi curhat kita kala itu.
*
Curhat galau masih terus berlangsung pada saat dia dekat (lagi) dengan beberapa orang, yang nyatanya berujung pada keadaan yang bikin nyesek buat dia. Saya ikut prihatin tapi terus mencoba membuat dia keep fight. Artinya, saya tidak mau membuat teman saya itu merasa menjadi orang yang paling sial di dunia. Walau saya tidak bisa memberikan solusi, minimal saya ada untuk mendengarkan dia.
Setelah lama tidak bertemu, saya dapat kabar kalau dia sudah menemukan tambatan hati yang cocok dan pas buat dia. Alhamdulillah! Lega lagi rasanya! Saya ikut merasakan bagaimana teman saya itu sedang masa terkenyong-kenyong dengan keadaanya saat ini! Proud of you darl…!
**

Memang benar, apa yang akan terjadi besok, nanti, satu jam lagi, satu menit kemudian, dan satu detik setelah ini, tidak akan ada yang tahu. Masa lalu adalah sejarah, dan lagi-lagi itu benar. Kata banyak orang (dan ini termasuk wejangan yang kita terima dalam kepercayaan dan keyakinan apa pun), bahwa hidup, rezeki, jodoh, dan mati itu adalah urusan Tuhan dan kita tidak pernah tahu.
Seperti yang dirasakan teman saya itu (dan mungkin sebagian besar orang). Saat bicara tentang hidup, dia sudah melalui proses sedemikian rupa. Melalui proses wajar, normal, dan apa adanya sama seperti lainnya. Pada saat berbicara tentang rezeki, dia (dan kita semua) patut bersyukur kepada Tuhan karena memang dia sudah melalui tahap yang cukup dan harus disyukuri. Bicara tentang jodoh dan mati, dia (dan kita) memang harus memasrahkan diri dengan segala kerendahan hati kepadaNya.

Temans, teman saya ini adalah seseorang yang hebat dan luar biasa dalam menyikapi hidup. Pernah terjatuh, terguling, merangkak, bangkit, terbentur, putus asa, ingin mati, mati, dan mati saja. Tapi dia luar biasa temans!
Setelah ditempa dengan segala permasalahan pelik, ditipu oleh segala bentuk pria, menjajaki beberapa karakter lelaki, berjibaku dengan segala konflik dan sempat tidak percaya dengan kaum adam, akhirnya sekarang dia bangkit!

Perjalanan panjang yang dia lalui dan cukup menyita banyak waktu dengan percuma, menaruh kepercayaan pada sebuah hubungan yang tidak jelas alur dan endingnya, mencoba bertahan dengan keadaan yang membohongi diri sendiri, dan berusaha menampakkan keadaan sewajar mungkin, ternyata tidak berlangsung lama dan mengharuskan dia untuk kembali ke bumi, menginjak tanah. Dia bisa buktikan itu!
Setelah, setelah, dan setelah melalui berbagai tahap, proses, dan alur yang luar biasa, sekarang dia sudah menemukan sosok yang bisa membawa dia tetap berada di bumi. Tidak lagi mengawang, melayang, atau terbang. Semua wajar!
Teman yang istimewa, semoga ini pilihan terakhir dan kamu akan bisa memulai, melalui, dan mengakhiri (?) segala proses ini dengan sewajar-wajarnya!


Tulisan ini saya dedikasikan untuk teman (teman-teman) yang sudah menemukan Mr. Right-nya!:)

Rabu, 08 Agustus 2012

Kang Mas Tuxedo Bertopeng featuring Sailor Mercury KW Abal-abal


Kang Mas Tuxedo Bertopeng featuring Sailor Mercury KW Abal-abal

Apa jadinya kalau kita terpesona pada orang yang tidak pernah kita tahu bentuk wajahnya? Tapi dia udah buat kita jadi susah tidur, gregetan pengen cepet malem dan pengen denger suaranya lagi, salting sendiri pas hape bergetar dan berharap dia yang telepon atau sms, semua lagu seolah mewakili perasaan dan penyanyinya seakan memang sengaja menyanyikan  lagu cinta khusus untuk kita, dan beberapa bentuk ketidakberesan tingkah laku orang pada saat jatuh cinta –no, just terpesona!- lainnya.

Kalau kamu belum pernah merasakan hal itu, mari aku bagikan rasa membuncah kasmaran terpesona terkenyong-kenyong itu pada kalian. Karena aku sudah -sedang- merasakannya!

Berawal dari situs jejaring sosial, facebook, kita ketemu karena ternyata dia adalah saudara dari teman kantorku. Padahal, dia juga dulunya kuliah di tempat yang sama tapi beda jurusan dengan aku. Wisuda juga pada periode yang sama. Tapi anehnya, selama dia menghabiskan waktu kurang lebih lima tahun kuliah, kita tidak pernah sekalipun bertemu.

Bahkan parahnya, dia juga sering main ke kantor sekedar jemput atau nganter temenku ngantor! Aneh bukan? Memang aneh, seaneh perasaanku sekarang. Jatuh cinta (yeeahh! Simpati deh rasanya ciinn!) untuk kesekian kali, salahkah? Kata temanku, sah saja asal dengan orang yang sama. Tapi apa jadinya kalau jatuh cinta pada new comer? Nah, ini juga yang membuat dilema karena memang semuanya datang disaat yang tidak tepat. Terlalu terlambat memang! Karena hati kita sudah dikavling orang lain.

Tapi kadang ragu juga, apakah ini murni jatuh cinta (terpesona beibeh!) atau sekedar kagum -karena kita berdua sering dilanda penyakit galau-. :)
Terlalu cepat untuk men-judge kalau ini cinta atau sebuah rasa simpati saja? Berarti pertanyaan dan pernyataan diawal tadi perlu diralat dan diklarifikasi kebenarannya! :D

Menghabiskan tengah malam dengan candaan khas remaja -padahal umur kita sudah diambang batas menuju hari tua dan segera meninggalkan masa remaja-. Ngobrol kesana-kemari tentang banyak hal. Mulai diskusi serius tentang novel, guyon yang gak jelas ujungnya, curhat masa lampau, sampai cerita tentang masa kejayaan saat kuliah dan periode keemasan pada saat kita -ternyata- merupakan penggemar serial kartun Sailormoon.


Dia yang mengidolakan Tuxedo Bertopeng a.k.a Mamoru dan aku dengan bangganya lebih memilih menjadi Sailor Mercury a.k.a Ami Mitshuno. Pasti kalian heran, mengerutkan kening, alis, hidung, bulu mata, dsb... dan berakhir dengan pertanyaan, "kok gak milih jadi Sailormoon-nya? Kan pasangan Mamoru itu Usagi Tsukino?".

Aku kurang begitu suka dengan Usagi yang cengeng dan hanya bisa kedip-kedipin mata aja tiap ada Mamoru dan berubah menjadi tolol super duper pada saat diajak ngobrol Mamoru. Aku tidak ingin seperti itu. Aku ingin menjadi sosok dewasa yang tenang dan menghanyutkan pada saat marah seperti air -kekuatan dari sailor Mercury-.

Endingnya, aku malah suka menyebutnya sebagai Tuxedo bertopeng. Walau sebenarnya aku juga tidak pernah tahu apakah dia kerap mengenakan jubah hitam dan memakai topeng pas di kantor.

Jika dilakukan tes tingkat ke-akurat-an model perhitungan statistik macam apa pun dan bila dihitung menggunakan sempoa atau kalkulator tercanggih, hasilnya akan NOL BESAR kalau ia akan memakai jubah kebesaran Mamoru! Ho diterima Ha ditolak! Ketidakmungkinan diterima, pemakaian jubah ditolak!

Back to Tuxedo Bertopeng ala pribumi! Aku merasa nyaman ngorol apa pun dengan dia, tanpa harus menjadi orang lain yang sok jaim dan mencoba mengatur tenggorokan sedemikain rupa demi menghasilkan nada suara yang merdu! Tidak beibeh! Bukan aku banget! Begitu membahagiakan bukan kalau kita bisa menjadi our self dan bertemu dengan orang yang nyambung dengan topik yang akan kita bahas?

Aku bebas mengeluarkan suara cempreng pas teriak dan suara kodok pas serius. Sampai kadang suara menjadi bernada tidak jelas akibat timbul tenggelam, karena memang kita ngobrolnya cuma lewat telepon dan kita mau tidak mau harus tunduk pada kekuatan sinyal dan harus sesering mungkin mengubah posisi kita pas teleponan.

Capek dengan posisi telentang, aku merubahnya menjadi posisi miring. Capek miring, sekarang beralih ke duduk tegak. Bosan tegak, bantal lapis tiga dibuat sandaran. Bantal melorot, punggung kembali mengambil alih peran posisi yang lainnya -telentang lagi, miring lagi, duduk lagi, tegak lagi, dan capek –tapi asyik!-.:D Hal ini dilakukan karena hanya ingin mencapai PW -posisi wuuenak- tingkat ubun-ubun.

Back to perasaan yang aneh ini! Apakah ini selingkuh? Menurut sebuah situs yang di dalamnya juga membahas tentang 'perasaan', dikatakan bahwa -aku menangkapnya kurang lebih seperti ini- "selingkuh, tidak harus melakukan hubungan fisik. Membagi cerita yang membuat kita jadi berbunga-bunga juga merupakan tindakan perselingkuhan. Hal ini dikarenakan ada sebuah bentuk penghianatan terhadap pasangan". Hubungan fisik? Penghianatan? Wow, terdengar begitu menyeramkan pemirsa! Padahal, membagi cerita dengan orang lain dengan perasaan berbunga-bunga sebenarnya --lagi-lagi menurutku-- hal yang wajar saja. Bisa jadi pacar kita tidak terlalu ‘ngeh atau kurang paham tentang Sailormoon dsb, dll, dst kan? Jadi apa salah kalau kita membahas topik tertentu dengan orang tertentu juga? Toh, selama kita ngobro juga tidak ada kata 'cinta','sayang','beibeh',’honey’,’sweety’ atau nickname of love lainnya. Apalagi bicara tentang masa depan, next or future? Tidak sampai sejauh itu kawan!

Kita biasa saja, bahkan saling menghormati satu sama lain. Aku merasa kalau mungkin aku lebih cocok dijadikan teman dibanding pacar, apalagi dia sempat bilang, "kamu itu rame, lucu juga!". Ya memang, karena setiap kali ngobrol, aku yang mendominasi! :D Dia hanya urun atau numpang 'Ehm, owh, iya, he-eh, hehehe', atau kadang dia menyelipkan 'Huuatssiii' -tanda bersin, atau 'uhuuk grreeekk' -tanda batuk yang agak menyiksa tenggorokan, atau kadang juga ada suara 'hhhuft' -mungkin ini mendesah ya?-.

Nah, sekarang aku mau melanjutkan membayangkan wajah pacarku yang melekat di hati dan kemudian dikomparasikan dengan wajahnya yang nempel di pikiran . Bebas kan? Karena mimpi, melamun, dan membayangkan sesuatu adalah hak asasi kita, selama tidak menganggu kepentingan orang lain. Menurut kalian?

:)

Apatis

Setiap mendengar kata ‘cinta’ atau melihat ‘orang pacaran’ atau datang ke acara ‘nikahan’, secara tiba-tiba -dan lebih terkesan otomatis-, kuping terasa panas, kepala mendidih, hati terbakar, dan berakhir menjadi hangus. Gosong di sekujur tubuh kemudian menjadi kerak hitam yang membandel. Kalau kalian melihat kerak di bawah wajan atau panci, apa yang akan kalian lakukan? Pasti ingin menggosok dengan abu, sabun colek atau apa pun kan? Jika masih membandel saja, kalian pasti geregetan ingin mencongkel memakai pisau, obeng, bahkan kalau bisa pakai linggis sekalian. Aku juga sudah pernah melakukan seperti itu temans! Pernah mencoba membersihkan dengan cara yang halus, persuasif, preventif, dan segala tindakan berkonotasi positif lainnya. Selanjutnya aku juga pernah berusaha mencongkel kerak yang melekat di tubuhku sendiri menggunakan alat yang ekstrim (yang bisa memasukkanku dengan mudahnya ke penjara).

Baik, mungkin kalian akan pusing dengan keluhan-keluhan ini. Tapi ada baiknya kalau kalian dengarkan penjelasanku terlebih dahulu! Tapi aku ingin teriak dulu ya! Boleh kan? Kalian harus jawab BOLEH. Baik, satu…dua…tiga…AAARRKKKKGGGGGGHHHHH!!!! Huft, oke aku mula cerita!

Kalau kalian bicara tentang cinta, pacaran, atau pernikahan, baik…aku akan tutup kuping dengan segera! Kalian tahu, tingkat kepercayaanku terhadap tiga kata itu sudah berada pada titik terendah, nol derajat celcius –atau bahkan sudah melewati, minus!-. Kalian pasti bertanya, sebegitu bencikah aku terhadap ketiganya? Aku jawab, -untuk saat ini- IYA.
Sebelumnya, aku akan bertanya terlebih dulu pada kalian. Bagaimana perasaan kalian, jika pacarmu, kekasihmu, tunanganmu, atau calon istrimu yang berada di luar kota, ternyata membagi hati dengan orang lain? Berarti aku 50, lelaki itu juga dapat 50 kan? Impas! Tapi kalau dibagi untuk tiga orang? Masing-masing mendapatkan 1/3 bagian. Jatah tiap orang semakin sedikit. Berarti porsiku juga menipis. Betul kan? Kemudian aku tanya lagi, apa yang akan kalian lakukan untuk mengatasinya? Menghabisi lelaki itu, menampar pacarmu, atau tinggalkan saja semua? &^%$@#$()*/

Baik, mungkin kesalahan bukan murni dari pacarku, kekasihku, tunanganku, atau calon istriku –sehingga dia memutuskan untuk membagi hati-. Aku juga turut andil terhadap ‘ulah’ pacarku, kekasihku, tunanganku, atau calon istriku itu. Aku akui kalau kami memang jarang berbagi karena terpisah jarak. Selain itu, aku juga bukan tipe pria romantis (aku tidak bisa menulis puisi seperti Khalil Gibran, tidak pernah berlutut memberi bunga, mengatakan ‘I love u’ setiap saat, atau merayu ala Shah Rukh Khan dalam film Indianya!). Aku adalah jenis pria yang termasuk dalam komunitas pria cuek.
Tapi tolonglah pacarku, kekasihku, tunanganku, atau calon istriku, aku sebenarnya bisa menunjukkan dan membuktikan kalau hubungan kita baik-baik saja, tetapi dengan cara yang berbeda. Caranya adalah, aku tidak membagi hati ini dengan wanita lain. Tapi pacarku, kekasihku, tunanganku, atau calon istriku, ternyata kamu memiliki prinsip yang berbeda. Menurutku, kamu berprinsip “Kalau kamu cuek, jangan salahkan aku kalau aku lebih suka mencari perhatian orang lain”.


Tapi itu semua tidak perlu dibahas lagi pacarku, kekasihku, tunanganku, atau calon istriku. Sekarang kita sudah berpisah. Kamu tahu, apa yang aku lakukan setelahnya? Merokok berpak-pak, ternyata belum bisa mengurangi stress ini. Aku coba yang sedikit lebih berat. Aku habiskan berbotol-botol minuman keras, dari mulai harga yang sedikit mahal, standar, sampai oplosan (yang ternyata rasanya seperti rendaman bangkai, cuuih!). Cara ini ternyata belum sepenuhnya ampuh. Selanjutnya aku memilih untuk menghabiskan waktuku  berteman dengan beberapa pil, obat, serbuk, dan jarum suntik. Aku juga kerap menyimpan beberapa helai daun di dompet. Takut sewaktu-waktu kalau lagi butuh!

Coba kalian beri solusi, pantaskah kalau mengalihkan rasa stress dengan hal seperti itu? Pasti kalian akan serempak menjawab TIDAK. Iya kan? Menurut kalian aku harus lari kemana? Pasti kalian juga serempak –lagi- akan menjawab TUHAN. Iya kan?

Wah,,,jangan bicara tentang Tuhan! Aku takut –eh, lebih tepatnya malu-. Aku belum pernah mencoba dekat dengan-Nya. Coba kalian pikir, bagaimana mungkin kalau aku mendekati Dia, pada saat aku lagi stress? Doa apa yang harus aku rapalkan? Menjalankan lima waktu saja nol. Seminggu sekali beribadah, kalau ingat dan sempat. Setahun sekali pun, kebetulan menghormati lingkungan sekitar pas lebaran. Nah, betapa menjijikkannya aku, kalau aku dengan PD-nya menghadap Dia saat keadaan kacau begini. Aku malu!

Sampai suatu saat aku mencoba bangkit. Kata anak gaul zaman sekarang move on –eh, bener kan tulisannya?-. Tapi aku pakai Bahasa Indonesia saja, pakai bahasa asing malah berantakan jadinya, hehe. Baik, aku lanjutkan! Aku mencoba berpacaran lagi, setelah terpuruk. Nah, tahukan kalian, pacarku yang sekarang BERJILBAB! Bayangain men, preman dapat muslimah! Namanya juga rezeki, iya kan? Setelah berjalan beberapa waktu, endingnya putus lagi! Orang tuanya kagak setuju men! Ya jelaslah, anaknya beriman, malah dapat cowok bedigasan!

Karena banyak teman yang kasihan melihat aku yang semakin amburadul, mereka berlomba-lomba mencarikan tambatan hati yang baru buat aku. Mulai mempromosikan adiknya, saudaranya, sepupunya, adik tingkatnya, tetangganya, teman sekolahnya, teman kantornya sampai ada yang nawarin mantan pacarnya! Busyet! Mereka melakukan ini semua, pastinya telah memastikan bahwa keadaanku sudah pulih dan steril dari minuman keras, obat-obatan, serta barang haram lainnya. Alhamdulillah, aku sudah mulai ingat Tuhan dan dengan rasa malu yang mendaging menyumsum pada saat menghadapNya!

Sekarang temans, aku hanya minta doa dari kalian. Biarkan aku memilih untuk sendiri dulu. Karena menurutku, untuk saat ini, hal itu merupakan pilihan yang terbaik. Sebelum aku berkarat kemudian membusuk, biarkan aku menikmati masa jombloku! Terimakasih temans, kalian sudah meluangkan waktu mendengar curhatanku! Memang terkesan alay bin lebay, tapi preman juga manusia kan? :)

*Tulisan ini saya dedikasikan kepada teman saya yang Apatis
Phy

Kamis, 21 Juni 2012

Mengenal "dia" dari hati

Saya menulis ini, beberapa saat setelah saya menerima kabar/sms dari teman lama. Orang yang kadang tidak pernah terpikir sebelumnya akan datang kembali, sekarang muncul lagi. Ternyata, orang yang pernah menjadi teman atau yang mewarnai hidup kita, tidak akan lepas atau hilang begitu saja ya? Saya baru sadar setelah beberapa kali sharing dengan teman kantor saya, Umy Masita. Dia juga kadang-kadang bercerita tentang teman masa lalunya yang sekarang muncul lagi, bukan membawa kenangan, justru yang ada malah membawa masalah baru.

Ada yang minta dibantuin CLBK dengan teman SMAnya dulu lah, ada yang ternyata mantan teman kantornya ternyata berselingkuh dengan suami teman SMAnya lah, ada yang menjadikan warungnya sebagai tempat kencan teman lama lah, bahkan dia sering sekali disamperin oleh manusia pengganggu masa lalunya. Tapi, saya menanggapi dan menyarankan bahwa apa pun yang "mereka" lakukan, kita harus biasa saja. Dalam artian, mereka datang dengan berbagai masalah dan kita tidak layak untuk turut andil masuk dalam masalah itu. Namun dilema juga, dibantu malah dosa, gak dibantu ya ada embel-embel "temen". Susah kan?

Orang lama yang datang kembali ke kita, menurut saya ada 2 hal yang mempengaruhi. Pertama, dalam keadaan suka/bahagia mereka tanya kabar ke kita karena kangen ke kita. Hal ini wajar, apalagi sudah lama tidak bertemu atau bisa kita beri gelar TLBK (Teman Lama Bersemi Kembali). Kedua, dalam keadaan ruwet/kacau/balau/duka/nelangsa mereka datang karena merasa ada perlu (Awalnya basa-basi, endingya malah ada butuhnya), dan hanya kita yang bisa membantu atau bisa diberi gelar WSIK (Waktu Susah Ingat Kita).  Boleh bangga dong kalau kita dianggap sebagai manusia berpredikat problem solving, tetapi kalau buntutnya malah bikin repot, rasa bangga itu akan menguap.



Nah, ternyata kita harus mengenal seseorang itu dengan hati kita dan kita juga sebisa mungkin melihat hati mereka. Kita bisa melihat mereka dari gelagat, body-language, gesture, dan bahasa lisan atau tulisan lain yang mereka sampaikan. Berteman tulus atau tidak dengan kita, karena ternyata, orang lama yang hadir kembali itu, tidak selalu membawa efek positif, tapi (menurut saya) justru bisa jadi membawa dampak yang membuat kita dilema.

Kamis, 31 Mei 2012

Tunggu saja!

Katanya, kalau kedutan di mata sebelah kanan, tandanya kamu akan bahagia. Sebaliknya, kalau sebelah kiri, konon katanya akan terjadi sesuatu yang menyedihkan. Ada juga yang bilang -atau bahkan ditulis dalam beberapa buku (kitab) ramal-meramal- bahwa, kalau telapak tangan kanan terasa gatal tanpa sebab, kamu akan mendapat rezeki. Sebaliknya lagi, kalau telapak tangan kiri terasa gatal -juga tanpa sebab-, kamu akan kehilangan atau mengeluarkan sejumlah uang.

Itu semua, kalau boleh aku sebut -dan memang ini sebutannya- adalah MITOS. Benar atau tidaknya, ada yang bilang kalau itu semua tergantung kita. Kalau kita percaya, ya bakal terjadi. Kalau cuek, ya kita gak bakal kerasa juga.


Mitos, artinya -berdasarkan yang saya temukan di salah satu web- adalah cerita suatu bangsa tentang dewa dan pahlawan zaman dahulu, mengandung penafsiran tentang asal-usul semesta alam, manusia, dan bangsa tsb mengandung arti mendalam yg diungkapkan dng cara gaib. Nah, kalau dicermati, lebih menjurus pada kegiatan yang bersifat mistis kan??? :)

Tapi, obrolan -lebih tepatnya mencari pendapat- saya dengan salah satu teman menemukan bahwa mitos bisa terjadi -atau lebih tepatnya dipercaya- karena ada pembuktian sesuatu dari nenek moyang yang berkaitan dengan beberapa hal terhadap efek yang ditimbulkan. Maksudnya, para leluhur sudah mengamati, merasakan, dan menyimpulkan selama berpuluh-puluh tahun yang pada akhirnya bisa diceritakan, dijadikan petuah, dan sebagai nasihat kepada generasi berikutnya.

Nah, apakah temans juga pernah mengalami kejadian aneh yang dikaitkan dengan mitos? Jangan yang terlalu ekstrim, sekedar kedutan atau telapak tangan gatal saja, sedikit banyak temans juga pernah berfikir untuk mencari tahu arti dari "gejala" itu kan?

Tetapi pada intinya, boleh percaya atau gak tentang mitos, semua tergantung dari individu. Kan kita gak mungkin kalau nungguin jodoh atau mau ujian skripsi atau mau interview kerja harus nunggu kedutan atau telapak gatal dulu? Kalau sampai beberapa hari tidak kedutan atau tidak gatal, apakah kita akan menaruh per -pegas- dan kita gatalkan sendiri???

Semua sudah diatur oleh Sang Sutradara, Penguasa alam raya, Tuhan Yang Maha Esa. Jadi sabar, TUNGGU SAJA! Rezeki dan jodoh akan datang untuk kita -dengan syarat, harus berusaha, berdoa, dan bersyukur-.
:)

Selasa, 03 April 2012

PRAS YANG INI, BEDA!

Temans, mungkin kalian pernah punya teman, saudara, kerabat, tetangga atau bahkan pacar bernama Pras. Saya juga punya! Tapi Pras yang saya miliki ini sudah barang tentu berbeda dengan milik kalian. Sama manusianya, tapi beda rasanya. Tidak terkecuali untuk orang tua atau saudara dari Pras saya ini. Rasa yang saya miliki lain dari lainnya.
Saya biasa memanggilnya “Yank, Yah, Pi, atau Beb”. Iya, semua sebutan sayang, karena dia pacar saya yang sudah hampir 6 (enam) tahun menemani saya. Pras saya ini adalah teman kuliah, teman berbagi, teman berantem, teman ngobrol, teman makan, teman kencan –sudah pasti-, teman jalan-jalan, dan Pras saya ini melengkapi kriteria teman yang saya inginkan, kecuali untuk teman selingkuh, karena dia merupakan manusia yang paling benci dengan selingkuh –apa pun itu bentuknya!-.


Berikut akan saya jelaskan tentang apa dan bagaimana bentuk Pras saya itu:
  1. Membenci selingkuh! Anda hanya diberi satu kesempatan saja untuk memperbaiki kesalahan jika Anda terbukti pernah menghianatinya. Tidak ada kesempatan kedua, ketiga, atau ke- ke- selanjutnya. Pada akhirnya ini kesempatan terakhir saya. Baiklah yank,,,,!!!!
  2. Pras saya ini wangi, dan saya sangat suka dengan cowok wangi-kriteria pertama saya dalam menentukan cowok oke atau tidak-. Pras saya ini sampai mengkonsumsi 3 parfum dalam setiap episode hidupnya. Embrance -produk dari Oriflame-, Bask atau Gatsby, dan parfum bibitan. Sudah barang tentu itu dipakai secara bergantian melihat sikon atau acara tertentu.
  3. Santai dan menurut saya malah terkesan “lemot”, sehingga kami sering bertengkar gara-gara hal ini. Tetapi Pras saya selalu beralasan, “gak usah grusah-grusuh Yank, ntar malah kejedhok. Santai aja, dipikir mateng-mateng segala dampak dan resikonya. Ntar kalo ada apa-apa dengan Mama –oh ya, nama panggilan saya Mama-, Ayah sing disalahno!”. Kalau sudah begini, saya hanya merengut! Tapi baiklah, saya yang meledak-ledak, Pras saya yang let it flow & softly. Kami saling melengkapi bukan?
  4. Cuek! Bahkan sangking cueknya, Pras saya tidak terlalu peka kalau saya ingin dimanja atau ingin dirayu. Saya harus berusaha sekuat tenaga menarik perhatiannya. Tapi hal ini berlaku sesekali saja dalam kehidupan kami, yang pada akhirnya saya harus pasrah saja memiliki pacar yang tidak bisa merayu. Cuek yang dimiliki Pras saya adalah dia tidak terlalu ambil pusing dengan masalah orang dan lingkungan sekitar, selama   tidak bersinggungan langsung dengan dia. “Males Ma ngurusi orang lain!”, itu katanya kalau saya geregetan dengan sikapnya yang dingin.
5. Romantis. Terlihat kontradiksi dengan pasal 4. Tetapi jangan salah tafsir dulu! Pras saya selalu berusaha untuk membahagiakan saya. Setiap tanggal 7, kita selalu memperingati hari jadian. Saling mengingatkan atau bahkan saling bertukar kado. Bukan barang mahal yang kita tukar. Semua barang bermanfaat. Entah itu kaos kaki, kosmetik, rokok, atau apa pun. Pernah saya dikado kaktus dengan 7 cabang daunnya pada saat kita 7 bulan jadian dan pernah juga dikado sebatang coklat yang isinya 11 ruas, menandakan 11 bulan hubungan kami. Romantis bukan? Karena kita menilai romantis tidak harus membacakan puisi, menggombal –karena Pras saya tidak bisa menggombal-, atau hal lain yang bersifat alay bin lebay. Romantis versi kami adalah saling mengingatkan dan menghargai.

6. Sebenarnya banyak hal lain yang dimiliki Pras saya. Tidak semua bisa secara gamblang diceritakan. Hal-hal sepele yang istimewa dan menjengkelkan dari hubungan kami juga ada. Tetapi semuanya bersifat rahasia ya! Cukup saya dan Pras saya yang tahu.

Namun tahukan Anda temans, kami punya perjanjian atau bisa disebut kesepakatan, yaitu:
1. Tidak boleh bertengkar di hadapan orang lain, apa pun bentuknya. Kami harus bersikap biasa saja di depan khalayak, walaupun pada saat kami berdua saja akan terjadi perang paregreg.
*sukses kami lakukan
2. Tidak boleh saling misuhi bin mengumpati pasangan. Jadi selama hampir 6 tahun bersama, kami selalu berusaha menahan ucapan kotor terhadap pasangan.
*sukses kami lakukan
3. Kami akan kabur a.k.a kawin lari kalau kami tidak direstui!!! Anarkis dan dramatis.
*Alhamdulilah semua setuju, semoga kita lanjut nikah. Amin.
Demikian yang dapat saya ungkapkan tentang Pras saya, yang sampai saat ini dan semoga seterusnya masih menjadi milik saya. Amin.
Terlepas dari itu semua, saya sayang dan butuh kepada Pras saya karena kita sudah memiliki “kesepakatan” untuk terus bersama. InsyaAllah.
Begitu bangganya saya terhadap Pras saya karena mau berjuang sekuat tenaga untuk membahagiakan Bapak, Ibuk, keluarga besar, dan saya tentunya.
Semoga Pras saya selalu diberi kekuatan dan kesehatan untuk dapat terus berjuang mempertahankan hidup. Ingat Yank, hukum rimba dan seleksi alam masih terus berlangsung