Kamis, 12 September 2024

Percaya Pertolongan Allah itu Dekat dan Terbaik!

Ini bukan tentang keluh kesah, meskipun sudah hampir putus harapan. Ini bukan tentang kekecewaan yang mendalam kepada Tuhan meskipun menangis semalam. Ini semacam curahan hati atau bisa dikatakan agar plong sesak di dada dan sebagai bahan refleksi bahwa ada kekuatan Semesta di dalamnya.

                                                                              (dok. pribadi)

Tahun ini sungguh luar biasa. Gusti Allah memberikan begitu banyak nikmat. Berkumpul bersama keluarga dan setelahnya harus kembali berjibaku di kehidupan nyata. Sejak Juni 2024, begitu banyak kejutan sehingga kepala dan hati sudah tidak bisa lagi membedakan mana kehidupan mana harapan. 

Tidak perlu dipungkiri jika beberapa bantuan datang dari beberapa sudut dan harus disyukuri atas nikmatNya. Namun seiring berjalannya waktu, ternyata ledakan-ledakan terus saja membuat deg-degan. Nyawa saling menyambung dan bertautan agar tetap bertahan.

Mungkin cerita ini tidak seberapa dibanding dengan begitu banyak masalah di luar sana. Banyak sekali kegagalan, musibah, kekecewaan, dan problematika kehidupan yang jauh lebih dahsyat. 

Menjelang akhir tahun yang dirasa terus ugal-ugalan, sampai ingin menyerah saja, nyatanya Gusti Allah masih memberi kesempatan dan secercah harapan. Sampai pada akhirnya, refleksi tiap malam dilakukan, dibolak-balik lagi pikiran, dikuatkan lagi hati untuk tetap bertahan.

Gusti Allah tentu akan menghadirkan pelangi setelah berbagai usaha duniawi dilalui -yang berakhir gagal, Pemirsa-. 

Percaya bahwa akan datang pertolonganNya dan itu sangat dekat, entah kapan akan tiba. Jalur langitan tentu saja dirapalkan dan itulah harapan yang sesungguhnya.

Percaya saja bahwa Gusti Allah akan memberi terang dan nikmat setelah badai dan gelap terus merundung diri. Percaya pasti Gusti Allah akan mengulurkan tanganNya untuk segera memberi senyum yang sempat hilang. Percaya saja Gusti Allah akan menggantikan kesedihan dengan kebahagiaan berlipat ganda. Menggantikan yang hilang dengan kepenuhan kekayaan yang berkah.

Percaya saja bahwa semua akan terlewati dengan baik. Percaya saja bahwa setelah ini akan datang kabar baik. Dalam Surah Al Baqarah ayat 216 menegaskan bahwa Gusti Allah Maha Mengetahui yang terbaik.


Al-Baqarah · Ayat 216

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَࣖ ۝٢١٦kutiba ‘alaikumul-qitâlu wa huwa kur-hul lakum, wa ‘asâ an takrahû syai'aw wa huwa khairul lakum, wa ‘asâ an tuḫibbû syai'aw wa huwa syarrul lakum, wallâhu ya‘lamu wa antum lâ ta‘lamûnDiwajibkan atasmu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.
Selain diuji dengan kemiskinan dan kemelaratan, orang-orang beriman juga akan diuji dengan diminta mengorbankan jiwa mereka melalui kewajiban perang. Diwajibkan atas kamu berperang melawan orang-orang kafir yang memerangi kamu, padahal berperang itu tidak menyenangkan bagimu, sebab ia mengor-bankan harta benda dan jiwa. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, yakni boleh jadi kamu tidak menyukai peperangan, padahal itu baik bagimu karena kamu mendapat kemenangan atas orang-orang kafir atau masuk surga jika terbunuh atau kalah dalam peperangan, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui apa yang baik bagimu, sedang kamu tidak mengetahui. Karena itu, tunaikanlah perintah Allah yang pasti akan membawa kebaikan bagimu.https://quran.nu.or.id/al-baqarah/216

Salam sehat dan dipenuhi kelimpahan rahmat serta hidayahNya.

#Allahbaik #Allahterus #Allahpenolong #AlBaqarah

Minggu, 18 Februari 2024

Tentang Hari Ini


 

Tentang Hari Ini

Oleh: Vika Varia Matovana

Saat ini sedang dalam mode: bosan membaca dan malas menulis. Padahal kalian sudah tahu jika segala kebutuhanku, sebut saja: makan, minum, baju, rokok, party,  jalan-jalan, arisan, dan hal sepele lainnya seperti ganti keset dan handuk mandi, diperoleh dari uang hasil ketik-mengetik, undangan diskusi, atau paling kerennya diundang sebagai dosen tamu di sebuah universitas. Belum lagi untuk masalah bensin, meskipun kadang juga dibayari oleh panitia-tapi itu saat ada undangan-, jika tidak, mobilku tentu saja sekarat.

Sudah kucoba untuk meditasi, bergulung di kasur, membuat susu coklat panas yang ironisnya tersisa satu sachet saja di rak dapur, dan disokong dengan kuah mengepul dari mie instan rasa soto, nyatanya tidak bisa membangkitkan gairah menuju meja kerja. Beberapa buku baru, tentunya yang tidak terlalu berat semacam karya tulis ilmiah atau jurnal dari pesohor, sudah sempat kubeli minggu lalu. Mendapatkan bacaan yang sedang pop pun bukan hal sulit. Karyawan toko buku sudah kadung akrab. Tanpa diminta, ia akan memberi kabar terbaru tentang buku apa saja yang rilis. Padahal sebenarnya itu merupakan ajang promosi. Ah, sudahlah. Kuartikan niat baiknya sebagai media untukku biar tidak terlalu ketinggalan info buku terbaru. Ada untungnya juga berakrab-akrab dengan karyawan itu.

Ting. Kubaca nama pengirim. Iwan Gramodia. Ah, panjang umur dia. Padahal baru minggu lalu ketemu.

Iwan Gramodia: Mbak, fresh nih! Kupu-Kupu Melayang karya Pita Swara, Anak Ketela Pohon karya CTT, dan Pelangi di Ujung Kulon-nya Jamal Jawil udah datang. Disimpankan gak?

Me: Ya. Trims

Iwan Gramodia: BiographyJendral Bintang Tujuh gak, Mbak?

Me: Boleh 1.

Kuhirup aroma lemon di bokor kecil, wadah kecil aromateraphy yang sengaja kuletakkan di dekat jendela terbuka. Padahal jika dipikir, uap aroma akan lebih banyak keluar kamar daripada masuk ke ruangan ber-AC-ku. Biarlah. Biar dihirup juga oleh beberapa burung yang bertengger di dahan bunga jepun sebelah kamarku.

Ting.

Iwan Gramodia: Cara Cepat Menangkap Jangkrik dan Budidaya Ulat Bulu gak sekalian, Mbak?

Me: Aku bukan petani, Wan.

Iwan Gramodia: Referensi gak apa-apa, toh!

Tak kubalas pesannya. Emang dasar Si Iwan yang selalu update. Tidak pernah kira-kira tentang buku apa saja yang ditawarkan. Ada-ada saja. Segala macam tentang hewan tak luput dari penawaran. Kulempar gawai ke kasur dan pelan-pelan membuka laptop. Mungkin saja ada ide menarik dan ada gairah untuk mulai menulis. Menulis apa saja. Bebas. Toh dompet udah tipis. Kalau satu tulisan saja besok bisa terbit, minimal minggu ini mobilku masih bisa bergerak dan isi kulkas kembali normal. Sempat nelangsa melihat isi kulkas tersisa dua butir telur dan sebiji wortel.

Ting.

Iwan Gramodia: Mbak, barusan input Autobiography penyanyi dangdut yang baru kena kasus dengan pejabat XYZ. Nulis buku juga dia.

Me: Siapa?

Iwan Gramodia: Itu loh yang lagunya Goyang Serbet. Mau gak?

Duh, apa-apaan sih Si Iwan. Kusesap susu coklat panas yang sekarang jadi dingin. Tapi tadi memang benar-benar panas. Jadi meskipun dia jadi dingin, tetap kusebut susu coklat panas. Kuletakkan cangkir bermotif batik di pinggir jendela.

Ting.

Ya Tuhan! Pasti Si Iwan juru promosi. Dasar sales!

Biola: Mau jalan gak?  

Ternyata bukan. Ah, pasti akan menghabiskan uang kalau keluar dengan Biola ini. Sukanya ngajak, tapi bayarnya sendiri-sendiri. Males. Prinsipku, kalau niat mengajak atau katakanlah sibuk woro-woro untuk nyari hiburan, ya itu tanggung jawab dia mengakomodasi segala kebutuhan. Kecuali memang tidak sengaja bertemu atau ada agenda untuk saling berbagi bill, okelah saling buka dompet. Tapi kapok juga lah, berkali-kali jalan, nyatanya parkir saja masih patungan.

Me: Sibuk banget, gak bisa diganggu. Next time kali, ya! 😊

Basa-basi yang basi. White lie. Sesekali bolehlah. Nyatanya aku memang sibuk sekali. Sibuk memutar kepala biar otak jadi encer. Entah karena apa kepala bisa jadi mampet begini. Padahal sudah seminggu berdiam diri, tidak memboroskan waktu dengan berkeliaran menghamburkan uang. Semedi seminggu memang karena sedang tipis saja sebenarnya. Tapi sebenarnya, aku juga sedang sibuk mencari inspirasi untuk menulis. Aku ingin seperti penulis-penulis lain yang ber-i’tikaf atau katakanlah berikhitiar dengan cara yang lebih tenang, tanpa ingar bingar lampu gegap gempita atau kepulan asap rokok. Oh, ya! Sudah seminggu pula rokokku utuh, hanya sedikit tersentuh. Masih tersisa tujuh batang. Tumben! Ini kejaiban, Pemirsa!

Eh, apakah aku menulis tentang rokok saja? Rasanya menarik. Kutulis dengan judul Gadis Tembakau. Wah, pasti akan populer, laris manis di pasaran, dan untung-untung jika bisa difilmkan. Jika memang benar akan difilmkan, aku mau pemainnya Dian Sosro, Itu Jamil, dan Masrio Banyu. Wah, pasti epic!

Baiklah. Akan kubuat grand desain isi ceritanya terlebih dahulu. Eh, bukan. Aku akan membuat list siapa saja yang akan kuajak bekerjasama dalam membuat film yang akan meledak di pasaran. Tentu saja meledak secara konotatif.

Kusulut sebatang rokok untuk sedikit memberi kesan bahwa aku butuh memanaskan otak sebelum digas. Kuhirup pelan asapnya, kubiarkan melewati tenggorkan menuju paru-paru. Biarkan ia menari-nari menjalar sebentar di dalam dada sebelum kembali kuembuskan melalui lubang hidung dan sengaja kubuat pola O menyembul dari bibir tipisku.

Sutradara kupilih yang mumpuni. Bolehlah antara Haning Bram Tyo atau Mira Esmana. Produser sudah pasti jatuh kepada mereka warga aca-aca. Pemain-pemain sudah lengkap. Jika ada kekurangan, misalnya figuran di beberapa scene, gampang saja itulah. Bisa dipikirkan sambil jalan.

Tuhan! Mie rasa sotoku membengkak! Saking sibuknya mereka-reka masa depan perfilman Indonesia, ia terabaikan. Sayang jika tak termakan, akhirnya kuputuskan jeda sejenak. Kutinggalkan laptop dan membawa mangkuk mie-ku yang sudah menggelembung ke meja kerja. Sesendok masuk ke mulut dan rasanya..., ya masih soto lah.

Gusti Yang Maha Agung! Rokokku juga terabaikan. Sayang sekali ia terbakar dengan percuma. Padahal jika dikalkulasi, sebungkus rokok berisi dua belas batang dengan harga tiga puluh lima ribu rupiah. Sebatang seharga Rp. 2.916,67. Ia sudah terbakar tiga per empat jalan. Mungkin sekitar Rp. 2.187,50 sudah hangus. Segera saja kumelesat untuk memanfatkan sisanya. Tanpa pikir panjang, kuisap saja tujuh ratus dua puluh sembilan koma seratus enam puluh tujuh rupiah sisanya. Ah, nikmat!

Apa itu bergerak-gerak dan berkerumun di ujung daun jendela? Ya Allah! Apa-apaan ini! Susu coklat panasku yang sudah dingin ternyata sedang dijadikan ajang pesta pora oleh semut-semut yang...biad...oh, bukan! Mereka semut-semut baik yang mungkin sedang haus.

Ting.

Iwan Gramodia: Mbak, buku penyanyi dangdutnya mau gak? Namanya Candu Bohay ternyata, Mbak. Promo dan diskon 85%. Langsung bungkus, ya!

Apalagi ini ?!!! Arrgahhh!!!!

 

 

Sabtu, 22 Juli 2023

Keriuhan Anak Jamak

 "Ini anaknya semua, Mbak?"



Sering ditanya gitu? Sering. Sering banget. Tiga bocah nginthil di belakang, jalan serempak satu tujuan. Berasa diekori setelah dua-tiga tahun lalu jadi induk Kanguru. Ya, jarak kelahiran yang terbilang cukup dekat, memberi kesan bahwa Bu Madame terlihat tua karena kuantitas anak. Tiga artinya banyak, berefek pada tiga artinya: tua. Padahal kan masih lincah, enerjik, dan beringas. Lipenstip masih merona (tanpa jelarit alis, karena tak bisa beralisan), tak lupa oleskan eyeliner hitam pekat dengan kesan ketegasan.
Dibuntuti krucil-krucil yang seperti pasukan baris-berbaris dan sering Bu Madame berseloroh bahwa kami kemana-mana harus sekompi. Tapi memang benar itu adanya. Ribet gak sih bawa pasukan?
Owh, jelas! Bu Madame gak munafik dan akan tegas bahwa bilang kalau punya anak (bahkan lebih dari 1) akan ribet dan berasa banget capeknya. Bu Madame gak akan menghianati diri sendiri dengan sok kuat dan bilang,"Gak kok, punya anak itu gak capek!" Itu sih klise dan halusinasi agar tetap terlihat slay.
Jika teman-teman mengomparasikan Mama Jen (Baca: Jennifer Bachdim)* yang tetep slay dengan keempat anaknya traveling keliling dunia dengan kita, sebenarnya Bu Madame yakin jika Mama Jen pasti ada capeknya ngurus keempat anaknya yang tanpa nanny . Tapi jelas kecapekannya tidak akan ditunjukkan di media sosial dan bentuk capeknya juga yang gak stres jadi reog. Support system di sekitar Mama Jen sangat jempolan. Sebenarnya bisa gak sih kita tetap slay kayak Mama Jen (asumsi: support system-nya belum ke jempol, tapi masih status kelingking) ?

Bisa...oh sungguh bisa. Kewarasan dengan banyak anak (asumsi status kelingking tadi, ya), berasal dari hal kecil di pikiran kita.
Gini. Di komen IG Mama Jen, ada netizen yang komen 'Kenapa ya kok bawa anak banyak gitu, anaknya bisa anteng semua. Sedangkan yang bawa satu aja, berasa jagain anak sepuluh'. Kurang lebih seperti itu. Tapi beneran loh...Saat masih anak satu, capeknya kayak nguli. Pas anak tiga, kok malah santuy.
Begini ceritanya, Pemirsa! Hahahaha.
Saat anak masih satu, tanpa kita sadari semua energi dikeluarkan. Heboh belikan mainan baru, ngajak ke tempat wisata, agenda jalan-jalan yang rutin, endesbre endesbre endesbre. Oleh karena ulah kita sendiri yang ingin memberikan pengalaman spesial pada anak pertama, energi kita terkuras di masa pertumbuhannya. Tapi bukankah itu baik? Jelas baik dan gak ada ruginya. Anak ceria, kita juga bahagia, bukan?
Gimana pas anak kedua? Nah..., kali ini kita main doktrin. Saat tahu hamil, Bu Madame terus-menerus sounding ke Kakak bahwa:
1. Akan ada adik yang akan jadi teman main.
2. Kalau adik sudah lahir, Mami sayangnya ke Kakak naik 100%.
Begitu terus sampai Si Adik lahir. Hal ini dilakukan agar tidak ada kecemburuan di hati Si Kakak.
Begitu juga saat hamil anak ketiga. Diulang lagi doktrin tadi dengan ditambahkan: Kalau Adik sudah lahir, Mami sayangnya ke Kakak naik jadi 200%, sayang ke Mas naik 100%.
Plus ada kalimat mutiara:
~Kalau Kakak bantuin adik, Mami kok jadi tambah sayang, ya!
~Kalau Mas baik ke adik, Mami kok jadi tambah cinta, ya!
Doktrin seperti itu terus berlanjut selama perjalanan tumbuh kembang mereka sampai saat ini.
Kapan waktu mendoktrin? Menjelang tidur, bangun tidur, saat makan bersama, saat berkendara, atau saat santuy berleha-leha.
Nah, begitu juga saat jalan-jalan. Pegang tangannya, bisikkan bahwa kadar cinta dan sayang kita akan naik berpersen-persen lagi. Jadi perlahan mereka akan menempatkan diri memoles kasih sayang dan gak ribet mbarong.
Sudah bisa dibayangkan kan kalau Kakak tempo hari nyeletuk,"Mi, nanti akan ada anak keempat, ya?" HAH!!!!
NB: Perihal support system yang sebesar kelingking, sudah pernah Bu Madame bahas di yucub, ya. Hihihi
*Tengkyu Mama Jen yang sangat inspiratif. Laf